hal -45

61 3 0
                                        

"Ada yang ngikutin kita Yas, persis seperti di film-film. " Boby berseru mulai tertawa.

Tyas reflek menghadap ke belakang tidak menemukan yang mengikutinya. Hanya ada ibu-ibu tukang jamu bersepeda. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Bugh!

"Aw," Tiba-tiba Boby mengaduh kesakitan karena pukulan di belakang kepalanya oleh Tyas.  "Lo kok mukul gue sih? Sakit Yas!"

"Lo sempet nya bercanda, cepet ngebut atau Lo mau tukeran, biar gue yang bawa motornya. Lo lama!" Tyas mengatakan dengan kesal.

"Iyaa maaf..., nih ngebut!" Boby mulai menuruti Tyas meningkatkan sedikit kecepatan laju motornya. Sebelum Tyas memaksanya untuk bertukar. Bikin merinding, karena Tyas seorang pembalap wanita yang andal.

Apalagi kalau Tyas membawa motor dalam keadaan genting begini. Yang ada laju motor Tyas lebih mengerikan dari pada di arena balap. "Bahaya kalau Lo yang bawa, gue masih sayang nyawa, Yas."

Tring!

Suara dering handphone milik Tyas berdering. Tyas mengangkat layar hpnya, melihat nama seorang yang menelponnya. Dengan cepat mengangkatnya.

"Halo, Mbak Fisa ada apa nelpon?" tanya Tyas penasaran.

"Halo, Tya. Kiara masuk ke rumah sakit pagi ini." jawab Mbak Fisa dengan suara gelisah.

"APA! KIARA MASUK RUMAH SAKIT?" teriak Tyas membuat beberapa pengendara di jalan yang sama sedikit kaget karena suara Tyas.

Tyas tidak memedulikan itu, lalu terdiam saat mendengar Mbak Fisa menceritakan kejadian bagaimana Kiara dan juga Gilang sampai dua-duanya terluka masuk rumah sakit.

"Terima kasih informasinya, Mbak Fisa!" Kemudian Tyas mematikan teleponnya.

"Kiara kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Boby karena mendengar jelas ucapan Tyas yang berteriak tadi. "Kita ke rumah sakit dulu atau ke sekolah, Yas?"

"Tyas!"

Tyas merasakan gelisah, bagaimana ini tidak hanya Kiara yang dalam bahaya tetapi Gilang sekarang jadi incaran para pembunuh.

"YAS! Lo kok diem aja?" Boby seketika menghentikan laju motornya, menepi di pinggir jalan yang berjejer pepohonan.

Boby menurunkan standar motor. Lalu turun dari motor, berbalik memandang Tyas yang matanya telah berkaca-kaca. "Yas, Lo kenapa?" tanya Boby dengan suara pelan.

Tyas menceritakan kepada Boby dari awal bagaimana Kiara nekat mencari informasi yang menimpa Gilang. Berakhir masuk rumah sakit karena tertusuk pisau.

"Kiara dan Gilang sekarang dalam bahaya. Mbak Fisa ngasih kabar bahwa ada instruksi perintah baru untuk mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Kiara dan Gilang,"

Tyas terpaku saat tak sadar menceritakan sampai kebawa menangis hingga ditatap Boby. Segera Tyas menghapus cepat air matanya yang telah lolos di pipinya.

"Itu artinya sekarang mereka berdua dalam bahaya. Dan anak sekolah kelas sepuluh juga dalam bahaya. Terus kita harus gimana Bob? Gue-gue takut mereka berdua kenapa-napa." kata Tyas dengan panik.

"Tenang yaa, " Boby menepuk sekali bahu Tyas. "Ini saatnya kita balas dendam sama mereka. Sekarang waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini Yas. Kita pasti bisa menyelamatkan semuanya. Lo harus percaya sama diri Lo sendiri. Kalau Lo itu hebat!"

"Kalian kenapa berhenti?" tanya Fathur ikut menepikan motor di pinggir jalan. Turun mendekati Boby. "Ada masalah apa? Eh Yas, Lo habis nangis."

"Gak! Kelilipan!" Tyas mengelak menutupi wajahnya dengan kaca helm. Bisa-bisanya dia menangis di hadapan dua cowok menyebalkan.

Jam Pelajaran Olahraga Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang