hal-16

35 2 0
                                        


Varo tersenyum saat melihat seorang datang menengoknya di penjara dengan muka kesalnya.

"Kamu mau  bikin paman streess! Mama kamu selalu nanyain ke paman gimana kabar kamu? Paman jadi berdosa karena berbohong."

Pesan WhatsApp 2 Minggu lalu.
____________________________

10 Maret 2024

Varo:

Mama di mana? Kok nggak ada orang di rumah

Mama:
Sayang, Mama masih kerja di Loundry. Sebentar lagi Farhan kan pulang sekolah.

Jangan lupa makan yah. Jangan lupa juga bilangin Farhan kalau udah pulang suruh makan yah.

_____________________________

Varo yang baru tiba di rumah. Niatnya mau bikin kejutan malah di rumah tidak ada orang. Dengan bersemangat tiba-tiba menjatuhkan diri di atas kasur.

"Kangen banget gue sama kasur ini. Setidaknya gue udah di rumah. Bisa-bisa gue encok kalau terus-terusan di rumah Mbah putri. Hahh"

Setelah menghabiskan hari-hari menyebalkan di rumah Mbah  mulai dari berkebun, gebuk padi, dan semuanya membuat badan pegal-pegal lelah berhari-hari.

"Ini semua gara-gara paman Rego,  ngilangin galau bukannya healing malah di suruh gebuk padi sialan emang. " Varo menatap foto papanya. "Andai papa masih di sini, pasti Paman Rego udah diomelin habis-habisan. Varo kangen banget sama Papa...."

Tok...tok!

"Permisiiii, pakeeeet!" Suara ketukan pintu membuat Varo bangkit dari kasur lantas berjalan menuju pintu "Perasaan gue nggak beli paket minggu ini, apa Farhan yah?"

Varo mulai membuka pintu, di sana terdapat kurir yang memegang paket memperhatikan namanya. "Paket atas nama mas Varo?"

"Saya lagi nggak pesan paket mas. Varo siapa yah Mas? Mungkin aja Varo yang lainnya."

"Varo Aksegaf Yuga. Nama masnya siapa? " Varo seketika tercengang mendengar nama lengkapnya.

"Coba liat mas," Varo mengambilnya memperhatikan nama, alamat rumahnya, bahkan nomer rumahnya.

Matanya melotot tercengang semuanya persis sama dengan alamat rumahnya. Bagaimana bisa namanya sama seperti dirinya?"Apa ada yang sengaja ngasih paket ke gue? Tapi siapa?" tanyanya dalam hati.

"Ini sepertinya punya saya Mas. Berapa bayarnya mas?" Varo akhirnya bertanya dengan terpaksa mengambil paket tersebut.

"Paketnya sudah dibayar, Mas. "

"Ouh gitu yah, oke Makasih, Mas." Tidak lama kurir paket tersebut pergi dengan motor yang dipenuhi  sekeranjang paket berjumlah banyak. Varo seketika menggenggam paketnya, masuk ke dalam menutup pintunya.

"Maaf, Paman. Varo terpaksa melakukan semua ini. Yah karena sayangnya saingan kita berat. Jadi ini salah satu cara Varo buat jebak dia. Please, Paman. Hanya tersisa tiga hari lagi. Varo butuh bantuan Paman."

Varo mengembangkan senyumnya. Meskipun ini adalah cara yang tidak benar. Tapi tidak ada cara lain bagi Varo untuk kali ini.

"Mereka pasti ngerasa lega, karena kamu yang di tuduh menjadi pelaku pembunuhan dan sekarang masuk ke penjara." Varo tersenyum saat mendengar penuturan pamannya .

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang