10.59
Ifafa memberhentikan motornya di depan warung kecil pedagang es kelapa muda pinggir jalan. Ifafa membeli segelas es degan itu, meminumnya dengan tenang.
Ifafa menatap tempat ini rasanya damai. "Rasanya sama," Ifafa tersenyum meneguk dinginnya es tersebut sebagai pembeli pertama. Karena belum ada pelanggan karena warung kecil ini baru buka di jam 11 siang.
Telepon berdering, Ifafa membuka ponselnya. Mengangkatnya dengan cepat. " Gimana, apa dua keponakan saya sudah pulang?"
"Belum, Nona. Nona Ziah dan Tuan Revo masih ada di sekolah. Mereka masih menyelesaikan urusannya." Jawaban dari seorang di balik telepon itu membuat Ifafa menyentuh kepala.
Ifafa menggenggam erat sisi luar gelas dingin. "Oke, jaga keamanan mereka berdua. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya hingga selesai. Kabari saya jika mereka sudah mau pulang ke rumah,"
"Baik, Nona Bos."
Tut!
Panggilan terputus.
Ifafa seketika meneguk es kelapa muda itu hingga tandas habis. "Saya nggak akan biarin kejadian itu terulang kembali," Ifafa membuka ponselnya, termangu memandang wallpaper di ponselnya. Menampilkan foto dirinya dengan ketiga keponakannya.
Ifafa yang baru sampai rumah terkejut saat melihat rumah berantakan dipenuhi banyak mainan. Terus dirinya melihat dua anak kecil laki-laki berlarian ke sana kemari. Ifafa menatap kesal dua orang kakaknya yang tengah santai menikmati teh.
"Mbak Rika, Mbak Eri Lihat ini! Rumahku berantakan gara-gara anak kalian!" Ifafa berkata dengan marah dan kesal.
"Ifafa, biar kamu nggak sendirian di rumah besar ini. Mbak titip Zeiro dan Ziah, tinggal sama kamu." Mbak Rika mengatakan dengan pelan.
"HAH, APA! NGGAK MAU!"
"Iyaa, Mbak juga setuju sama Mbak Rika. Sekalian sama Revo juga. " Mbak Eri tersenyum lebar berdiri menepuk bahu Ifafa, "Pasti selama ini kamu kesepian karena nggak ada siapapun yang nemenin kamu di rumah ini."
"BAWA ANAK KALIAN PERGI SEKARANG!" Ifafa berteriak menjawab dengan emosi, seketika berlalu masuk ke dalam kamar. Menutup pintu, membantingnya dengan kasar. "Lebih baik tinggal sendirian dari pada harus ngurusin anak orang."
Ifafa mengunci kamar, ketika dirinya baru mau rebahan di atas kasur. Ifafa menghentikan langkahnya, tercengang saat mendapati seorang anak kecil perempuan tertidur dengan tenang.
"Dia, kenapa tidur di sini!"
Ifafa seketika memilih duduk di kursi belajar sudut ruangan. Ifafa mulai menelungkupkan kepalanya di atas buku. "Kenapa mereka harus ngelakuin hal ini ke gue sih."
Ifafa tertidur di atas meja, tidak lama dirinya terbangun. Dirinya menatap kaget ada selimut yang berada di dekatnya.
Seketika Ifafa mendengar isakan tangis pelan anak kecil perempuan. Ifafa menoleh ke belakang. Dirinya melihat anak kecil yang menahan tangis, anak perempuan kecil itu tengah berusaha membuka pintu yang terkunci berkali-kali. Namun gagal.
Kemudian anak kecil itu mulai menangis keras, "Mama...."
Ifafa seketika berjalan cepat mendekati pintu itu, memutar kunci itu dan membuka pintu dengan lebar-lebar. "Berhenti nangis,"
Anak kecil itu seketika perlahan berhenti menangis, tangan kecil itu menghapus air mata di pipi sendiri. "Makasih, udah bukain pintunya, Tante!" Anak kecil perempuan berusia 7 tahun itu tiba-tiba memeluk Ifafa dengan senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jam Pelajaran Olahraga
Mistério / SuspensePelajaran Olahraga sebagai pelajaran yang diminati para siswa sebab tidak hanya dilakukan di kelas melainkan di luar kelas yakni lapangan. Bagaimana jika jam pelajaran olahraga itu menjadi momen jam paling mengerikan? Si tokoh utama lelaki bernama...
