Merasa beberapa kali bahwa dunia bekerja di ambang batas mampu manusia. Sebab, begini. Ada orang yg bilang bahwa cara terbaik untuk hidup adalah mengejar impian yg mereka punya. Ada sekelompok orang yg menyebut bahwa menghadapi kejamnya realita jauh lebih bijak dibanding terlelap dalam bunga tidur itu sendiri. Tapi, ada juga yg bilang cara terbaik hidup adalah belajar setiap harinya. Pada sebuah kesalahan yg pernah terjadi, pada sebuah keinginan yg gagal menemui tuju, atau pada sebuah harapan yg tidak menemui ujung baik.
"Kalau hidup adalah sebuah pelajaran, maka aku udah memastikan kalau udah berulang kali remedial. Udah berapa banyak gagal yg dijemput? Udah berapa banyak makian yg diterima? Udah berapa banyak hal pahit yg perlu ditelan mentah-mentah? Terlalu banyak, Aku sampai muak menghitungnya."
"Kenapa dunia kayaknya nggak pernah berpihak ke aku, ya, Kak?". Dia mendesah berat saat bertanya. "Kadang lama-kelamaan aku mikir, sia-sia juga usaha kalau akhirnya selalu jauh di luar perkiraan."
Saat itu sunoo tidak langsung bersuara, Dia menatap kliennya. Memperhatikan bagaimana seorang perempuan yg lebih muda darinya itu menopang dagu di atas lutut dengan pandangan putus asa dan letih akan kehidupan.
Yerin menatap psikolog muda yg ada di hadapannya. "Kadang aku selalu pengen pulang, padahal aku udah sampai di rumah. Kadang aku pengen ketawa, padahal satu menit yg lalu aku baru aja selesai ketawa. Apa selama ini aku hidup tanpa pernah memaknai arti hidup itu sendiri, ya, Kak?"
Yerin adalah klien terakhirnya, setelah yerin selesai maka pekerjaan sunoo hari ini juga selesai. "Kalau kamu tanya apakah hidup cukup adil buat saya?, Maka jawabannya enggak. Dunia juga enggak berpihak ke saya, enggak berpihak ke kamu, ke teman-temanmu, ke keluarga, ke dosen, bahkan ke presiden."
"Tapi titik adilnya justru di situ. Semua manusia sama-sama merasa kalau dunia enggak pernah berpihak ke mereka. Karena, ya, memang pada kenyataannya dunia enggak berpihak ke siapapun."
"Kalau gitu, apa gunanya manusia hidup, padahal di dunia ini, enggak ada satu pun orang yg berpihak ke kita?" Yerin bertanya, kebingungan.
Sunoo mengetuk jarinya di ujung meja. "Hidup adalah perkara serius yg sayangnya enggak pernah diajarkan pasti oleh tuan-tuan manusia. Setiap orang hanya meraba, apakah jalannya udah tepat atau justru ditikam gelap. Dan barangkali, berusaha jadi satu-satunya kegiatan yg enggak pernah tuntas sampai manusia terlelap panjang. Karena satu-satunya yg bisa dilakukan manusia adalah tetap mencoba. Setiap harinya, selalu, dan terus-menerus."
Pertanyaan mengenai "Alasan" adalah hal-hal yg selalu ditanyakan orang-orang. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ujian esai adalah waktu di mana seluruh guru mengajukan pertanyaan dengan alasan yg pasti. Misal; sebutkan persamaan semut dan kura-kura beserta alasannya!
Sering kali hal-hal yg terjadi di dunia datangnya dari sebuah alasan yg pasti. Alasan bubur dimasak untuk mempermudah manusia makan. Alasan lampu lalu lintas diciptakan untuk menertibkan lalu-lalang kendaraan. Ada banyak sekali alasan, jadi Yerin sempat berpikir: apakah untuk hidup memang butuh banyak sebuah alasan pasti?
"Kak sunoo bahagia?" Yerin bertanya sebari menatap tumpukan salju di luar sana. Bahagia itu besar, bahagia itu tenang, apakah dia bahagia dengan merasa tenang?
Sesi terapi memang selalu seperti ini. Sunoo tidak pernah bertanya banyak hal. Dia hanya mendengarkan banyak hal dari kliennya. Karena sejujurnya manusia hanya butuh di dengar. Mereka bertanya maka sunoo akan menjawab sesuai apa yg seharusnya.
"Bahagia...", Sunoo menjawab
"Kenapa bahagia?, Alasannya apa?"
"Ya bahagia aja. Memangnya kita bahagia butuh sebuah alasan?", Sunoo tersenyum tipis saat melihat kening Yerin yg berkerut.
"Bukannya kita butuh alasan untuk melakukan dan merasakan sesuatu ya kak? Kita nangis karena ngerasa sedih. Kita marah karena ngerasa terganggu. Terus, kak Sunoo bahagia karena apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny || Kim.Sunoo
Fiksi PenggemarSunooHarem Au!!!📌 Time traveler. Suatu keajaiban membawa sunoo kembali ke masa lalu demi mencegah kecelakaan itu. Sunoo seorang psikolog, kembali ke masa sekolahnya, saat dia masih kelas 2 SHS. Bertemu kembali dengan cinta pertamanya disana. Akanka...
