Yolanda sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Bersama dengan Bastian yang dengan sigap membantu gadis itu menurunkan semua barang belanjaannya.
"Makasih udah mau nganterin dan nemenin gue," ucap Yolanda pelan.
Raut wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan. Bastian mengelap keringat di dahinya.
"Santai, kita 'kan teman," balas Bastian.
"Siapa yang temenan sama siapa?" seru sebuah suara dari belakang.
Rupanya itu adalah Davin yang sudah terlihat sedikit lebih sehat daripada sebelumnya.
"Ngapain turun?" tanya Yolanda.
"Mana obat gue?" tanya Davin balik.
Alamak! Yolanda lupa tidak membeli obat yang Davin minta.
"Bentar gue lupa. Ini belanjaannya lo bawa masuk, gue beliin kedepan sebentar," perintah Yolanda buru-buru hendak masuk.
"Terus ni anak?" tanya Davin menunjuk ke arah Bastian yang masih berdiri di tepian mobilnya.
"Lo balik aja, makasih ya," balas Yolanda.
"Biar gue aja yang beli. Cuma ke depan 'kan?" tanya Bastian menawarkan bantuan.
"Nah sabi tuh. Sana ke depan beliin Paracetamol satu," perintah Davin memotong kalimat kakaknya.
"Lo—
"Tunggu sebentar ya," potong Bastian cepat-cepat berjalan ke jalan raya.
Davin dihadiahi tatapan tajam yang terarah dari netra kakaknya.
"Dia yang nawarin diri, gue nggak salah," bela Davin sambil membawa barang belanjaannya masuk.
Yolanda masih ngedumel di belakang Davin. Mamanya menyambut kedatangan anak perempuannya dan menyuruh Yolanda untuk segera bersih-bersih.
"Nanti kalo ada cowok tinggi terus ganteng mau masuk, suruh masuk aja dulu Ma. Itu temennya Yolan," pekik Davin sebelum akhirnya ngacir ke lantai atas.
Yolanda mendengus sebal. Moodnya semakin hancur kala ia bertemu Davin. Selalu saja seperti itu. Sebelum mandi, Yolanda mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi apapun. Apakah Septa benar-benar sibuk? Apakah dirinya tidak menjadi prioritas utama laki-laki itu? Apakah Septa sudah memiliki penggantinya? Dan berbagai pertanyaan mulai terngiang di kepala.
"Bodoamat dah," decak Yolanda langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit, Yolanda keluar dengan kaos oblong dan celana pendek selutut. Jangan lupakan rambut setengah basah miliknya. Yolanda hendak duduk di kursi rias sebelum akhirnya—
Tok tok tok
"Yolanda, ada temen kamu di bawah nak," panggil mamanya dari luar.
Sudah dapat dipastikan kalau itu adalah Bastian. Dengan setengah hati, Yolanda keluar kamar dan hendak menemui laki-laki itu.
Bastian sudah terduduk sopan di sofa rumah Yolanda. Laki-laki itu hanya bisa menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal. Canggung mulai menyergap di sekitarnya.
"Nama lo siapa?" tanya Davin basa-basi. Ia menyajikan secangkir teh hangat untuk Bastian.
"Bastian. Thanks buat minumnya," balas Bastian menerima cangkir tadi.
"Gue Davin adiknya Yolanda, satu kelas di bawah lo. Kok ko bisa balik sama dia?" tanya Davin seolah sedang menginterogasi tawanannya.
"Papasan aja, katanya dia mau mampir belanja jadi sekalian," sahut Bastian lempeng.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
