hal-60 Pelajaran

38 1 0
                                        

Suara nyaring telepon bergetar, ponsel itu tergeletak dalam kursi mobil yang tidak ada penumpang.

Sedangkan Fathur, Ziah, dan Revo tengah bersembunyi di balik tumpukan ban bekas yang menggunung. Fathur menatap Revo yang mulai mengangkat tinggi-tinggi ponselnya, memotret latar depan pabrik itu berkali-kali. Bahkan penjaganya difoto. "Kenapa Lo foto?"

"Buat jaga-jaga bang Fathur, Kalau... kita ketangkep, terus di kurung di situ. Foto ini bakal jadi penyelamat." jawaban Revo membuat Fathur mengangguk mengerti. Ada baiknya juga. Setidaknya meninggalkan jejak sebelum dalam bahaya.

Fathur menatap ke arah lain. Di mana tertuju ada papan nama di gapura depan pabrik itu terdapat satu kalimat besar. Spontan membacanya pelan, " Kaos Kaki Ceria Berseri Warna. Tulisan itu..."

Fathur menutup telinganya yang berdenging pelan. Dirinya menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba terasa sedikit pusing. Layar memori terekam dipikirannya.

Musim hujan yang baru berhenti.

Fathur kecil berusia 4 tahun yang sedang bermain kartu di ruang tamu. Sesekali melihat Ayahnya yang usai selesai membaca koran, kini sibuk menggunting koran menjadi potongan kecil.

Tin... tin!

Suara klakson mobil itu terdengar tiga kali. Seketika membuat Ayah Akaz itu seketika berhenti melakukan kegiatan menggunting kertas koran itu. Berlari keluar halaman. Fathur kecil dengan penasaran mengikuti langkah ayahnya yang tertawa melambaikan tangan ke supir truk.

Fathur kecil berdiri di teras rumah memandang tulisan di belakang mobil truk. Mobil itu yang kini parkir di depan halaman rumahnya yang luas.

Fathur kecil mengernyit penasaran melihat stiker tulisan besar yang tertempel di mobil itu. Mencoba membaca dan mengejanya pelan dengan terbata-bata," Ka- ka-Os, Kaos. Ka-ki, kaki. Be-be-r, se-ri.., berseri. "

Fathur melihat, supir truk itu berambut panjang. Turun bersemangat dari truk berjabat tangan dengan Ayahnya.

"Akaz! Gimana kabar anda?"

"Go, akhirnya anda datang juga!"

"Beres kan, Go?"

"Yaah Akaz, hari ini adalah hari yang melelahkan bagi saya."

"Aw,"

" Telinga Lo kenapa bang! Sakit? " Suara Revo membuat Fathur seketika mendongakkan kepalanya, menjauhkan tangannya dari menyentuh telinga. Tersadarkan dari lamunannya mengenai flashback memori masa lalu.

"Nggak bro. Bukan apa-apa. Cuma kepikiran sesuatu aja tadi." Fathur tersenyum lebar menjawab Revo.

Revo mengangguk, "Owalah. Gue kira ada yang sakit. Bikin khawatir aja Lo bang! Sampe tadi tiba-tiba tangan Lo gemetar nutup telinga. Kek ketakutan."

"Aman, gue baik-baik aja, bro." Fathur menghela napas kasar, mulai mengalihkan pandangannya melihat ke arah Ziah yang tak berhenti menatap jam dan ponselnya.

"Mana sih, Mbak bodyguard kok lama banget yaa, please jangan tertangkap." Revo mulai gelisah memandang ke arah penjaga tempat pabrik kaos kaki.

"Iyaa bro, udah satu jam mbak itu belum keluar juga dari dalam sana. Mudahan mbak itu aman," Fathur menggigit ujung kuku jempolnya, menepuk dadanya sekali yang sedikit sesak. Jantungnya kali ini tiba-tiba berdebar kencang.

Suasananya terasa berubah tegang setelah dirinya melihat bodyguard itu menyusup ke dalam.

Fathur mondar-mandir khawatir memperhatikan tempat itu. "Ziah, takutnya mbak itu dalam bahaya! Apa kita masuk aja sekarang ke dalam ya? Buat selamatkan mbak itu sama Tante Ifa."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang