Sepulangnya mereka berdua, mama sudah di rumah. Tetapi beliau tidak melihat luka yang ada di lutut putrinya. Semua itu berkat kemampuan Davin yang pintar ngibul. Ia beralasan kalau kakaknya lelah sehingga Yolanda memilih langsung naik ke lantai atas. Padahal mah aslinya biar nggak dimarahin.
"Nanti kalo kamu udah mandi, kak Yolan panggil suruh makan malam dulu ya", ucap Mirna sambil menyiapkan makan malam mereka.
Davin mengangguk pelan sebelum akhirnya memasuki kamar mandi untuk melakukan ritual malamnya. Sedangkan Yolanda, ia sudah berada di lantai atas dengan tubuhnya yang sudah terlentang bebas diatas kasur.
"Huft, cape banget gila," gumam Yolanda menatap langit-langit kamar.
Pikirannya kembali kesana-kemari. Ia kembali memikirkan perjodohan temannya. Walaupun Yolanda sudah tidak punya rasa untuk sang mantan, tapi bukan berarti dirinya mengizinkan Sela untuk menikah dengan Megan.
"Gue nggak habis pikir," gumamnya lagi.
Jemari lentiknya mengambil benda pipih diatas nakas. Jemarinya mengambang pelan seperti sedang mengetik sesuatu. Saat sedang asyik bermain ponsel, seseorang mengejutkan dirinya.
Brak
"Anying!" umpat Yolanda saat wajahnya kejatuhan ponsel.
Davin masuk ke kamarnya tanpa membuat suara. Melihat Yolanda yang menatap wajahnya intens, Davin langsung mengambil ancang-ancang. Antisipasi kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi padanya.
"Bisa nggak sih ketuk pintu dulu? Punya tangan juga," omel Yolanda beranjak dari tidurnya.
"Sorry, kirain lo lagi tidur. Masih sakit nggak kakinya?" tanya Davin berjalan mendekati Yolanda. Jangan lupakan gestur waspada yang tetap ia pertahankan.
"Ngapain kesini?" tanya Yolanda ketus.
Davin masih diam. Tangannya memegang lutut kanan Yolanda yang terdapat bekas luka siang tadi.
"Lo udah mandi? Mau gue ganti perbannya," ujar Davin mengeluarkan kotak obat yang ia sembunyikan di dalam bajunya.
Yolanda diam. Mendudukkan dirinya pelan di atas kasur dengan Davin yang jongkok dihadapannya. Adiknya itu sedang membersihkan kembali luka di lututnya. Sembari meniupkan udara, Davin hanya diam seraya tangannya memberikan obat tepat pada luka di lutut kakaknya. Yolanda pun hanya diam, ia agak canggung dengan perilaku Davin hari ini. Biasanya 'kan mereka berantem terus, ini adalah salah satu hari dimana ia bisa bernafas dengan tenang.
"Lo kesambet beneran ya, Vin?" tanya Yolanda lugu.
"Enggak," sahut Davin sambil memasangkan plester. Setelahnya langsung membereskan kotak obat dan berniat untuk langsung turun.
"Ayo turun, mama udah masak buat makan malam," ajak Davin mengulurkan tangannya.
Yolanda menatap ukuran tangan itu. Tangan ini adalah tangan yang sering menjahilinya. Kali ini Davin terlihat cukup gentleman.
"Tungguin gue," ucap Yolanda saat Davin melangkahkan kaki tanpa menunggu lama.
Yolanda dan Davin menuruni anak tangga dengan pelan. Jemari Davin memegangi erat pinggang Yolanda dari arah belakang. Tak mau membuat mamanya meributkan hal sepele seperti kejadian siang tadi.
"Makasih udah nggak bilang sama mama," bisik Yolanda disela-sela langkah mereka.
Davin tersenyum kecil. Ia harus meminta balasan yang setimpal untuk apa yang sudah ia lakukan hari ini.
"Udah selesai? Sini makan dulu. Mama udah bikin masakan kesukaan kalian semua," celetuk Mirna dari arah meja makan.
Yolanda menengok kesana-kemari. Dirinya tak bisa menemukan keberadaan papanya yang kemarin sore masih disini. Apakah Damar sudah berangkat tanpa berpamitan dengannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
