"Lo mau ke mana, Thur?" Farhan mendapati Fathur yang tampak antusias keluar dengan tergesa-gesa dari mobil polisi.
Tidak lama Fathur kembali dengan menenteng dua plastik berisi ikan cupang "Nih, buat Lo satunya." Fathur memandangi ikan yang bergerak dalam air di plastik bening. Menandakan ikan tersebut masih hidup.
"Thanks yah, padahal di rumah gue gak ada aquarium. Tapi gampang nanti gue cari wadah." Farhan berkata dengan tenang sambil memandang ikan cupang warna merah.
"Iyah, sama-sama"
"Maaf Pak, jadi mengganggu. Saya belikan ini buat adik laki-laki saya yang besok ulang tahun ke 9. "
"Iyah, titip salam buat adikmu yah." ucap Pak Polisi itu, kemudian Fathur mengangguk tersenyum memperlihatkan giginya saat Pak Polisi tampak memperhatikannya.
Ingatan Flashback itu sekarang membuat Farhan menggelengkan kepalanya, Fathur dengan segala tingkahnya bikin salut, yang paling sayang dengan adiknya. Farhan melambaikan tangan saat angkot yang dinaiki Fathur mulai berjalan pergi.
Farhan melihat pangkalan ojek langsung bergegas menghampiri ojek. Pergi bersama salah satu ojek Bapak paruh baya menuju ke arah rumah Farhan.
20 menit sampai di depan rumah. Farhan membayar ongkos ojeknya, lalu masuk ke dalam pekarangan rumah sederhana yang terdapat pohon mangga. Lalu dihiasi tanaman bunga-bunga milik Mamanyaa Farhan.
Farhan terdiam memikirkan bagaimana jika bertemu dengan Mama. Apakah harus beritahu soal keberadaan Kakaknya yang sekarang di penjara.
Pikirannya sekarang sedang dilema. Farhan mulai memegang handle pintu. Tiba-tiba seorang lebih dulu menariknya dari dalam hingga terbuka. Farhan melepaskan tangannya dengan bergerak mundur.
"Farhan? Lho, masih jam setengah dua, kok tumben udah pulang sekolahnya?" Mama Farhan menatap Farhan dengan tatapan aneh.
"Eh, Mama. Emm itu Ma, ada acara lomba-lomba gitu di sekolah jadi pulangnya agak lebih awal."
"Ouh gitu yah, ya sudah jangan lupa ganti baju dulu abis itu makan"
"Mama tau aja kalau Farhan laper banget. Dah, Mah" Farhan mengucapkan hal tersebut kemudian berlari masuk dengan terbirit-birit.
"Kalau gitu Mama mau ke warung Bude Sari yah, jangan lupa sepatunya di bawa masuk Farhaan!" Mama Farhan menutup pintunya kemudian berjalan pelan keluar dari halaman rumah.
Sementara itu Farhan mengintip dari jendela, Mama sudah pergi menuju ke warung, lantas Farhan masuk ke kamar Kakaknya menutup pintunya.
Farhan terpaksa melakukan hal ini diam-diam agar Mamanya tidak menanyakan lebih jauh. Karena Farhan tidak ingin membuat Mamanya menjadi khawatir.
Farhan menatap sekeliling kamar Kakaknya yang rapih. Berbeda jauh dengan kamar Farhan yang selalu paling berantakan.
"Kakak nggak bohong kan, soal surat itu?"
"Lo bisa cari sendiri di kamar gue, belum gue buang tuh surat sialan."
"Di mana Kakak taruh?"
"Di selipin buku."
"Buku apa lagi?"
"Apa yah, gue lupa. Cari sendirilah!"
Farhan bergegas menurunkan satu persatu buku. Membuka di setiap lembarnya. "Gila sih, banyak banget buku Kakak gue! Sabar yah Farhan. Lo harus tetap cari."
Farhan mencoba tersenyum dengan sabar memeriksa satu persatu buku di dalam rak.
Hingga buku bertumpuk-tumpuk dan berserakan berantakan. "Widih ada buku baru. Judulnya Kesehatan Lingkungan." Farhan melihat buku tersebut yang masih tersampul rapih.
"Wah, iya! apa jangan-jangan suratnya di buku yang baru ini yah? Coba gue buka kali yah."
"Abis ketemu, beresin lagi semua buku-buku gue sampai rapih. Dan satu lagi jangan Lo buka sampul plastik buku baru yang udah gue beli. Pokoknya gak mau tau. Kalau Lo sampai buka, Lo harus bayar gue seharga buku itu!"
"Halah, cuma buku doang segitu amat. Bodo amat! gue buka. Hahah" Farhan tidak memedulikan pesan si Varo Kakaknya. Dengan perlahan merobek plastiknya. Hingga aroma wangi bukunya terasa lembut.
Farhan membuka bukunya, memeriksanya ternyata tetap tidak ada. Hingga Farhan menggoyankan bukunya berharap ada kertas jatuh.
Farhan melihat sampul plastik itu terdapat harganya. "Mahalnya, 150 rebu? Uang jajan gue dua Minggu itu mah."
"Di mana sih, surat itu?"
Farhan menatap raknya hingga kosong, sebab semua buku-bukunya telah diperiksa. "Ishh, Lah. Susah banget sih nyarinya." Namun belum juga menemukaan surat itu. Farhan Lantas meletakkan kembali buku-bukunya di dalam rak dengan cepat.
Farhan berdiri menelusuri kamarnya, pandangannya terhenti ketika menyaksikannya di atas meja belajar terdapat dua buku tulis yang tertumpuk. Farhan mendekati buku itu, membukanya. Membalikkannya, mengibas bukunya.
Hingga akhirnya Farhan merasa lelah dengan lemas membanting bukunya di atas meja. Kemudian menjatuhkan diri di atas kasur. "Huhh, ishhh lah!capek nggak ketemu -ketemu suratnya."
Farhan kemudian bangkit duduk, lalu terlintas memeriksa ke kolong kasur. Tidak ada. Lalu akhirnya berjalan ke luar kamar.
Sampai di dapur Farhan menegak segelas air minum. "Ah yaa, tas Kak Varo kan belum gue periksa." Farhan kemudian berlari masuk ke kamar Kakaknya lagi, melihat tas tergantung di balik pintu.
Mengambilnya dengan tidak sabaran membukanya resletingnya. Terdapat tiga buku cetak, satu novel Sherlock Holmes, lalu yang kedua Buku kamus Bahasa Arab-Ingris, dan Buku Biologi. Farhan mengeluarkan satu persatu bukunya. "Bismillah, semoga ketemu. Please."
Farhan membuka lembaran ke setiap Buku. Hingga akhirnya di buku terakhir buku cetak biologi. Farhan duduk menyenderkan pintu. "Hais, akhirnyaaa ketemu. Yes!"
Farhan mengangkat selembar kertas itu tinggi-tinggi. Kata dan kalimat yang terbuat dari tulisan tangan. Apa isinya? Mari kita baca.
____________________________
'HARI INI TEPAT PUKUL DUA BOM AKAN MELEDAK DI SEKOLAH SMAN 1 HARAPAN NUSANTARA'
________________
Farhan spontan melihat jam di tangannya sekarang pukul 13.55, "Gila sih lima menit lagi? Kira-kira polisi berhasil nggak yah ngejinakin bomnya. Semoga sekolah gue aman deh." Farhan memotret surat itu, lalu mengirim ke grup yang di buat Bara berisi dirinya, Fathur, dan Ziah.
Farhan kemudian keluar dari kamar Kak Varo, keadaan rumah yang sedang sepi. Farhan berjalan menuju kamarnya, mengganti seragam sekolahnya dengan kaus putih dan mengenakan celana pendek.
Farhan melihat kamar sendiri berantakan tersenyum menggelengkan kepala. Mulai memunguti botol dan dua kemasan cemilan yang tergeletak, lalu memasukkan ke kotak sampah. Setelahnya melanjutkan membereskan meja belajar yang dipenuhi berserakan buku tidak beraturan.
"Wah, dapet hidayah gue. Beres-beres. " Farhan mulai mengibas dan memukul ranjang dengan sapu lidi hingga debu beterbangan ke atas. "Hatcim!"Farhan lalu beralih mengganti seprai kamarnya.
Terakhir mulai menyapu bawah kolongnya yang sudah tiga hari tidak bersihkan. Mendadak sapunya seperti tertahan oleh benda. Dengan penasaran Farhan melongok ke kolong kasur kemudian menyenteri dengan kamera ponsel. "Buku?"
Farhan menarik sapunya sampai benda tersebut berhasil diambil. Farhan tampak bingung saat melihat wujud buku tersebut sangat asing.
"Kenapa bisa ada buku diary di kolong kasur gue? Perasaan gue nggak pernah beli buku diary bentuk kek gini...,"
"Siapa yang naro di sini? Apa punya Kak Varo atau mungkin punya Mama kali yah. Nanti deh gue coba tanya."
Farhan membolak balikkan buku berharap menemukan identitas nama, Bu diary tersebut tebal bahkan tergembok sehingga dirinya sulit membuka.
Farhan terpaku saat memperhatikan lebih dekat, terdapat aksiran tulisan nama kecil di belakang sampul. "Hago"
"Kenapa? Kenapa Om Hago meletakkan buku diarynya di bawah kolong kasur gue?" tanya Farhan terkejut dengan matanya melotot.
_______
KAMU SEDANG MEMBACA
Jam Pelajaran Olahraga
Mystery / ThrillerPelajaran Olahraga sebagai pelajaran yang diminati para siswa sebab tidak hanya dilakukan di kelas melainkan di luar kelas yakni lapangan. Bagaimana jika jam pelajaran olahraga itu menjadi momen jam paling mengerikan? Si tokoh utama lelaki bernama...
