Hal-38

22 2 0
                                        

Pagi pukul 06.00 Angga duduk di kursi meja semula. Kali ini kelas masih kosong. Angga sengaja berangkat pagi sambil membaca buku cetak bahasa Indonesia.

Karena jam pertama adalah ulangan bahasa Indonesia. Bagaimana pun Angga bertekad untuk belajar mati-matian agar tidak remedial. Dirinya paham bahwa otaknya sedikit lemah dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Satu persatu teman sekelasnya mulai tiba mengisi ruangan kelas ini. Yang tadinya sunyi menjadi berisik. Angga masih tetap fokus membolak-balikkan buku.

"Angga, serius amat baca bukunya. Memangnya hari ini ada ulangan apa?" tanya Gilang seraya melanjutkan minum susu kedelai di tangannya. Mendengar pertanyaan tersebut.

Angga mengangguk lalu menghela napas. Kemudian seketika menguap, menutup bukunya. "Iyaa, Ulangan Harian Bu Dini. Gue nggak pengen remedial lagi, jadi belajar dikit lah."

"Lah serius? Kapan Bu Dini bilang,  gue lupa! Gilak sih, gue belum belajar sama sekali, njir!" Gilang seketika gelagapan dengan panik mulai membuka buku bahasa Indonesianya.

Fajar tengah santai makan roti tawar. Duduk sebangku di samping Gilang. Fajar menggelengkan kepala melihat Gilang sok belajar di pagi -pagi begini.

Fajar tersenyum mengunyah makanannya. "Aelah mau belajar pun. Lu bakal tetap remedial. Lagian yaa, angka patokan nilai nya dari Bu Dini gak masuk akal,"

" Masa angka kkmnya 95, gak mungkin siswa peringkat bawah kek kita-kita ini bisa mencapai angka segitu woi. Kecuali kalau Lu pada nyontek buku plus belajar sampe berdarah-darah tiap hari." Fajar santai mengatakan hal tersebut.

"Palingan yang lolos remedial lima orang lagi, Fathur, Farhan, Bara, Kiara, dan Tyas. Mereka langganan anak berprestasi." ucap Fajar memilih menyibukkan diri menonton anime.

Angga melihat sekeliling bangkunya rata-rata teman-temannya sibuk belajar. Bu dini memang guru yang terkenal killer.

Jika siswa  remedial maka siap-siap mendapat hukuman. Baik berupa nyanyi atau baca puisi di depan kelas Kakak tingkat atau Adik tingkat. Mending, kalau suaranya bagus kalau fals siap siap ditertawakan kelas orang.

Gilang merasa lelah membaca buku, rasanya ingin muntah membaca banyaknya kalimat dalam buku tersebut.

"Apa jangan-jangan mereka berlima nyolong kunci jawabannya Bu Dini yaah. Pada ngerasa aneh gak sih gaes?" ucap Gilang ikut membahas tentang  ulangan harian dengan Bu Dini.

" Bener kata Lo jar, Masa setiap ulangan bahasa Indonesia yang lulus selalu mereka berlima terus. Gue jadi ngerasa mereka curang sih," tutur Gilang setelah mendengar pernyataan Fajar barusan.

Angga mendengar hal itu menggelengkan kepala. "Masih pagi udah su'uzon ae, Lo! Berprasangka buruk sama orang itu nggak baik. Buktiin kalau Lo kali ini gak bakal remedi. Semangat, Lang haha!"

"Dih, sok alim Lo! Yaa, kan kemungkinan siapa tau iya."  kata Gilang mengatakan hal tersebut dengan helaan napas.

Sedangkan Angga mulai berjalan meninggalkan kelas menuju kantin. Untuk mengisi perutnya yang kosong.

Sebab dirinya tidak sempat memasak, begitupun Mamanya juga sedang ada urusan pekerjaan mendadak setelah subuh. Sehingga dirinya terpaksa sarapan di kelas.

"Aaaaaaa!" teriak seorang di lapangan basket. Angga yang mendengar suara itu bergegas pergi menuju arah suara. Ramai-ramai para siswa mulai mendekat ke lapangan.

Sampai di lapangan basket, Angga dapat melihat darah yang bercucuran di mana-mana." Ada yang bunuh diri?" Dengan langkah gemetar Angga ingin melihat lebih jelas.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang