38 (rimba sebel!)

1K 54 15
                                        

Sejak kedatangan Latasya ke rumah, suasana sedikit berbeda. Kali ini, dia membawa beberapa wanita dewasa yang ternyata adalah teman-temannya. Di sisi lain, Rimba baru saja pulang sekolah dengan mood yang buruk karena rencana liburan mereka terpaksa ditunda akibat pekerjaan Stevan yang masih menumpuk.

Saat melihat Latasya masuk bersama teman-temannya, Rimba langsung berlari ke arah ayah dan abangnya tanpa menyapa sang tante. Dia memeluk erat Stevan dan menatap tajam para wanita yang mencuri pandang ke arah ayah dan abangnya.

Latasya, yang menyadari sikap protektif Rimba, hanya terkekeh. “Wah, keponakan Aunty yang satu ini memang posesif banget sama ayah dan abangnya, ya,” ujar Latasya dengan nada menggoda.

“Tidak peduli!” seru Rimba dengan wajah cemberut, tetap memeluk lengan ayahnya erat-erat.

Latasya melanjutkan dengan senyum nakal. “Tapi kamu tahu nggak, teman-teman Aunty lebih suka tipe seperti Papa kamu. Kalau Argo itu terlalu muda, kurang pengalaman.”

Rimba semakin merengut, wajahnya merah menahan kesal. “Aunty, berhenti ngomong yang aneh-aneh!”

Stevan mengelus kepala putranya, mencoba menenangkan. Sementara itu, Argo hanya diam, namun diam-diam menikmati cemilan sambil memperhatikan adiknya yang mulai heboh.

“Sudahlah, Tata. Jangan usil sama Rimba,” ujar Stevan santai, namun tegas.

Latasya terkekeh lagi. “Iya, iya. Tapi seru juga lihat dia protektif begini.”

Rimba hanya mendengus, tetap memeluk Stevan erat seolah menjaga ayahnya dari para wanita asing itu.

Latasya akhirnya menyerah menggoda Rimba dan mulai mengobrol dengan teman-temannya, meski tetap sesekali mencuri pandang ke arah keponakannya yang terus memeluk Stevan erat. Teman-teman Latasya tampak tersenyum kecil, merasa terhibur dengan kelucuan Rimba.

Argo, yang duduk di meja ruang tamu, memutuskan untuk menyelamatkan suasana. Dia mendekati Rimba sambil membawa sepiring cemilan. “Dan, kamu nggak mau ikut makan? Nih, ada martabak kesukaanmu.”

Rimba melirik Argo sebentar, tapi tetap tak bergerak. “Nggak, Abang. Aku di sini aja.”

Argo hanya mengangkat bahu sambil menyuapkan martabak ke mulutnya. “Yaudah, kalau nggak mau, aku habisin, ya.”

Latasya yang mendengar itu menoleh dengan cepat. “Eh, martabak?! Bagi dong, Argo!” Tanpa menunggu jawaban, dia langsung mengambil sepotong martabak dari piring Argo.

“Wah, Aunty benar-benar nggak tahu malu, ya,” sindir Argo, meski dia tampak menikmati momen itu.

Di sisi lain, Rimba mulai merasa gelisah karena para wanita itu masih berbicara dengan Latasya, sesekali melirik ke arah Stevan. Ia memandang ayahnya dengan penuh harapan. “Papa, kapan mereka pulang?” bisiknya pelan.

Stevan tersenyum kecil. “Dan, mereka cuma tamu. Papa nggak apa-apa kok. Kamu nggak perlu khawatir.”

“Tapi, Papa...” Rimba menggantungkan kalimatnya, matanya melirik para wanita itu dengan tatapan curiga.

Melihat putranya yang tampak tak nyaman, Stevan pun memutuskan untuk bertindak. “Tata, teman-temanmu nggak mau minum teh atau kopi?” tanyanya, mencoba mengalihkan perhatian.

“Oh iya, boleh tuh, Bang! Rimba, mau bantu Aunty buat teh buat mereka?” goda Latasya lagi.

Namun, Rimba menggeleng cepat. “Nggak mau!” jawabnya keras, membuat semua orang di ruangan tertawa.

Argo, yang mulai bosan dengan drama kecil ini, akhirnya berdiri. “Dan, gimana kalau kita main bola di halaman aja? Biar Papa sama Aunty ngobrol sama teman-temannya.”

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang