hal-53

45 2 1
                                        


"Thanks bro, Lo udah bantuin gue nangkap orang ini." ujar cowok rambut pirang kuning itu tersenyum lebar.

"Lo boleh pergi, biar dia gue yang urus." Orang rambut pirang kuning itu berjalan santai menghampiri Fathur.

Fathur menoleh ke belakang. Di mana orang rambut pirang kuning itu melambaikan tangan kepada orang bertopeng itu. Mungkinkan orang bertopeng itu satu komplotannya?

Namun, orang bertopeng di depannya itu, tiba-tiba mengangkat pistol tinggi-tinggi. Fathur seketika reflek menunduk berjongkok, lantas menutup kedua telinganya.

DOR!

Orang bertopeng itu menarik pelatuknya cepat. Menembak seorang rambut pirang kuning yang mengejarnya barusan hingga mati tertembak.

Fathur memejamkan matanya panik, merasakan dadanya sesak saat mendengar suara tembakan itu.

"Ayah..." lirih Fathur ketakutan.

"Ayah, Ayam bakarnya masih lama yaa matengnya?" tanya anak kecil berusia lima tahun itu, menatap tangan Ayahnya terus mengipasi Ayamnya, kemudian membalik ayamnya hingga berwarna kecoklatan.

Malam minggu ini Fathur kecil bersama Ayahnya tengah berada di rumah. Bunda dan Kak Voka sedang pergi ke rumah Nenek. Karena Ayahnya Fathur lagi ada kerjaan, jadi nggak bisa ikut Bunda sama Kak Voka ke rumah nenek.

Sedangkan Fathur kecil nggak mau ikut ke rumah nenek, karena takut dimarahi lagi. Jadi memilih ikut Ayah di sini. Paman Iga yang kebetulan free, malamnya numpang makan di rumah Kakaknya yaitu Ayahnya Fathur.

Hingga aroma harum bakaran yang mengenakan membuat anak kecil itu tidak sabar makan ayam bakar bikinan Ayahnya

"Hahah, Parah Lo Bang. Anakmu udah kelaperan banget itu woi. Perutnya sampe bunyi, Di kasih makan dulu sana." ucap Paman Iga nimbrung tertawa. Seraya meletakkan sambal terasi dan nasi di atas meja.

"Diem Lo! Biar dia bisa belajar sabar Iga." Ayahnya Fathur menanggapi ucapan Paman Iga dengan sedikit kesal.

Ayahnya Fathur kemudian tersenyum ke arah anaknya," Sebentar lagi mateng, Nak. Mau bantuin ayah kipasin ayamnya?" Tawar Ayahnya Fathur melihat anaknya merasa bosan menunggu.

"Mau, "Anak kecil itu tersenyum mengangguk, lalu menerima kipas kecil yang diberikan Ayahnya.

Fathur kecil seketika cemberut menatap kipas bergambar princess Aurora. "Gak mau pake kipas yang ini yah, ini kan kipas perempuan, kipasnya Kak Voka."

"Hahahaha! " sontak Paman Iga dan Ayahnya Fathur tertawa ngakak mendengar perkataan Fathur kecil.

"Nih, udah mateng. Ayo kita makan!" seru Ayahnya Fathur mengangkat Ayam bakarnya dari panggangan arang.

Dor!

"AYAAH!"

Suara tembakan itu, membuat Ayahnya Fathur menjatuhkan Ayam bakarnya. Tembakan itu tepat mengenai bahu Ayahnya Fathur.

Fathur kecil menatap ayahnya terjatuh berdarah dan terbatuk mengeluarkan darah.

"Ba-wa, anak-ku Iga! Ce-pat!" perintah Ayahnya Fathur kepada Paman Iga.

Seketika Paman Iga mengangguk dengan sigap menggendong Fathur kecil, membawa pergi dari kumpulan orang-orang bersenjata.

"AYAAAH!" teriak Fathur kecil menangis meronta-ronta saat melihat Ayahnya tertembak dan terkapar di sana sendirian. "Paman, bawa Ayah jugaa! AYAAH!"

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang