Hal-59 Jam

28 1 0
                                        

Suara gesekan biola yang merdu memenuhi ruangan yang sunyi. Seorang Kakek tua berkacamata itu sedang melukis sendirian pemandangan danau di kanvas. Menggoreskan gambar yang indah dari tangannya.

Tok... tok!

Tidak lama suara yang dinantikan akhirnya datang. Kakek tua itu meletakkan kuasnya dan mematikan kaset audio soundnya. Selepas itu memberi izin seorang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

Lima orang masuk seraya mengangkat satu persatu barang bergantian. Teifo tersenyum senang melihat lima orang membawakan tumpukan kanvas baru yang tersegel plastik.

Kakek tua itu memperhatikan mereka yang meletakkan di sudut ruangan. Detik kemudian mereka pembawa kanvas pergi, kecuali satu orang yang berdiri dengan raut gemetar dan wajah berkeringat.

Teifo melepas sarung tangannya. Melepas kacamatanya yang terkena sedikit cat berwarna hijau. Mengelapnya pelan. "Bagaimana, apa kalian berhasil mencuri diary itu?"

"Ma-af, Bos. Ka-mi ti-dak berhasil menemukan Diary itu. Sepertinya diary itu disembunyikan oleh seorang anak remaja yang merupakan keponakan Hago." Jawab anak buahnya itu mengatakan laporannya tampak gemetar.

"Tidak berhasil? Hahaha!" Teifo yang mendengar itu seketika meninju wajah salah anak buah itu, "Panggil tujuh anggota lainnya sekarang!"

Tujuh orang yang menguping dari luar seketika bergegas masuk ke dalam ruangan. Teifo yang melihat itu tersenyum menyeringai mengangkat ember cat.

Seketika menyiram ke delapan anak buah itu dengan ember cat besar berwarna hijau tua di dekatnya. Teifo tersedak tawa melihat mereka basah kuyup terkena cat. Aroma minyak lampu yang menguar di cat itu membuat ke delapan orang itu gemetar ketakutan.

Setelah itu, Teifo menghela napasnya. Membuang sembarang kuas-kuas di meja itu ke lantai. "Baiklah, kita pakai cara yang terhormat. Beri pesan pada anak remaja itu, untuk menyerahkan Diary dan Peta tersebut. Jika kedua anak itu ingin keluarganya yang tersisa tetap hidup."

Teifo meraih teko kemudian menuangkan segelas air minum. Menegaknya hingga tandas. "Saya akan memberikan waktu dua hari pada anak itu untuk menyerahkannya pada saya langsung."

" Baik, bos. Laksanakan!"

"Silakan pergi, kalian semua jangan temui saya lagi jika masih ingin hidup." Teifo mengatakan hal itu. Mereka bergegas keluar dari ruangan menakutkan ini. Teifo mengunci pintu ruangan itu.

Teifo kini berjalan ke arah jendela kayu yang tertutup, di dekat jendela itu. Teifo membuka salah satu kanvas lukisan yang tertutup kain.

Di lukisan itu tampak terlihat anak kecil yang duduk menangis sendirian di tengah sawah. Sedangkan di ujung sawah terdapat seorang anak kecil yang ditemani dua orang tuanya.

"Anak yang malang, " Teifo termangu menatap lukisan itu. Seketika menutupi lukisan itu kembali. Teifo lantas melempar vas bunga kaca ke lukisan itu.

Teifo tertawa terbahak-bahak, wajahnya merah padam dipenuhi amarah. Matanya perlahan memerah, air mata seketika mengalir cepat membasahi pipinya.

38 tahun lalu

"Ayah, akhirnya Tei menang juara satu lomba menggambar di sekolah." Teifo kecil berusia 10 tahun berkata dalam hati. Tersenyum memandang piala dan mendali di tangannya.

Teifo kecil mulai berjalan menuju kamar seorang Ayahnya. Untuk menunjukkan piala yang didapatnya. Teifo berhenti melangkah, saat melihat adiknya yang terlihat murung memberitahukan jika adiknya kalah dalam lomba menggambar.

"Gak apa, Nak. Itu cuma perlombaan. Sapa tau suatu saat nanti bisa menang. " Ayahnya berkata lembut seraya mengelus kepala adiknya

"Tapi teiger juga seneng banget, Kak Teifo menang lomba menggambar. Juara satu lagi yaah," Teiger berucap dengan semangat. Teifo yang mendengar itu tersentak kaget.

Jam Pelajaran Olahraga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang