hal-51

41 2 0
                                        

"Mana sih Kak Farhan, dari tadi di cariin gak ketemu -ketemu." Vanila  berjalan menelusuri sekolah. Dan Vanilla mengernyit tatapannya tak sengaja mengamati seorang yang berada tidak jauh di depan dirinya.

Melihat seorang cewek itu berjalan cepat. Pakaiannya sama seperti seragam olahraga di sekolah sini, gelagatnya mencurigakan memakai masker hitam. Vanilla melihat seorang itu menyembunyikan sesuatu di saku celananya menuju kantin.

Vanilla melihat Ibu kantin beberes dagangannya di kantin. Vanilla merasa orang itu akan melukai Ibu kantin. Vanila seketika berlari lebih cepat dengan kondisi nyeker alias tanpa alas sepatu.

"Jangan sampai gagal, ini tugas terakhir buat Lo!" Seorang cewek masker putih itu mendengar suara perintah orang di earphonenya. Saat menyadari ada yang mengikutinya dari belakang.

Seketika seorang cewek itu bergegas cepat berlari, lantas menikam perut ibu kantin yang tengah menenteng keranjang sayuran.  Ibu kantin itu  seketika terjatuh.

BRAK!

Seorang cewek masker putih itu berlari kabur.

"TOLOONG!" teriak Vanila menatap panik ibu itu. Seketika Bapak-bapak pedagang kantin lainnya, kaget mulai berdatangan membantu menyelamatkan ibu kantin. "Bu, bertahan yaah. Vanilla akan menangkap orang itu."

Vanilla seketika berlari, mengikuti seorang cewek masker yang kabur mulai menerabas keramaian. Vanila berdesakan mengejar orang itu, hingga seorang itu mengubah rute berlari menuju halaman belakang sekolah."Woi, Tai! Beraninya kabur Lo! Gue bakal kejer Lo sampe ujung dunia."

Jalan buntu, Vanilla melihat seorang cewek masker itu seketika  memanjat gerbang belakang sangat cepat. Vanilla melihat tangga itu, lalu memanjat melalui tangga, untuk melewati gerbang itu.  Sampai di atas, Vanilla dengan jantung berdebar melompat. "Aw aduh..., sakit. Semangat Vanilla!"

Vanila bangkit lanjut berlari mengejar cewek masker putih itu, sampai berhenti sebentar mengembuskan napasnya merasakan ngos-ngosan. "Woi, nggak capek apa Lari teros!" Vanilaa terus memperhatikan seorang cewek masker putih itu masuk ke dalam wahana permainan. Di papannya tertera tulisan ditutup sementara. Vanilla mendorong pintu yang menimbulkan suara derit yang keras dan lonceng di atasnya. Hal itu membuat orang-orang di dalam tempat ini, menoleh menatap ke arahnya.

"Hah!" Seketika Vanila menepuk jidatnya saat di dalam wahana permainan itu ramai orang-orang dewasa bertato menyeramkan. "Misi-misi, om. emm anu... ituuu! hahh yaaa... maaf om-om numpang ngomong sama temen saya yang itu." Vanilla menunjuk seorang cewek masker itu yang tersenyum tipis saat melepas masker, menatap ke arahnya tenang.

Vanilla melihat cewek itu, bergerak santai menjatuhkan diri rebahan di sofa panjang. Dan memejamkan matanya. "Kalau Lo mau gue tanggung jawab, tunggu besok pagi. Gue janji pasti bakal nyerahin diri."

"Oke, jadi apa alasan Lo bunuh ibu kantin hah? Dia punya salah apa sama Lo!" Vanilla mengatakan dengan kesal, "Awas aja Lo sampe ingkar janji!"

"Gue terpaksa. Lo lebih baik pergi, sebelum Lo babak belur di sini." jawab cewek itu mengancam Vanilla, memilih mulai tidur terlelap. " Jangan buang waktu Lo buat gue, selamatin kakak Lo. Sekolah itu sebentar lagi bakal hancur."

##

"Lo, budek? Mau mati di tangan gue. Pergi Lo sekarang, Anjing!" Orang berambut pirang kekuningan berkata lantang dengan emosi,  menodong pisau itu ke arahnya.

"Oke, fine. Gue... bakal pergi." Fathur bergerak mundur satu langkah, dengan kakinya yang sedikit gemetar saat melihat pisau itu.

Detik berikutnya Fathur merasa sedikit lega, saat pisau di hadapannya, mulai diturunkan oleh orang itu. Dirinya bisa merasakan sedikit bernapas dan jantungnya tidak terlalu berdebar lebih kencang lagi.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang