Lima menit berlalu, Ziah masih duduk di deretan kursi depan, dekat pintu kamar pasien supir taxi yang kecelakaan satu jam lalu.
Mendengarkan suara tangisan istri dan anak kecil berusia 8 tahun. Dari dalam bangsal supir taxi itu, mereka menangis sesenggukan hingga terdengar keluar ruangan.
Tidak lama pintu terbuka. Menampilkan wanita paruh baya, kini mulai tersenyum haru ke arah Ziah. Ziah menoleh sekali, mendapati ibu itu berlalu duduk di samping Ziah.
Ibu itu mengusap wajahnya berulang kali. Menghapus air matanya yang mengenai pipinya.
Ibu itu seraya meraih tangan Ziah, mengelusnya dengan lembut. Ziah spontan menarik tangannya, dirinya tidak nyaman untuk disentuh seperti itu.
"Terima kasih banyak yah, Nak. Sudah bersedia mendonorkan darah ke suami saya pas kritis tadi. " ucap Ibu itu tersenyum dengan tatapannya yang tulus.
"Maaf sebelumnya, seharusnya saya datang lebih cepat untuk bisa mendonorkan darah saya. Saya telah terlambat mengetahui kabar tentang suami saya. " lanjutnya menundukkan kepalanya, terlihat tatapannya sangat merasa bersalah dan menyesal.
Ziah mengangguk tidak mempermasalahkan hal itu. Kebetulan darahnya sama. Setelah mendengar akhir perkataan dari ibu itu, Ziah mulai beranjak berdiri dari kursi. Ketika melihat notifikasi masuk dari ponselnya.
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun atau bahkan menjawab pertanyaan dari ibu itu. Ziah mulai berjalan pergi dengan memasukkan ponselnya ke celana.
Kemudian meninggalkan ibu itu yang masih duduk manis tersenyum kepadanya. Sambil melambaikan tangan dua kali ke arahnya.
Triiiing....
Ziah seketika berhenti tepat di belokan kanan pertama dari ruangan supir taxi itu. Ketika merasakan ponselnya bergetar dan berdering, di saku celana olahraga trainingnya.
Segera Ziah mengangkat ponselnya, ketika melihat nama kontak yang menelponnya. "Halo, Revo. Gimana, Lo udah berhasil liat cctv di perusahaan taxi itu?"
"Kak Azi, gue kaget banget pas liat cctv barusan. Kalau penyebab mobil itu meledak adalah Istri dari suami supir itu. Dan sekarang polisi juga lagi bergerak buat menangkap istri dari supir taxi itu, Kak."
Ziah terkejut mendengar informasi dari Revo. Ziah mulai berbalik arah, berlari pelan menuju ruangan pasien supir taxi tadi. Ziah terperangah mendapati ibu itu mulai diborgol, lalu tersenyum menyeringai senang ke arahnya.
"Oke, thanks infonya." Ziah menutup ponselnya.
Di samping itu, seorang anak kecil perempuan berusia 8 tahun, menangis kencang menghalangi langkah polisi yang mulai membawa Ibunya. Salah satu polisi mulai menggendong anak kecil itu, lalu dua polisi lainnya mencekal tangan ibu itu yang diborgol.
"Bundaaaaa.... Bundaa! Jangan bawa bundaaa..."
Anak kecil itu meronta-ronta menangis, dan tidak lama polisi itu menurunkan anak kecil itu ketika melihat Ziah.
"Om polisi pinjam bundamu bentar yaa... " ujar polisi itu dengan lembut mengelus puncak kepala anak kecil itu. Kemudian berlari menyusul dua polisi yang membawa pelaku.
Segera Ziah berjalan pelan menghampiri anak kecil itu. Lalu Ziah mulai mengeluarkan permen dari kantung celananya.
"Buat kamu."
"Makasih Kak, hiks bunda kenapa di bawa polisi hiks. Bunda kan bukan orang jahat. Caca yakin kalau bunda gak salah."
Ziah tersenyum tipis mendengar penuturan anak kecil itu. Ziah mulai menggandeng tangan mungil itu, menuju ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana Kak? Jangan lama-lama yaa Kak, soalnya Ayah lagi sendirian di sana, Kak." tanya adik kecil itu sambil menunjuk kamar pasien.
"Beli es cream." Jawab Ziah singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jam Pelajaran Olahraga
Mistério / SuspensePelajaran Olahraga sebagai pelajaran yang diminati para siswa sebab tidak hanya dilakukan di kelas melainkan di luar kelas yakni lapangan. Bagaimana jika jam pelajaran olahraga itu menjadi momen jam paling mengerikan? Si tokoh utama lelaki bernama...
