36. Best Friend

390 178 2
                                        

Mobil ganteng mereka sudah terparkir di pinggir jalan dekat tempat penjual es dawet yang Yolanda maksud. Keduanya turun dengan gaya kerennya saat melihat banyak pasang mata menatap ke arah mereka.

"Gue ngerasa kayak crazy rich anjir", ucap Yolanda masih dengan senyuman lebar di wajahnya.

"Yeah, gue juga ngerasa jadi cici-cici chindo", balas Sela tak kalah ngaco.

Yolanda memimpin jalan. Gadis itu masuk terlebih dahulu ke tempat penjual es dawet yang sedang mereka inginkan. Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengaduk adonan gula merah cair di sebuah toples besar.

"Ibu mau esnya dua sama tempe mendoannya empat ya", pesan Yolanda sambil tersenyum ramah.

"Maem rene ta nduk?", tanya si ibu tadi.

"Iya bu. Lesehan mawon nggih", sahut Yolanda sambil membayar pesanannya.

Mereka berjalan menuju tempat lesehan. Ada banyak orang-orang yang sedang sekedar makan cemilan atau makan siang disini. Ada anak kecil yang sedang asyik berlarian, ada juga sepasang kakek-nenek yang terlihat sudah renta.

"Saking enaknya sampe seramai ini, Lan?", tanya Sela saat mereka sudah duduk manis di meja dekat kipas angin.

"Iya. Ini es dawet asli Banjarnegara, salah satu daerah di Jawa Tengah. Katanya, ibu-ibu tadi udah jualan dari jaman masih gadis", balas Yolanda sambil mengelap wajahnya dengan tisu.

Sela membulatkan bibir. Keduanya menunggu pesanan mereka dengan khidmat.

"Eh tapi lo 'kan mau pakai gaun wedding. Serius mau makan makanan yang bikin melar?", tanya Yolanda yang pikirannya tak bisa jauh-jauh dari wedding day Sela yang tinggal menghitung hari.

"Gue yang nikah, kenapa malah lo yang kebanyakan over thinking?", balas Sela tertawa getir.

"Gue nggak mau hidup lo kaya di neraka, Sela", timpal Yolanda serius.

Sela menatap temannya. Tersirat wajah penyesalan di wajah ciut Sela.

"Mau gimana lagi? Gue 'kan cuma anak angkat yang bisa berbalas budi sama mereka yang mau angkat gue", ucap Septa getir.

Yolanda merasa iba dengan ucapan yang Sela utarakan. Gadis itu menggeser sedikit tempat duduknya.

"Yaelah, gitu-gitu naiknya juga BMW, saldonya unlimited. Lah gue? Boro-boro ada BMW, naik motor butut aja udah bersyukur gue mah", timpal Yolanda berusaha membuat Sela terhibur.

Usaha gadis itu berhasil. Sela sedikit tertawa dengan ceria. Tepat saat keduanya saling adu tawa, pesanan mereka sampai. Dengan mata yang penuh binar bahagia, Yolanda menyomot mendoan terlebih dahulu.

"Santai aja kali, nggak bakal gue minta juga", tegur Sela masih dengan tawa kecilnya.

"Mendoan tuh paling enak lagi panas-panas gini. Kalo udah dingin, duh udah nggak enak pokoknya", balas Yolanda beralasan.

Sela menyeruput es dawetnya. Dawet khas Banjarnegara ini disajikan dengan gelas bonusan teh yang cukup besar. Rasa manis dari gula merah tercecap di ujung lidah gadis itu. Pupil matanya membesar, tanda kalau minuman ini benar-benar lezat.

"Segini berapa cuy harganya?", tanya Sela sambil mengaduk esnya.

"Sepuluh ribu", balas Yolanda sambil melebarkan semua jari tangannya.

Sela melompong. Ia tak percaya dengan harga yang Yolanda sebutkan.

"SUMPAH?", pekik Sela nyaring.

Yolanda buru-buru membungkam mulut gadis itu sebelum banyak tatapan mata yang tertuju kepada mereka.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang