52. Life After Breakup

351 157 5
                                        

Sepulang sekolah, Yolanda menemani Davin latihan basket. Ia juga ingin menetapi kalimatnya tadi pagi untuk mengajak adiknya jajan. Sorak-sorai bergemuruh kala adiknya mencetak poin.

"Emang suka narsis tuh anak," dengus Yolanda mulai bosan.

Setelah mengakhiri semua hubungannya dengan Septa, Yolanda juga menghapus nomor dan segala jejak sosial media antara dirinya dan laki-laki itu. Yolanda hanya ingin benar-benar tenang saat ini dan seterusnya.

"Nggak ada yang namanya putus baik-baik. Tapi, gue nggak mau terlalu mengasihani diri sendiri," ujar Yolanda sambil menghapus semua kenangan yang ada di ponselnya.

Bukan hal yang mudah, tapi Yolanda yakin kalau ia bisa.

"Woi! Diem-diem bae," tegur Davin yang ternyata sudah selesai bermain basket. Tangannya meraih handuk kecil untuk mengelap keringat yang menempel di tubuhnya.

"Lo beneran putus sama dia?" tanya Davin tatkala melirik sedikit ke layar ponselnya Yolanda.

"Hmm," dehem Yolanda pelan.

"Bagus deh, ngapain juga pacaran sama cowok modelan kaya dia. Sekali selingkuh, ke belakang bakal susah. Selingkuh itu nggak ada obatnya kecuali mati," timpal Davin sedikit panjang.

"Dari awal, lo emang nggak suka sama dia?" tanya Yolanda penasaran.

"Enggak juga. Awalnya gue ngira bisa jadiin dia besti. Tapi ternyata sama brengseknya kaya mantan lo sebelumnya," balas Davin sambil meneguk air di botolnya.

"Bohong kalo gue bilang gue gapapa. Gue pengen ke pantai, Vin," ujar Yolanda tiba-tiba.

"Tiba-tiba banget?" timpal Davin heran.

"Lo mau nemenin gue 'kan?" tanya Yolanda sendu.

"HAYUK AJA GUE MAH! GAS!" teriak Davin semangat.

Davin harus menghibur kakaknya. Walaupun sebenarnya ia musuh bebuyutan dengan Yolanda, tapi kalau ada laki-laki lain yang menyakiti gadis itu harus berhadapan dengan Davin.

"Bilang mama dulu," ucap Yolanda saat melihat Davin yang sudah selesai berkemas.

"Nih pakai hoodie gue. Yakali lo main pakai seragam sekolah gitu," ujar Davin seraya menyodorkan hoodienya.

Yolanda memakai hoodie hitam yang kebesaran itu. Gadis itu mengekor di belakang Davin menuju parkiran di bawah. Adiknya berpamitan dengan coach basket di sekolah mereka.

"Serius mau ke pantai?" tanya Davin memastikan.

"Iya, gue udah kangen banget sama pantai," balas Yolanda.

Keduanya sepakat untuk pergi ke pantai sore ini. Yolanda ingin memberikan obat pada luka di hatinya. Kota tempat mereka tinggal memang tidak terlalu jauh kalau mau ke pantai. Hanya sekitar 40 menitan, mereka sudah sampai di pantai. Tepat saat matahari nyaris terbenam.

"Lo udah bilang mama?" tanya Davin saat melihat Yolanda yang sudah berlarian ke tepi pantai.

"UDAH!" sahut Yolanda berteriak kencang.

Dengan bertelanjang kaki, Yolanda mendekat ke ombak yang perlahan mengecil di pinggiran pantai. Davin yang memperhatikan, diam-diam memotret kakaknya dari belakang. Yolanda masih asyik bermain air dengan sepatu ditentengnya

"Sini gue bawain," tegur Davin ke arah Yolanda.

Gadis itu tersenyum lebar. Ia memberikan sepatunya ke Davin dan langsung hanyut dengan permainan ombak didepannya.

"Jangan jauh-jauh ya! Awas tenggelam lo," peringat Davin seperti sedang mengasuh anaknya.

Yolanda hanya memberikan jempol tangannya. Diam-diam ia tersenyum getir dengan mata yang berlinang air mata. Mati-matian ia menahan tangis agar Davin tidak melihat sisi lemahnya, lagi.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang