Motor mereka sudah sampai di depan supermarket ternama di kota ini. Yolanda mengerutkan kening saat melihat tempat yang mereka datangi malam ini.
"Kok kesini?" tanya Yolanda masih kebingungan.
"Udah ayo," ajak Septa menggenggam jemari Yolanda agar gadis itu bisa merasakan hangat.
Yolanda menurut. Gadis itu berjalan mengikuti langkah kaki Septa menuju tempat bahan-bahan dapur untuk risol Septa berada.
"Lo mau ngajak gue bikin risol? Risol date gitu?" tanya Yolanda sungkan.
"Enggak. Cuma beli bahan-bahannya aja," balas Septa santai.
Tangan anak laki-laki itu meraih sebuah troli besar untuk berbelanja. Yolanda masih mengekor di belakang laki-laki itu. Sadar kalau sang kekasih tidak di sampingnya, Septa mengedarkan pandangannya.
"Lo ngapain disitu?" tegur Septa saat melihat Yolanda yang justru asyik berdiri diam di depan kotak es krim.
"Pengen, cuma nanti keburu lumer," balas Yolanda sengau.
"Nanti ya, gue beliin banyak. Sekarang, mending beli yang kita butuhin dulu," ajak Septa menggenggam jemari Yolanda.
Gadis itu menurut. Walaupun pandangannya masih terarah ke kotak es krim, Septa dapat dengan cepat mampu mengarahkan Yolanda untuk berbelanja kebutuhannya sendiri.
"Ambil aja apapun yang lo mau," ujar Septa dengan satu tangan yang memegang dorongan troli.
"Ah enggak deh, buat lo aja," tolak Yolanda yang tak mau dicap matre.
"Gue nggak lagi ngetes atau bakal ngira lo matre kok. Gue nyuruh lo ambil yang lo mau, itu karena gue pengen jajanin lo, Yolanda," terang Septa tak mau membuat Yolanda salah paham.
Gadis itu menunduk. Ia paling tidak bisa kalau disuruh belanja pakai yang orang lain, kecuali Sela.
"Gapapa, ambil aja. Gue yang nyuruh ini," pinta Septa sambil mendorong pelan bahu kekasihnya.
Mau tak mau, Yolanda menuruti kemauan Septa. Gadis itu mengambil beberapa snack kesukaannya dengan sesekali melirik barcode harga.
"Ambil aja, ngga usah lirik-lirik begitu," tegur Septa lagi.
Yolanda tersenyum canggung lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak tahu diri. Tangannya mulai kalap mengambil segala macam jajanan dan kebutuhan dirinya yang lain. Mulai dari sampo, sabun sampai printilan tidak jelas kesukaannya. Septa masih mengekor dengan troli yang ia dorong pelan.
"Masih ada lagi nggak?" tanya Septa saat melihat Yolanda sedang menunjuk sembari menghitung barang-barang yang sudah ia ambil.
"Emm udah deh. Ayo belanja bahan-bahan buat risol," ajak Yolanda menyengir lebar.
Septa terkekeh pelan. Tak urung, ia tetap mengikuti langkah kecil Yolanda. Gadis itu ikut membantu Septa mengambil bahan-bahan dapur yang sekiranya kekasihnya butuhkan. Mulai dari tepung terigu sampai garam, Yolanda berlarian membawa barang yang Septa butuhkan.
"Jangan lari-lari, sayang," tegur Septa saat Yolanda meletakkan barang bawaannya.
Yolanda blushing. Pipinya merona merah saat mendengar kata sayang keluar dari mulut Septa. Laki-laki itu mencubit pipi Yolanda gemas karena reaksi yang gadis itu berikan.
"Masih ada lagi?" tanya Yolanda berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah, lo nggak ada tambahan lagi?" tanya Septa balik.
Yolanda menggeleng tegas. Akhirnya, mereka berdua berjalan bersama menuju kasir. Antrian cukup panjang, Yolanda tidak suka hal ini.
"Sana duduk di depan, biar gue yang antri," ujar Septa yang sadar kalau Yolanda tidak suka antre dan berdiri terlalu lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Fiksi RemajaYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
