Setelah selesai makan malam, Septa benar-benar langsung pergi. Diantar gadisnya sampai gerbang depan.
"Anterin dia sampe rumah. Jangan asal diturunin pinggir jalan," pesan Yolanda dengan nada datarnya.
"Santai aja. Gini-gini bang Septa 'kan calon ipar gue," balas Davin sambil memakai helmnya.
"Gue balik. Besok mau berangkat bareng?" tawar Septa sambil menatap ke arah Yolanda dalam.
"Besok Sabtu. Lo mau berangkat ke sekolah sendirian?" tanya Yolanda nyaris melepaskan tawanya.
"Lah emang iya?" gumam Septa tak percaya kalau besok sudah masuk weekend.
"Iya. Udah sana balik, yang penting udah pamit sama mama papa," ujar Yolanda ke arah keduanya.
"Yaudah see you besok ya, sayangnya aku," pamit Septa mengelus pucuk rambut Yolanda.
Davin berdecih kecil melihat adegan romantis di depannya. Meraka semakin memperjelas status Davin yang saat ini masih jomblo.
"Udah belum? Keburu gue kebelet boker ini dah," tegur Davin dengan nada yang tak senang.
"Masuk sana. Gue takut banget nanti diturunin tengah jalan sama si Davin," gurau Septa menyuruh Yolanda masuk.
Yolanda menurut. Ia masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua anak Adam itu yang bertatapan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Naik bang. Gue keburu pengen tiduran," ajak Davin dengan gestur tukang ojek.
"Pelan aja tapi. Nggak usah ngebut-ngebut lo," balas Septa sambil naik ke boncengan motor.
"Santai aja. Gue juga masih pengen hidup lebih lama kali," timpal Davin menyalakan motor.
Keduanya terdiam dalam perjalanan pulang. Septa merasa kehabisan energi. Seharian bersama Yolanda mampu menyedot semua tenaga yang ia miliki.
"Bang," panggil Davin saat motornya terhenti di lampu merah.
"Apa?" balas Septa sedikit mencondongkan badannya.
"Lo bener-bener sayang sama Yolanda?" tanya anak itu.
"Kenapa?" tanya Septa balik.
Davin berdecak sebal.
"Ya kalo lo cuma mau main-main aja, gue peringatin dari sekarang sih. Gitu-gitu, dia satu-satunya sodara gue," terang Davin menyelipkan sebuah ancaman.
"Gue sayang sama Yolanda. Tapi gue juga nggak bisa janji kedepannya bakal gimana," balas Septa apa adanya.
Lampu berubah menjadi hijau. Davin menarik kembali tuas gas dan memposisikan motornya di samping kiri jalan.
"Kalo lo nggak serius, jangan kasih harapan yang besar ke dia. Gue nggak mau Yolanda patah hati lagi gara-gara cowok," ujar Davin memelankan laju motornya.
Septa terdiam. Sejatinya ia belum siap sepenuhnya untuk menjalin kasih dengan Yolanda. Apalagi, gadis itu dan keluarganya belum tahu kehidupan Septa yang sebenarnya. Bagaimana dan darimana asal muasal kehadiran Septa.
"Masuk gang sini 'kan yak?" tanya Davin sambil membelokkan motornya.
Keduanya sampai di halaman depan rumah Septa. Davin turut serta turun dari motor. Septa sepertinya belum mau masuk ke dalam setelah melihat gelagat tak biasa dari Davin.
"Lo mau ngapain?" tanya Septa langsung pada tujuannya.
"Lo nggak mau nawarin gue masuk? Ya ngopi atau apa gitu," sahut Davin tak tahu diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
