18. Semi Date

509 132 1
                                        

Mereka sampai dirumah Septa pukul 14.35. Waktu menunjukkan sudah cukup sore mengingat acara jalan-jalan mereka siang tadi. Yolanda membantu Septa menurunkan belanjaannya. Sementara laki-laki itu membukakan pintu rumahnya supaya Yolanda bisa masuk dengan mudah.

"Gila berat banget buset", gumam Yolanda seraya mengerahkan tenaga yang lebih.

Septa yang mendengar gumaman gadis itu, ia menggelengkan kepalanya heran. Padahal Septa sudah menawarkan bantuan beberapa menit yang lalu. Tetapi, Yolanda tetap saja ngeyel hendak membawa belanjaannya sendiri.

"Gue bilang juga apa", ujar Septa merampas belanjaan di tangan Yolanda.

Gadis itu langsung memasang wajah sebal. Sebenarnya yang ia inginkan ya ini. Kepekaan seorang laki-laki, tapi ya jangan sambil menyindir begitu.

"Dih lemes amat lo", sinis Yolanda tak mau kalah.

Yolanda mendudukkan diri di sofa usang milik Septa. Sedangkan laki-laki itu, ia sedang menurunkan belanjaannya di dapur. Yolanda yang memang gampang bosan, ia beranjak berdiri. Berjalan menghampiri Septa yang masih asyik menurunkan semua barang-barangnya.

"Asik bener, gue nggak diajak nih?", ucap Yolanda tepat di telinga kiri Septa.

Bahu Septa terjengit pelan. Saking fokusnya dia, suara bisikan Yolanda mampu mengejutkannya.

"Astaghfirullah, Yolanda! Gue kaget", tegur Septa dengan ekspresi yang tidak dibuat-buat.

"Ternyata lo kagetan juga", sahut Yolanda cuek.

Jemari gadis itu mulai membantu menurunkan semua belanjaan Septa. Ada tepung terigu, telur, susu dan banyak bahan-bahan risol lainnya. Septa juga mengambil beberapa sayuran serta lauk untuk dimakan mulai hari esok.

"Mau bikin adonan sekarang?", tanya Septa yang sudah selesai memasukkan lauk dan sayurannya ke dalam kulkas.

"Iyalah. Keburu sore ntar", balas Yolanda singkat.

Septa dengan cekatan mulai mengambil peralatan yang dibutuhkannya. Ada baskom, whisker, sendok makan dan juga teflon. Jangan lupakan bahan-bahan utama yang sudah mulai dituangkan oleh Septa.

"Lo sekali bikin kulit segini banyaknya?", seru Yolanda yang melihat Septa langsung menuangkan satu kilogram terigu begitu saja.

Septa mengangguk. Matanya masih fokus mengukur seberapa banyak bahan-bahan yang harus ia tuangkan. Setelah semua bahan sudah dimasukkan, Septa mulai menuangkan airnya sedikit demi sedikit.

"Gue dong, gue pengen ngaduk", ucap Yolanda yang langsung diiyakan.

Septa memberikan whiskernya. Saat Yolanda hendak memulai adukannya, ia dibuat terkejut akan tekanan adonan kulit risol di hadapannya. Berat, sangat berat.

"Buset, ini adonan terigu apa adonan semen buat bikin rumah tetangga", gumam Yolanda sambil tetap mengaduk adonan tadi.

Sedangkan Septa, ia mengambil satu kilo telur dan panci untuk merebusnya. Dengan cekatan, ia juga mengambil smoke beef yang biasanya Septa letakkan di dalam freezer. Yolanda yang melihat ketangkasan laki-laki itu, ia cukup salut. Ternyata Septa memang menarik sekali.

"Udah belum?", tanya Septa melongok ke arah baskom Yolanda.

"Belum, berat banget sih?", protes Yolanda masih berusaha mengaduknya.

Septa langsung membantu gadis itu. Tangannya menggenggam tangan Yolanda yang sedang memegang whisker.

"Begini, pelan-pelan aja. Kalo mau ngasih air juga sedikit dulu, jangan langsung banyak", terang Septa masih memegang tangan Yolanda yang semakin kaku.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang