hal-48

54 4 1
                                        

Flashback di jam 07.00

sebelum terkirim pesan teror itu.

"Tolooong... tolong!" teriak seorang nenek yang berlari panik di sekitaran gang yang tengah sepi. Teriakan keras nenek itu mengundang beberapa warga setempat berkumpul menuju suara nenek itu.

"Ada apa, Nek?"

"Kenapa, Mbah?"

"Tolong anak sayaa! Dia terluka parah!" ucap Nenek itu mulai berlari menuju ke rumah anaknya. Beberapa warga yang mendengar hal itu dengan panik mengikuti nenek itu sampai dirumahnya.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu warga lainnya tercengang menyaksikan seorang wanita paruh baya yaitu Bu Arni. Terkapar memegang perutnya yang berdarah dengan pisau yang tertancap di perutnya.

"Telpon Ambulan!"

"Kita bawa ke rumah sakit aja langsung!"

Nenek itu gemetar, menggenggam tangan anaknya yang  terlihat menahan sakit. "Bertahan yaa, Nak. Jangan tinggalin Ibu. "

"I-bu, Mbak Ar-na dia di-cu-lik orang ber-topeng hitam." ucap Ibu paruh baya berhijab  itu dengan terbata-bata kemudian tak sadarkan diri.

##

Sedangkan di rumah lain, seorang laki-laki paruh baya berjalan cepat mengangkat keranjang berisi baju-baju yang telah disetrika rapi. "Haah, capek juga yaa."

Sampai di kamar anak perempuannya. Bapak itu mulai bergegas menuju lemari pakaian milik Vara. Lalu memasukan pakaian itu, menatanya dengan rapih.

Tiba-tiba terdiam sejenak saat menatap baju olahraga yang berada di tumpukan paling atas. "Lho, kok bajunya gak dibawa. Bukannya hari ini Vara ada pelajaran olahraga yaa. Kebiasaan. Lupa lagi pasti tuh anak."

Bapaknya mulai meraih baju olahraga lalu memasukkan ke dalam plastik. Seketika itu juga berlalu keluar dari kamar anak perempuannya, menuju garasi motor.

Dirinya harus mengantarkan pakaian anaknya. Bagaimana jangan sampai anaknya kena marah oleh gurunya. Bapak itu tersenyum, "Bisa-bisanya anakku ceroboh terus, mirip persis ibunya."

Bugh!

Bapak itu melotot terkejut merasakan hantaman keras balok dari belakang kepalanya.  Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, pandangannya terlihat mulai buram.

Bapak itu terjatuh tak sadarkan diri di garasi seraya menggenggam erat plastik baju olahraga yang ingin dibawakan ke anaknya.

##

Sementara itu di tempat lain, seorang Ibu paruh baya  berambut kriting, sedang berada di dapur sendirian. Detik kemudian telpon berdering. Ibu paruh baya itu mulai meraih ponselnya yang terletak di meja makan.

"Halo, Ma. Gimana, Ma? Inva dia masih mau ikut kita ke bandung besok?"

"Iyaa, Yah. Mama juga bingung, padahal kan sekolah belum libur. Dari kemarin Invanya ngerengek terus mau ikut ke rumah nenek besok. Biarin aja deh Inva ikut ke sana, Yah."

"Oke ma, Gak apa-apa nanti Inva izin ke sekolahnya, Ma."

"Ya sudah, Yah. Mama mau lanjut masak dulu. Assalamualaikum." ucap ibu rambut kriting paruh baya mematikan ponselnya usai mendengar balasan salam dari suaminya.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang