hal-41

42 2 0
                                        

Kiara menggenggam pisau di tangannya, perlahan-lahan menyelinap masuk ke ruangan seseorang. Kiara tersenyum miring ketika akhirnya menemui seseorang yang dicarinya.

Kiara mengangkat balok kayu  panjang tinggi-tinggi lalu memukul punggung belakang seorang hingga terjungkal ke depan. Kursi yang untuk duduk goyah dan terjatuh.

"Arghh, sial!"

Suara ringisan sakit dari mulut seorang yang kini membanting putung rokok. Kiara kemudian meninju wajah orang itu dengan kasar berkali-kali hingga orang itu terkapar tidak sadarkan diri. "Ini pembalasan dari gue, karena Lo udah bikin teman kelas gue celaka!"

Kiara menarik tali mengikat tangan seorang itu dengan cepat. Tidak lama menit berikutnya Kiara menyiram air yang terdapat di teko, menyebabkan seorang itu terbatuk bahkan hingga matanya terbuka mendadak. "Arghhh, Anda anggota Black Tiger K kan? Kenapa anda datang-datang melukai saya?"

"Akhirnya Bangun juga Lo, om! kasih tau gue sekarang kenapa bos nyuruh Lo ngelukain teman gue di rooftop. Kasih tau gue atau Lo memang pengen mati!" tanya Kiara to the point menodong pisau lebih dekat ke leher.

Orang itu itu tertawa lalu terdiam saat matanya ditatap tajam dan pisau itu mulai menempel ke lehernya, "Jadi bocah ingusan itu teman anda haha."

Kiara langsung menendang sekali perut orang itu hingga terkapar lagi di lantai. "Mau mati sekarang, Lo?"

" Oke-oke tunggu!" Orang itu terlihat panik ketika pisaunya bersiap  di layangkan menghunusnya. "Baiklah saya akan memberitahu Anda semuanya. Asalkan Anda bersedia transfer saya uang 1 M malam ini ke saya. Ini juga untuk biaya pengobatan wajah tampan saya yang sudah rusak ini. Bagaimana?"

Kiara mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya. "Gue bisa transfer sekarang ini juga, tepat setelah Lo beri tau ke gue. Cepat sekarang, Lo jelasin kenapa Bos D berencana membunuh teman gue?"

Orang itu tersenyum lalu mengangguk, "Yah, Bocah ingusan itu awalnya meminjam uang pada bos untuk biaya rumah sakit neneknya yang harus operasi waktu itu,"

" Bos menyuruh saya dan Roki untuk mengambil uang di ATM dan memberikan pada bocah itu. Tidak hanya itu bos juga memberikan pesan untuk membunuh bocah itu jika sampai tenggat waktu pembayaran belum kunjung dilunasi,"

" Dan yaah... Bocah ingusan itu ternyata belum mampu membayar, jadi bos menyuruh saya dan Roki untuk secepatnya membunuh bocah itu di jam 06.30 pagi tadi, "

" Jika anak itu masih hidup, dia harus segera dibunuh sampai mati. Jika saya tidak melakukannya, maka saya dan Roki yang akan dibunuh." Orang setengah paruh baya dengan tato singa di lehernya menghela napas.

"Hutang? Jadi Gilang berhutang sama Bos D. Gilang kenapa Lo nggak cerita apa-apa ke gue kalau Nenek Lo masuk rumah sakit." Kiara bergumam dalam hati, matanya memerah bahkan mulai berkaca-kaca, "Gue memang teman yang buruk. Gue bahkan udah gagal melindungi Lo, Lang."

Sepulang sekolah saat itu, Gilang mengajak Kiara makan es cream di warung dekat rumahnya. Sampai di kursi-kursi kayu rotan. Gilang dan Kiara duduk dengan tenang menikmati es cream yang harganya murah.

Gilang membuka bungkus es cream rasa coklat lalu memasukkan ke dalam mulut isinya. "Enak ga, Ra? Gue tau Lo suka mangga. Jadi gue beliin yang rasa mangga."

"Ini asli enak banget, bikin nagih rasa es creamnya. Makasih yaa udah ditraktir, Lang."

"Ya, kan, ini hari ulang tahun gue. gue udah janji sama Lo bakal traktir es cream. Yaa, maaf yaa.. gue cuma bisa traktir Lo es cream harga tiga ribuan hehe."

"Bodo amat deh mau murah atau mahal sama aja kok rasanya bagi gue. Gue malah justru lebih suka yang es cream murah yang Lo beliin ini. Lang, Pokoknya ini seriusan enak banget Lang, gue mau beli lagi abis ini atau gak ntar gue borong deh." Kiara berkata dengan antusias. Gilang tertawa pelan.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang