Hal-58 Jam

20 1 0
                                        

"Angga, kamu kan masih sakit. Mau kemana bawa alat-alat itu?" tanya Mama Iren yang sedang melipat pakaian terperangah melihat Angga keluar dari gudang rumah.

"Angga, udah sembuh Ma. Sekarang Angga mau cari harta karun," Angga menjawab dengan bersemangat tersenyum lebar, "Mama mau ikut bantuin Angga gak?"

"Itu," Mama Iren menghela napas, menunjuk setumpuk pakaian di keranjang pakaian. " Kalau kamu mau bantuin mama setrika kali ini, mama bakal bantuin kamu gimana?"

"Maaf, Ma. Angga kan lagi sakit." Angga menggelengkan kepala, menolak tawaran untuk membantu aktivitas mamanya sekarang. "Kalau gitu biar Angga sendiri aja yang nyari harta karunnya sendiri,"

Angga mulai berjalan keluar rumah membawa sekop dan pacul di tangannya. Beberapa tetangga dekat rumahnya menatap Angga penasaran. "Lagi mau ngapain, Nak?"

Angga tersentak kaget saat mendengar pertanyaan itu, seketika mengembangkan senyumnya lebar, "Ouh yaaa... ituuu mau menanam bunga Bu. "

"Ouh menanam bunga," Ibu tetangga itu meresponnya singkat berlalu pergi.

Angga menunggu sebentar tetangga lain yang juga kepo, sampai benar-benar pergi. Menit kemudian Angga menoleh ke kanan dan kiri, kelilingnya telah sepi sekarang.

Aksinya menggali tanah di pohon mangga ini jangan sampai ketahuan tetangga. Kan malu kalau dilihat oleh tetangga. Dengan tak sabaran Angga terus menggali tanah di bawah pohon mangga halaman rumahnya.

Lima menit kemudian, Angga menyenderkan tubuhnya, "Haaahh... huh! Mayan capek juga. Di mana sih botol itu terkubur. "

Angga mengusap keringat di dahinya, mulai menggenggam sekopnya. "Oke, gue nggak boleh nyerah. Coba gue gali sebelah sana deh, mangga yang satunya siapa tau ada di sana."

Angga berjalan cepat membawa dua alat itu, menggali tanah kembali tanpa lelah. Meskipun sulit, dirinya harus terus mencari keberadaan botol itu. "Aviera, Kakak akan menemukannya. "

Angga menatap langit yang terik semakin panas. Tidak hanya itu kupu-kupu berterbangan di dekatnya mengerubungi bunga matahari yang telah mekar di pekarangan rumahnya.

Angga menggulung lengan kaus panjangnya. Mencangkul tanah, menggali lebih dalam. "Kakak akan terus berjuang menemukan segera pelakunya. "

Tuk! tuk!

Angga berhenti menggali saat sekopnya terdengar membentur benda. Tanah semakin keras. Ujung benda putih itu mulai terlihat. Angga matanya berbinar memandang benda itu ternyata botol yang dicarinya. "Yes, ketemu!"

Angga menggali lagi tanah yang membenamkan benda itu. Sebuah botol kaca terlihat jelas. Angga mengambil botol itu, mengangkat tinggi-tinggi botolnya yang masih ada surat di dalamnya.

Seketika Angga berlari kecil senang memutari sekali pekarangan rumah, lompat-lompat jingkrak tertawa bahagia. "AVIERAAA! KAKAK BERHASIL NEMUINNYA! YEAH, HAH.. HAHAHA!"

Sementara itu dari kejauhan Mama Iren terpaku beberapa detik. Menyaksikan Angga yang lompat-lompat girang tertawa senang, usai menemukan sesuatu dari hasil galiannya.

"Mama senang melihat kamu bisa lagi tertawa lepas, Nak." Mama Iren bergumam pelan mengamati anaknya dari kaca jendela yang terbuka.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang