Lelahmu, Aku Jaga

1.6K 150 27
                                        

Sudah satu bulan berlalu sejak kelahiran Syabil. Waktu terasa berjalan begitu cepat, seakan baru kemarin Salsa terbaring lemah, dan kini ia sudah kembali seperti sedia kala. Kondisinya sudah jauh membaik, tubuhnya kembali berisi tenaga, wajahnya pun tampak lebih segar, meskipun sesekali masih tersisa lelah yang samar. Namun hari itu, ada kegelisahan lain yang terlihat jelas di raut wajahnya.

Salsa duduk di dekat Lian yang berada di atas sofa, tubuhnya sedikit condong ke arah bayi mereka. Syabil terbaring di dada Lian tanpa balutan baju, hanya mengenakan popok kecil, kulit mungilnya bersentuhan langsung dengan dada ayahnya.

Lian juga tidak mengenakan baju, membiarkan tubuhnya membantu meredakan demam ringan yang dialami putri mereka setelah imunisasi pagi tadi. Suasana terasa hangat, tenang, namun di balik itu, terselip kekhawatiran seorang ibu.

Tangan Salsa bergerak lembut, mengelus punggung Syabil dengan penuh kehati-hatian, seolah takut sentuhannya terlalu kuat untuk tubuh kecil itu. Jemarinya naik turun perlahan, mengikuti ritme napas bayinya yang sesekali berubah tidak teratur.

Lian yang menyadari perubahan ekspresi istrinya menoleh, matanya menatap lembut wajah Salsa. Tangannya terangkat, menyentuh pipi istrinya dengan hangat, ibu jarinya mengusap pelan seolah ingin menghapus rasa cemas yang tergambar di sana.

"Kenapa? Kok mukanya kelihatan sedih gitu?" tanya Lian dengan suara rendah dan penuh perhatian, sambil sedikit membetulkan posisi duduknya agar tetap nyaman menopang tubuh kecil di dadanya.

Salsa menggeleng pelan, namun matanya tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia kembali menatap Syabil, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya berbicara.

"Nggak tega…" ucapnya lirih. "Badannya pasti lagi nggak enak banget… panasnya naik turun, terus tidurnya juga jadi sebentar-sebentar. Nggak nyenyak…" lanjutnya, suaranya terdengar semakin lembut, hampir seperti bisikan yang dipenuhi rasa iba.

Tangannya tetap bergerak, mengelus punggung bayinya dengan ritme yang sama, seolah sentuhan itu adalah satu-satunya cara untuk menenangkan bukan hanya Syabil, tapi juga dirinya sendiri.

Lian menatap pemandangan itu dengan hati yang ikut menghangat sekaligus terenyuh. Ia lalu menggeser sedikit tangannya, meraih tangan Salsa yang masih berada di punggung Syabil, menggenggamnya dengan lembut tanpa menghentikan gerakan halus itu.

"Iya, sayang…" ucap Lian pelan, suaranya diturunkan agar tidak mengganggu bayi yang mulai terlelap lagi. "Aku juga nggak tega lihat Syabil kayak gini. Tapi ini cuma sementara kok…" lanjutnya sambil mengusap punggung tangan Salsa dengan ibu jarinya.

Ia menatap wajah istrinya lebih dalam, mencoba menenangkan.

"Tadi dokter juga bilang ini wajar. Habis imunisasi emang biasanya tubuh bayi lagi beradaptasi, makanya muncul demam sama rewel sedikit…" ucapnya dengan nada yang meyakinkan. "Nanti juga reda sendiri, pelan-pelan. Kita temenin aja dia, ya…"

Salsa terdiam sejenak, menyimak setiap kata suaminya. Napasnya perlahan menjadi lebih teratur, meskipun matanya masih tertuju pada wajah kecil putri mereka yang sesekali meringis dalam tidurnya.

Lian kembali mengusap pipi Salsa dengan lembut, kali ini sedikit lebih lama. "Jangan sedih ya…" bisiknya pelan. "Kalau Ibunya sedih, Syabil juga bisa ngerasain… nanti dia ikut nggak nyaman, malah jadi makin rewel…"

Ucapan itu membuat Salsa tersenyum tipis, meskipun matanya masih berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Iya…" jawabnya lirih.

Perlahan, Salsa mendekatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya ke dada Lian, tepat di dekat kepala Syabil yang masih menempel hangat. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan kecil yang mereka ciptakan bersama, kehangatan yang sederhana, tapi penuh arti.

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang