hal-10

42 2 0
                                        

Ziah, Fathur, dan Farhan, terakhir Bara berjalan masuk mengekor polisi dari belakang sampai  memasuki ruangan yang terisi lima petugas dan di mana diisi beberapa meja yang diatasnya terdapat laptop atau komputer, serta  tumpukan-tumpukan berkas.

Polisi tersebut lantas menarik dua bangku lagi yang berada di meja sebelah. "Silakan duduk, Dik." Ziah melihat Pak Polisi itu membuka lembar kasus yang dari judulnya kasus kematian misterius Hago seorang satpam sekolah.

"Jadi nama kalian siapa saja. Apa yang kalian berempat lakukan di sekolah? Kenapa kalian belum pulang ke rumah."

Mereka berempat saling pandang. Bingung bagaimana menjelaskan kepada Bapak polisi. Fathur mulai menarik napas kemudian tersenyum "Ekhem, jadi nama saya Fathur, dan ini  Bara, Farhan dan Ziah. Emm, begini, Kami belum pulang karena ada tugas kelompok Pak!"

Fathur menggaruk lehernya, kemudian menyenggol lengan Farhan. "Iyaah, Pak bener Pak. Kami seriusan ngerjain tugas kelompok."

" Tolong bebaskan Kakak saya Pak. Dia nggak bersalah. Izinkan saya untuk bertemu dengan Kak Varo sebentar Pak."

Pak polisi muda itu  kemudian memanggil petugas lain, tidak lama Varo keluar dengan wajah pasrahnya. Farhan disuruh mengikuti polisi itu untuk berbicara di ruang yang berbeda. Farhan lantas berdiri mengangguk. Fathur, Bara, dan Ziah menatap punggung Farhan yang perlahan pergi.

Di samping itu Farhan duduk di kursi dengan sedikit gugup. Mereka hanya berdua. Dan polisi berjaga tidak jauh darinya.

Farhan menatap Varo kemudian berdeham "Kak, apa di video ini beneran Kakak? Tolong beritahu Farhan Kak," Farhan berkata sambil menunjukkan Video itu ke Kakaknya hingga tanpa sadar matanya berair.

"Kenapa? Lo khawatir sama gue? Takdir kali, gue dipenjara. Kalau divideo itu bukan gue, apa Lo percaya? Pasti Lo bakal ragu kan Farhan. Gue emang bukan Kakak yang baik buat Lo. Jadi jangan buang-buang waktu cuma buat gue."

"Kak, Farhan percaya Kakak bukan yang bunuh Om.  Karena kemarin seharian kita pergi ke rumah Nenek.  Dan kata polisi juga itu Om tewas kemarin pas magrib. Jadi jangan salahin diri Kakak sendiri. "

Varo mendongak kemudian menghela napas. "Terserah,  gue capek, gue rela dipenjara, asal gue mohon. Jangan kabari Mama, kalau gue ada di sini, Han. Lebih baik sekarang Lo pulang ke rumah. "

"Satu pertanyaan lagi Kak, Apa Kakak tadi yang ngejar Fathur dari lapangan basket sampai kamar mandi seolah berniat bunuh Fathur."

"Ngapain gue ngejar Fathur temen Lo itu bahkan sampai bunuh dia, gue nggak Sudi ngotorin tangan gue buat bunuh orang.  Bukannya kalian berempat yang ngejar gue. Gue ke sekolahan Lo karena terpaksa karena gue dapet paket isinya amplop surat,"

"Isi surat itu tertera kalau di gudang sekolah Lo ada bom. Setelah gue baca disurat itu tertulis  sekolah yang dimaksud adalah sekolah Lo. Dan gue terpaksa nyamar dan nyusup ke sekolah Lo cuma buat ngambil bom itu. "

" Karena gue khawatir Lo kenapa -napa. Tapi sekarang gue nyesel, sepertinya surat itu cuma orang iseng yang ngirim, bisa-bisanya gue percaya sama surat nggak jelas itu."

"Apa, bom? Jadi yang ngejer Fathur dari lapangan basket bawa pisau itu bukan Kakak. Dan orang itu nyamar jadi Kakak dua kali? Kenapa Kakak gak bilang sih! " 

"Kak, aku butuh bantuan Kakak. "

"Hm, oke, tapi Lo janji jangan bilang mama."

"Gue belum bisa janji, Kak"

Setelah mengucapkan hal itu, Farhan berlari dengan tergesa-gesa. "PAK POLISI Di SEKOLAH ADA BOM" teriak Farhan dengan keras hingga beberapa pasang mata tampak terkejut.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang