"Gimana? Boleh 'kan kalo saya suka sama kamu?" tanya Azka serius.
Yolanda tersedak ludahnya sendiri. Azka membantu gadis itu dengan memberikannya segelas minum. Dengan sedikit panik, Azka menepuk pelan bahu Yolanda.
"Kamu gapapa?" tanya Azka memastikan keadaan Yolanda.
Yolanda mengangguk. Meskipun harus sambil terbatuk kencang, gadis itu tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
"Maaf, saya nggak bermaksud bikin kamu keselek kayak gini," ujar Azka lagi.
Yolanda tersenyum kecil. Dokter di sampingnya ini terlihat cukup panik saat melihat ada perempuan yang terbaik cukup keras.
"Yolanda gapapa kok om. Jangan panik gitu," tegur Yolanda tersenyum tenang.
"Abisnya kamu keliatan kaya keselek sesuatu gitu. Kamu yakin kalau kamu okay?" tanya Azka lagi.
"Iya pak dokter. Yolanda baik-baik aja kok," balas Yolanda tersenyum cerah.
Terlihat perubahan wajah Azka yang berangsur tenang. Yolanda yang melihat hal itu langsung tertawa kecil melihat dokter yang panik saat melihat pasiennya hanya terbatuk sedikit kencang.
"Lah kalian berdua ngapain dimari?" tegur Davin yang entah darimana muncul di hadapan keduanya.
"Menurut lo aja," balas Yolanda cuek.
Ia merasa, ini sudah saatnya untuk pulang. Gadis itu berdiri sambil merapikan dress-nya. Diikuti oleh Azka yang turut menegakkan tubuhnya.
"Om, Yolanda sama Davin pamit dulu ya. Titip salam buat Sela dan keluarga ya. Kapan-kapan Yolanda main ke rumah," pamit Yolanda tersenyum manis.
"Okay Yolanda, nanti saya sampaikan. Mau saya antar?" tawar Azka berharap diterima.
"Ngapain dianter? Ada gue," sela Davin yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Yolanda sama Davin aja. Makasih ya om tawarannya," pamit Yolanda sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Azka sendiri di keramaian yang perlahan semakin sepi.
Yolanda berjalan keluar aula. Bersama adiknya, Yolanda berjalan cepat menuju mobil mereka yang terparkir dengan manisnya.
"Lo serius mau langsung balik aja?" tanya Davin sebelum menyalakan mobilnya.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Yolanda balik.
"Gapapa. Mana tau mau perbanyak momen sama Sela," balas Davin langsung menyalakan mobilnya.
Perlahan, sedan putih yang ia kendarai keluar dari gerbang megah rumah Sela yang masih saja ramai. Tamu keluarganya tak kunjung usai, justru semakin berdatangan.
"Menurut lo, lebih baik putus baik-baik atau nggak usah diperjelas?" celetuk Yolanda di sela-sela perjalanan.
Davin terdiam. Sembari membelokkan setir, laki-laki itu sedang memikirkan kalimat yang tidak akan menyakiti perasaan Yolanda.
"Menurut gue, nggak ada yang namanya putus baik-baik Yolanda. Kalo hubungannya sehat, nggak bakal ada yang namanya putus. Kalo sama-sama punya komitmen sama apa yang udah ditujukan, harusnya enggak diingkari," balas Davin dengan bahasa yang diperhalus.
Yolanda menengok ke arah adiknya. Apa yang Davin katakan adalah benar. Tidak ada yang namanya putus baik-baik.
"Tapi, gue masih nggak tau salah gue dimana Vin," ujar Yolanda tertunduk pelan.
"Bisa aja yang salah bukan lo tapi emang dianya yang bukan jodoh lo," sahut Davin memberikan balasan.
"Jangan terlalu dipikir. Apapun keputusan lo, gue bakal jadi yang terdepan buat ngelindungin lo. Jangan khawatir sama omongan orang lain. Saat ini, yang harus jadi prioritas itu kebahagiaan lo sendiri, Yolanda," lanjut Davin dengan nasihat yang sangat dalam maknanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
