19. Daddy's Home

523 137 1
                                        

"Jadi gimana?" tanya Yolanda membuka pembicaraan.

Mereka berdua sudah asyik mulai menggulung risoles. Yolanda yang memang sudah penasaran sekali, ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Septa mengenai mbak Tari.

"Segitu penasarannya?" tanya Septa balik. Jemarinya sudah asyik berjibaku dengan tepung roti.

"Makanya gue nanya, penasaran banget gue," balas Yolanda tak mau kalah.

Akhirnya Septa menghentikan gerakan tangannya. Nafasnya berhembus pelan.

"Mbak Tari itu menikah waktu gue masih SMP kelas 2. Lebih tepatnya mau naik ke kelas 3. Suaminya baik, lumayan berada juga. Perbedaan usia mereka berdua nggak terlalu jauh, tapi mbak Tari emang nikah waktu dia masih 20 tahunan. Sebenarnya nggak terlalu muda, tetapi mereka married by accident," jelas Septa dengan dua jari yang membuat tanda petik.

Yolanda mengangguk mengerti. Ia sudah sering mendengar kasus seperti itu.

"Sayangnya, anak yang ada di kandungan mbak Tari meninggal dunia tepat beberapa hari setelah mereka melangsungkan pernikahan. Awalnya suami mbak Tari biasa aja, ia menganggap kalau memang ini takdir. Tapi, tidak dengan mertuanya mbak Tari. Beliau menganggap mbak Tari hanya beban bagi keluarganya. Apa yang bisa diharapkan dari gadis yang belum sempat kuliah dan bekerja lebih lama? Akhirnya mbak Tari nganggur di rumah. Selang beberapa tahun, mereka belum juga dikaruniai anak. Suaminya mbak Tari mulai menunjukkan gelagat aneh. Dia mulai suka mukul mbak Tari kalo pulang kerja makan malamnya bukan yang enak-enak," terang Septa nyerocos.

Tangannya masih sibuk membaluri kulit risoles dengan tepung roti. Sedangkan Yolanda, ia ikut menggulung risoles sambil mendengarkan cerita Septa dengan penuh saksama.

"Intinya begitu. Akhirnya mulai ketahuan deh kalau suaminya mbak Tari suka KDRT. Sempet lapor, tapi dia bisa lolos dengan banyak cara. Alhasil, mbak Tari yang udah muak, dia memilih untuk bercerai. Kayaknya sih tadi mbak Tari kesini mau nganter surat cerai mereka," lanjut Septa seraya menatap mata Yolanda dengan penuh arti.

Yolanda membulatkan bibir. Dirinya merasa sedikit bersalah karena menanyakan privasi seseorang. Tapi Septa dengan santai menceritakannya begitu saja.

"Mana risol yang udah digulung?" tanya Septa saat mendapati kotakan di hadapannya sudah kosong.

Saking asyiknya mendengarkan cerita Septa, Yolanda sampai melupakan tugasnya. Dengan cepat gadis itu mulai menggulung kulit risoles yang diisi dengan smoke beef dan sosis serta mayonaise secukupnya. Hanya butuh hitungan detik, Yolanda sudah memberikan gulungan itu.

"Hehe sorry, keasyikan dengerin cerita lo soalnya," cengir Yolanda langsung melanjutkan kegiatannya.

Septa hanya bisa ikut tersenyum kecil. Gadis di sampingnya sangat membantunya saat ini. Mereka bisa memenuhi satu kotak risoles hanya dengan waktu 30 menit. Biasanya Septa membutuhkan waktu lebih saat membuatnya sendirian.

Waktu demi waktu mulai berjalan. Mereka berdua asyik membuat risoles sambil ngobrol kesana-kemari tidak jelas. Septa mulai bisa tertawa lepas bak tidak punya tekanan. Yolanda juga mulai dapat mengontrol emosinya yang biasanya gampang meledak-ledak.

Tak terasa waktu semakin sore. Yolanda merenggangkan otot tubuhnya. Mereka membutuhkan waktu satu jam lebih untuk membuat tiga buah kotak risoles.

"Buset! Lo bikin banyak amat?" tanya Yolanda yang baru sadar bahwa di depannya ada tiga kotak risoles ukuran besar yang berjejer.

"Sekalian buat tiga hari ke depan," sahut Septa sambil mengangkat kedua kotak tadi.

Yolanda mengikuti gerakan Septa. Jemari lentiknya mengambil satu kotak risoles sisanya dan langsung dimasukkan ke freezer seperti apa yang Septa lakukan.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang