"Jagain mereka dulu ya. Saya ada urusan sebentar." Paman Iga mengatakan pelan kepada Revo yang sedang duduk sambil makan Apel kesukaannya.
"Oke Om, siap! Om tenang aja. Revo bakal jagain Kak Azi sama Bang Fathur di sini." Revo berkata dengan semangat.
Paman Iga tersenyum ke arah Revo yang telah menghabiskan Apel ketiga pemberiannya. Paman Iga lantas berlalu pergi dengan langkah cepat.
Revo menghela napas menunggu sendirian dua orang di hadapannya baru selesai diobati. Mereka memberi perban kepada kaki Fathur, dan lengan maupun pelipis Ziah yang mengeluarkan banyak darah.
"Haah..., kenapa Kak Azi dan Bang Fathur sering banget terluka yaa." Revo memandang Fathur dan Ziah yang terlelap dengan damai di ruang rumah sakit yang sama. Keduanya menjadi pasien dengan bangkar yang bersebelahan.
Revo menepuk jidatnya, "Gue lupa lagi, belum ngabarin Tante Ifafa." Jemarinya mengambil ponsel yang berada di dalam tas sekolah. Revo menyalakan ponselnya, menggulir layar dengan tak sabar, mencari bagian kontak Tantenya. Segera menekan layar panggilan.
Drrrt!
"Halo, Tante! Revo sama Kak Azi lagi di-" Revo berhenti berbicara saat mendengar suara bapak-bapak di balik telepon Tantenya. "Gue nggak salah nomer kan?"
"Halo, halo! Ini hpnya tertinggal di warung saya, bisa diambil sekarang yaa."
"Hah apa, Pak? Hp Tante Ifafa Ketinggalan! Kok bisa," Revo menganga kaget, nggak biasanya Tante Ifafa ceroboh dalam membawa barang.
"Iyaa, ini tadi mbak pemilik hp ini beli es degan terus buru-buru pergi sampai ninggalin hpnya,"
"Ouh iyaa..., oke siap, Pak. Nanti Aku ke sana ambil hpnya, Pak. Terima kasih banyak infonya, Pak." Revo menutup panggilan. Tidak lama setelah itu pesan SMS masuk dari nomer Tantenya. Pesan singkat itu membuat Revo panik.
______________________
hari ini
11.15
+62857××××××
Tante Ifafa Bawel:
Revo, Tante nggak pulang hari ini.
Toko Kaos Kaki Ceria!
___________________
Revo bergegas menuju ke luar ruangan. Di kursi tunggu. Revo menghampiri cepat perempuan tinggi yang memakai topi menutupi matanya. Perempuan tinggi itu sedang duduk bersandar sambil mendengarkan lagu.
"Mbak bodyguard, tolong cari Tante Ifafa. Sama kabari yang lainnya, buat cari tau soal toko kaus kaki ceria." Revo berkata dengan cemas.
"Oke, Baik." Perempuan tinggi itu melepas topinya, mengangguk. "Saya akan mengabari yang lainnya. Tuan Revo jangan cemas. Nona Ifafa tadi barusan mengabari saya untuk menjaga kalian berdua."
Sementara itu di dalam ruangan. Suara alarm ponsel berdering sangat keras. Hal itu sontak membuat Fathur terbangun kaget. Perlahan mengucek matanya.
Aroma obat-obatan tercium, Fathur menatap ruangan tembok putih. Fathur juga tampak kaget saat melihat infus terpasang di tangannya.
Pemuda itu menoleh ke samping, mendapati Ziah tertidur di bangkar sebelahnya dan diinfus juga. Wajah Ziah yang tengah tertidur tenang, tiba-tiba terlihat gelisah dalam tidurnya.
"Kak Zei..."
Suara gumaman pelan Ziah terdengar khawatir. Fathur bergerak turun dari bangkar, kakinya mulai menapak lantai. Ingin menghampiri Ziah yang tiba-tiba menangis dalam tidurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jam Pelajaran Olahraga
Misteri / ThrillerPelajaran Olahraga sebagai pelajaran yang diminati para siswa sebab tidak hanya dilakukan di kelas melainkan di luar kelas yakni lapangan. Bagaimana jika jam pelajaran olahraga itu menjadi momen jam paling mengerikan? Si tokoh utama lelaki bernama...
