49. Ketahuan

386 169 3
                                        

Kekasihnya tidak berangkat sekolah. Setidaknya fakta itu yang saat ini Yolanda ketahui. Sewaktu jam istirahat tadi, gadis itu bertandang ke kelas Septa dengan tujuan mau menemui laki-laki itu. Tapi sayang, ia tidak bisa menemui Septa yang ternyata izin hari itu juga.

"Udah gak masuk, ditelepon nggak bisa. Maunya apa sih?!" dengus Yolanda sebal.

Saat ini, Yolanda sedang menemani adiknya latihan basket. Lebih tepatnya terpaksa menemani anak itu. Bersama dengan banyaknya cewek-cewek penikmat rahim anget, Yolanda dengan ekspresi wajah yang sangat jengah harus menonton adiknya tebar pesona.

"Si anjeng! Gue malah disuruh nemenin lo," gumam Yolanda beranjak berdiri.

"Lo mau kemana?" seru sebuah suara dari samping.

Itu adalah Bastian. Laki-laki yang sedang gencar mendekati Yolanda, walaupun tahu kalau gadis itu sudah punya pacar.

"Kepo lo!" balas Yolanda jutek.

"Sini aja kali," timpal Bastian menarik lengan Yolanda untuk duduk kembali.

Nyaris saja gadis itu mengeluarkan khodamnya. Yolanda menenangkan diri sebelum mengeluarkan amarahnya.

"Lo kenapa sih? Mau nonton tinggal nonton, gue nggak mau," cerocos Yolanda dengan nada yang cukup tinggi.

Bastian terdiam. Kedua kelopak matanya bergerak pelan menatap wajah garang Yolanda. Bukannya takut atau merasa bersalah, Bastian justru tertawa kecil. Menurutnya, Yolanda terlihat sangat imut kalau sedang garang seperti ini.

"Lo lucu parah kalo lagi marah, Lan," puji Bastian yang dihadiahi delikan tajam dari Yolanda.

"Lo kira gue lagi ngelawak? Yeuu kocak!" sahut Yolanda langsung duduk kembali.

Yolanda masih sibuk membuka tutup ponselnya. Ia masih berharap ada balasan atau telepon balik dari Septa.

"Nungguin siapa sih? Keliatannya resah banget," tanya Bastian dengan pandangan yang tetap terarah ke lapangan basket.

"Bukan urusan lo," balas Yolanda singkat.

"Well, walaupun itu buka urusan lo tapi gue risih liat lo yang nggak bisa nonton dengan tenang begitu," terang Bastian yang sebenarnya hanya sedikit perhatian kepada Yolanda.

"Kalo risih, pergi aja sana," timpal Yolanda tidak sepenuhnya salah.

Bastian mengalah. Ia tidak membalas kembali perkataan Yolanda, justru menyibukkan diri untuk meneriaki Davin yang masih asyik tebar pesona.

"DAVIN! KAKAK LO JUTEK BANGET SAMA GUE!" teriak Bastian dari tribun atas.

Yolanda yang sedang asyik memandangi layar ponselnya, ia langsung mendongakkan kepala ke arah Bastian yang sudah mengambil ancang-ancang siap kabur dari terkaman Yolanda.

"BERISIK LO!" balas Yolanda berteriak kencang.

Para pemain basket yanga ada di lapangan hanya tertawa keras mendengar balasan Yolanda yang selalu tidak bisa diprediksi.

"Ya gitulah Yolanda," gumam Davin sambil memberikan isyarat untuk segera menyelesaikan pertandingan mereka.

Langit mulai mendung, siap menurunkan air hujan. Davin sudah duduk di samping kakaknya yang masih saja memandangi layar ponselnya tak bosan-bosan.

"Lo ngapain dah? Lagi mau checkout tapi nungguin diskon?" tanya Davin sedikit melirik ke arah Yolanda.

"Dih kepo amat lo," sinis Yolanda seraya menutupi layar ponselnya.

"Abis ini lo mau makan apa? Gue traktir deh," celetuk Davin santai.

Yolanda melirik sebentar ke arah Davin yang hari ini bersikap aneh padanya. Biasanya 'kan anak itu selalu membully Yolanda dan sukanya nyuruh-nyuruh kakaknya itu.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang