Hal-42

26 2 0
                                        

Tomi merasa lelah lalu mulai merebahkan diri di kasur milikinya. Selepas selesai membantu adik perempuan yang baru menanjak kelas tiga SD. Adik kecilnya itu semangat sekali belajar sepeda di halaman rumahnya.

Kini adiknya sedang sarapan di ruang makan, setidaknya akhirnya dirinya bisa beristirahat sebentar.

Tomi mengubah posisi tertidur ke samping, di sana tanpa sadar melihat foto yang terpajang di meja belajar. Foto dirinya dan temannya yang kini mulai renggang. Tomi mulai memejamkan matanya, tanpa sadar air mata meluncur bebas membasahi pipi bersihnya.

Satu bulan lalu

Tomi berdiri dalam diam menenteng kresek hitam. Terpaku memandang salah satu mahasiswa laki yang mengenakan almamater itu dari kejauhan.

Mahasiswa itu merupakan teman sekelasnya bernama Varo. Tomi menatap kresek di tangannya dengan gemetar, ketika Varo melambaikan tangan mengetahui kehadirannya yang berada di depan pohon mangga kampus.

Tomi mengamati sejak awal dari Varo yang baru keluar dari ruangan dengan perasaan tegang dan cemas.

Helaan napas lega keluar, sepertinya sidangnya sukses. Varo berlari menghampirinya. Tomi, kakinya terasa berat untuk ikut menghampiri temannya itu.

Padahal ini bukan kali pertama bertemu dan berkenalan dengan Varo. "Lo ngapain nyamperin gue, Var. Gue... orang jahat yang sebentar lagi bakal bikin Lo terluka!" Varo menghela napas berucap dalam hati.

" Gue tau gue salah, gue... nggak harus melakukan ini, tapi.... gue takut! gue takut dia bakal ngelukain permata kesayangan gue." Tomi mengatakan dengan berat dalam hati.

"Woi, bro! Aelah, masih pagi udah ngelamun Lo, Tom. " Varo tersenyum mulai mengeluarkan ponsel di dalam tasnya. "Ayo kita foto, Tom. Buat kenang-kenangan."

"Bentar, ini nih buat Lo. Congrats ya bro, akhirnya separuh perjalanan lagi gelar SE haha." Tomi memberikan kresek tersebut dengan senyumnya yang tulus.

Varo sedikit terkejut lalu mengangguk, dengan senang hati menerimanya. "Thanks bro, padahal Lo dateng aja gue udah seneng bro. Makasih yaa hadiahnya, bro."

"Ya udah ayo, foto!" Varo berkata sambil menatap sekeliling lalu menemukan seorang mahasiswa yang tengah duduk sendiri bermain ponsel. Entah siapa namanya, Varo tersenyum menghampiri mahasiswa itu.

"Eh, mbak! Boleh minta tolong fotoin sebentar? Lima kali aja abis itu udah kok." tanya Varo dengan percaya diri meminta bantuan mahasiswa perempuan. yang sedang duduk di tangga memegang buket.

"Selfie, aja gak apa-apa Bro. " ajak Tomi merasa tidak enak meminta bantuan ke orang yang tidak dikenal.

"Oke, boleh." Varo langsung tersenyum senang menyodorkan ponsel ke salah satu mahasiswa berjilbab yang mulai berdiri meletakkan buketnya.

"Gue mulai yaa..."

"Satu, duaa..."

"Tiga!"

Cekrek

"Kak, bangun. Kata Bunda suruh sarapan dulu!" suara Adik perempuan kecilnya itu barusan membuat Tomi sadar dari ingatan flashbacknya. Tomi mulai beranjak duduk mengusap matanya yang berair.

"Kakak abis nangis yaa? Kakak kenapa nangis?" tanya Adik perempuan kecilnya itu mulai memeluk Tomi.

Tomi tertawa lalu mengusap kepala adik perempuan kecilnya, "Tadi Kakak cuma mimpi buruk,"

Tomi menatap foto itu kemudian tersenyum merapihkan jepit rambut yang miring,
" Caca udah selesai makan?"

"Caca barusan makan sama sayur Sop, Kak. Enaaak banget ada baksonya, Kaaak." jawab adik kecil itu dengan girang.  "Kakak, cepet makan yaa, Itu tadi Caca denger perut kakak bunyi terus."

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang