hal-44

37 3 0
                                        

"Lo ngikutin gue dari tadi?" tanya Boby mengacak rambutnya terlihat frustasi setelah dirinya muncul tidak sengaja menguping.

"Sorry, Gue... ngikutin Tyas yang lompat dari pagar sekolah tadi," jawab Fathur sedikit malu, merasa bersalah karena telah menguntit  Tyas diam-diam yang kabur dari sekolah tadi.

Saat itu. Fathur posisinya mulai beranjak pergi dari lapangan basket. Melewati perpustakaan, sekilas melihat Bondan dan Jovi melambaikan tangan ke arahnya lalu kembali sibuk membereskan buku-buku di perpustakaan.

Fathur tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanan menuju kelas. Ketika berbelok di lorong kelas sepuluh, langkahnya mulai berhenti.

Sesaat matanya tak sengaja melihat seorang cewek berlari. "Lah, itu Tyas bukan sih." gumamnya pelan, mengernyit melihat cewek itu sembari mengamati ke arah kanan kiri.

"Kayaknya nggak mungkin deh, Tyas nggak mungkin bolos." Fathur bersembunyi di balik pohon, memperhatikan dari jarak yang jauh.

Seorang itu mengenakan seragam sama sepertinya menggunakan masker membuatnya ragu. Jika itu teman sekelasnya atau bukan.

Fathur dengan penasaran mengikuti cewek itu. Seorang cewek itu berjalan cepat mengendap-endap, melalui barisan belakang kelas sepuluh menuju gerbang belakang sekolah. 

Seorang itu melepas maskernya, lalu manjat gerbang besi dengan lihai. Gerbang besi belakang sekolah ini memang tidak pernah di buka, sehingga terlihat jelas berkarat. Fathur mengangguk ternyata tebakannya benar kalau cewek itu adalah Tyas, yang berencana bolos.

Fathur terperangah menatap tingginya gerbang merah besi itu. "Gila, Tyas jago amat manjat. Lagian buat apa juga gue ngikutin Tyas. Mending balik ke kelas."

Fathur berbalik lalu menggelengkan kepala, "Asli..., tapi gue penasaran. Karena nggak biasanya Tyas bolos. Dia si paling tepat waktu dan anti bolos. Oke, gimana caranya manjat?"

Fathur mengatakan kejadian yang sebenarnya dari mulai mengikuti Tyas sampai tidak sengaja menguping obrolan.

Fathur sedikit terkejut melihat Boby dan Tyas menatapnya tajam. Sehingga dihadapannya suasananya terasa tegang. Boby dan Tyas terlihat syok melihat kehadirannya. "Gue salah yaa, maaf."

"Ss-sial!" Tyas menggigit ujung jempol kukunya sendiri. Setelah melihat keberadaan Fathur, mengangkat jari telunjuknya ke arahnya dengan kesal, "Harusnya Lo nggak usah ngikutin gue."

"Maaf, " Fathur menggaruk lehernya merasa bersalah, pandangannya mulai menunduk. "Gue minta maaf Yas, karena gue udah ngikutin Lo diem-diem tadi."

Tyas menggelengkan kepala, "Lo tahu, gue nggak berhak denger maaf Lo. Karena kecerobohan gue sendiri, sekarang Lo dalam bahaya."

Boby mengusap wajahnya frustasi, seketika panik menatap sekeliling yang sepi, "Karena Lo udah tau identitas kita berdua. Gue nggak tau lagi apa yang akan mereka perbuat."

"Maksud ucapan Lo berdua apa sih?" Fathur sedikit panik mendengar perkataan Tyas dan Boby. "Memangnya Apa yang bakal mereka lakuin ke gue! Gue bakal dibunuh gitu kan?"

Boby menghela napas, "Gue cuma berharap itu nggak terjadi, tapi Lo tenang aja gue nggak akan biarin temen gue terluka. "

Ting! Drrtt

Suara notifikasi terdengar bersahutan di ponsel yang di pegang Tyas dan Boby hingga layar tersebut menyala bersamaan.

Fathur melihat ke arah Tyas dan Boby yang mulai berbalik badan membelakanginya dan menjauhkan ponsel dari dirinya. "Memangnya  mereka dapat pesan apa? Sampai gue nggak boleh tahu."

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang