Hal-21

35 2 0
                                        

Revo bernapas lega saat dokter mengatakan Fathur selamat. Tidak lama setelah itu kata perawat Fathur akan di pindahkan ke bangsal kamar pasien no 8 di lantai dua.

Revo segera membantu dua perawat mendorong ranjang kasur menuju ke kamar pasien. Melewati jalan alternatif lift yang berada di lantai tiga ini.

Revo memperhatikan lift itu bertuliskan khusus karyawan.  Segera perawat itu menempeli kartunya.

Dor!

"Aishh!" Revo dan dua perawat: satu perawat laki dan satu perawat perempuan reflek menunduk ketika mendengar suara pistol mengenai dinding tembok.

"Sial-sial!" Revo melotot tercengang ketika melihat seorang badan kekar membawa pistol.

"Lo harus tenang berhadapan sama mereka termasuk suara pistol." ucap Tante Ifafa

Revo mulai memejamkan mata mengingat pesan dari Tante Ifafa yang selalu mengajarinya bela diri.

Revo menarik napas dalam dalam. Ketika membuka mata, Revo dapat melihat perawat perempuan di dekatnya  gemetar berjongkok.

Lalu perawat lelaki seketika bergegas mendorong Fathur masuk ke lift ketika lift tersebut terbuka. "Mbak cepat masuk ke lift, jagain Abang saya.

"Hanya satu orang?" Revo memberanikan diri berjalan maju pelan kemudian menghindar ketika preman dengan pakaian serba hitam dan kalung emas yang mencolok itu menembak lagi.

Preman itu belum bisa mengenai Revo yang terus berlindung di balik tembok. Revo mulai berjalan untuk mendekati preman itu pelan -pelan.

Pistol itu terus ditembakkan tak berarah. Dor! "Arghhh. " Revo terkejut ketika kakinya tertembak. Revo menyaksikan darah keluar dari kakinya. Preman itu tiba-tiba menatap pistolnya berhenti menembak.

"Kenapa Pak? Abis yah pelurunya? Hahah"

Revo seketika dengan santai mengeluarkan ketapel yang selalu dia bawa. Perlahan melayangkan kelereng dari ketapel itu hingga sekali jepretan.  Revo tersenyum senang ternyata tepat sasaran mengenai dahi orang bertopeng. Preman itu merasa sakit akibat kelereng itu.

Dengan cepat Revo berlari mendekati preman jahat itu. kemudian melayangkan tendangan ke kepala orang tersebut hingga om preman jahat itu terjatuh ke lantai.

Bugh!

"Bisa-bisanya Lo ngelukain orang yang lagi sekarat Bangsat! Hah!" Revo kemudian meninju wajah preman berambut kriting dengan tato bulan di lehernya dengan sekuat tenaga. 

Hingga hidung orang tersebut berdarah. Lalu terakhir Revo menampar pipi om preman itu tersebut kemudian menjewer telinga orang tersebut  "Huft, makannya jangan berani sama anak kecil paman. Namaku Revo!Bye..bye.. om!"

Revo melihat lift yang telah tertutup sempurna. Revo berlari melewati tangga darurat dengan cepat menuju lantai dua. Sampai di depan lift, Revo mendapati dua perawat yang membawa Fathur.

Revo melambaikan tangan ke arah kedua perawat itu. Revo tersenyum kemudian mendorong ranjang Fathur. "Jangan khawatir Mas, mbak. Itu premannya udah ditangkap pak satpam."

___________

Hari ini

Ziah:
Orang tuanya Fathur udah dateng?

Revo:
Belum Kak Azi
Katanya masih di jalan
Kak,

evo hampir mati, penjahat itu datang ke rumah sakit sini

evo harus apa Kak?

Lihat nih kaki evo berdarah kena tembak huhu

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang