Kehidupan tenang Alana perlahan terganggu oleh kehadiran seorang stalker. Membayangi kehidupannya siang dan malam. Menjajah mimpi-mimpinya. Menanamkan keresahan di setiap langkahnya.
Siapakah pria yang menjadi stalkernya? Apa alasan pria itu menggan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari apes tidak pernah ada di dalam kalender. Selalu datang tiba-tiba, tanpa terduga. Begitulah yang dialami Alana hari ini.
Alana mondar mandir di dalam toilet. Kebingungan bagaimana cara keluar dari toilet di saat tembus. Sialnya lagi, dia memakai rok berwarna krem.
"Harus minta tolong sama siapa coba?" Alana menggigit jari gelisah. Merasa tak ada yang bisa dimintai tolong. Jika sebelumnya Alana bisa meminta bantuan Bulan, sekarang tidak lagi.
"Ah! Sama Fanya aja kali ya? Tapi kan kami gak terlalu dekat. Nanti dibilang merepotkan." Dilemanya.
Alana mengacak rambut frustasi mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki teman baik selain Bulan.
Begitu introvert kah dirinya hingga sulit mendapatkan teman baik?
Cukup lama termenung, akhirnya Alana memilih membuka cardigan hitamnya. Melilitkan cardigan ke sekitar pinggang dan tersenyum puas melihat hasilnya.
Benar! Alana tidak membutuhkan bantuan orang lain. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dia kan mandiri.
"Kalau udah pulang gini, gak masalah kali ya pakai baju kaos pendek? Gak mungkin juga kan dosen negur?" gumam Alana.
Di jurusan pendidikan, aturan berpakaian diatur cukup ketat. Anak-anak jurusan Pendidikan harus memakai pakaian sopan dan tidak boleh memakai baju kaos oblong. Selain itu, anak-anak di jurusan Alana juga tidak boleh memakai sendal.
Alana keluar dari gedung kampus dengan sangat hati-hati, menghindari para dosen lantaran takut diomeli.
"Alana," panggil seseorang sambil menepuk bahu Alana sehingga gadis itu berbalik.
Alana mengerjap kaget melihat Matthew. "Kebetulan banget kita bertemu di sini."
Matthew tersenyum kecil. "Bukan kebetulan. Gue udah nungguin Lo dari tadi."
"Oh ya? Kenapa nungguin gue?"
Matthew tersenyum lebar sembari memeluk Alana bahagia. "Gue menang kompetisi, Na!!"
Tentu Alana kebingungan dengan tindakan tiba-tiba Matthew dan tidak membalas pelukan pria tersebut. Ia mendorong pelan tubuh Matthew. Lalu, bertanya penasaran. "Kompetisi apa?"
"Ituloh, kompetisi gambar yang gue bilang dua bulan lalu pas kita bertemu di taman dekat panti asuhan. Yang objek gambarnya Lo dan anak-anak," jelas Matthew menggebu-gebu.
"Ohh itu!!" Alana mengangguk kala teringat Matthew pernah menjadikan dirinya sebagai muse. "Congrats ya!"
Senyuman lebar terus terpatri di bibir merah Matthew. "Sebagai ucapan terima kasih, gue mau traktir Lo. Lo mau ditraktir apa?"
Alana menggeleng cepat. Menolak tawaran Matthew. "Gak usah. Lagipula gue gak ada kontribusi apapun."
"Gak bisa gitu, Na. Ini kan berkat Lo yang mau jadi Muse gue," bujuk Matthew.