hal-55

39 2 0
                                        


"Gue bakal bikin teman Lo itu bahagia bertemu dengan Ayahnya di alam baka sekarang. " Hasan tersenyum senang.

Detik kemudian Hasan membawa pisau di tangannya, mendekat ke arah Fathur yang tidak sadarkan diri. Hasan bergerak cepat mengarahkan pisaunya untuk melukai Fathur.

"Sial! Jangan sentuh dia!" Ziah lompat dari meja, mulai meninju wajah seorang itu dari atas.

Bugh!

Tinjuan sekali dari Ziah itu membuat Hasan tersungkur, berhasil mengenai wajah Hasan hingga mengeluarkan darah di hidungnya.

"Arghh, waw!" Hasan meringis pelan, mengusap hidungnya. Hasan mengangkat jempolnya sekali ke arah Ziah. Kemudian bertepuk tangan saat mendapat tinjuan pertama dari Ziah.

Seketika Hasan tertawa terbahak-bahak." BAHAHAH, LO KIRA LO BISA KALAHIN GUE ZIAH?"

Hasan mengepalkan tangannya. Berhenti tertawa, menatapnya nyalang. 

Ziah melihat Hasan berjalan maju. Ziah seketika dengan cepat berjalan tertatih-tatih, mulai berdiri di depan Fathur. "Kasih tau gue, apa alasan Lo bunuh Fathur?"

"Lo gak perlu tau alasan gue apa, ini impian lama gue!" Hasan beralih menatap ke arah Fathur dengan kebencian, " Gue udah lama menahan diri gue ketika dia ada di dekat gue selama ini."

Hasan mengangkat pisau itu, menggenggam erat, berjalan santai ke arah Ziah. Lalu Hasan menodongkan pisau itu tepat di depan mata Ziah. "Seharusnya Lo, membantu gue mewujudkan mimpi gue buat bunuh Fathur."

Ziah mengangkat alis sebelahnya, tersenyum tipis saat mendengar perkataan Hasan, "Oke, kalau itu mau Lo." 

Hasan melihat Ziah menatapnya tajam. seketika Hasan menyerang Ziah dengan pisau.

Sreet!

Ziah berupaya menghindari pisau itu, hingga lengannya tak sadar sedikit tergores.

"Sampai mana Lo bisa bertahan dari pisau gue, Ziah?" Hasan bertanya dengan senang, saat melihat lengan Ziah berhasil terkena pisau miliknya.

Ziah mengembuskan napasnya, mencoba  fokus dan tenang. Detik kemudian dengan cepat Ziah berhasil menghindari serangan berikutnya dari Hasan. Ziah berkata pelan," Gue bakal hancurin semua impian gila Lo itu,"

Ziah menendang kepala Hasan, Hasan tersungkur menabrak rak buku. Buku-buku berjatuhan. "Sial!"Hasan mendorong kasar rak itu kemudian dengan marah menghajar Ziah.

Hasan menendang  satu kaki Ziah yang pincang, hingga Ziah kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. Hasan mengangkat pisaunya menancap ke wajah Ziah. Ziah berguling cepat menghindari pisau itu.

Ziah menarik tangan kanan Hasan memelintirnya. Hasan meringis sakit, seketika membalas Ziah, menggerakkan tangan kiri menjambak rambut Ziah.

Hasan dengan cepat menekuk lututnya menyerang perut Ziah maju. Ziah bergerak mundur. Kemudian Hasan lompat berputar, dua kakinya bergerak mengapit kepala Ziah ke bawah lantai.

Ziah lantas terjatuh saat tubuhnya terbanting ke lantai. Hasan tersenyum senang merasakan bebas di saat tangannya tak lagi dipelintir.

Ziah terkapar terlentang, matanya memandang ke arah Hasan yang mulai meninju wajahnya. Pelipis Ziah mulai sobek berdarah.

"Jangan halangi gue kalau Lo masih mau hidup," Seketika Hasan menarik kasar rambut Ziah, menampar kasar wajah Ziah berkali-kali.

Plak!

"Ini hadiah buat Lo,"

Bugh!

"Berhenti natap gue gitu anjing! " ucap Hasan saat melihat tatapan Ziah yang sama sekali tidak terlihat takut. Hasan seketika meninju perut Ziah berulang kali.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang