Sakit Barengan

5.4K 341 8
                                        

"Ca, makan dulu sayang, ya? Habis itu baru minum obatnya," ucap Lian lembut, jemarinya mengusap pipi istrinya yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Salsa hanya meringkuk di sudut sofa, tubuhnya dibalut selimut tebal hingga leher. Sejak sesi pemotretan tiga hari lalu yang berlangsung hampir seharian penuh, tubuhnya mulai melemah. Udara dingin di dalam studio, ditambah padatnya jadwal dan kurang istirahat, membuat sistem imunnya menurun. Hari ini, flu yang menyerang disertai demam dan pusing membuat tubuhnya benar-benar tak berdaya.

Wajah Salsa tampak lelah. Keningnya berkerut, matanya tertutup rapat, dan napasnya berat. "Pusing, Sayang ... badan aku kayak digebukin," lirihnya, suaranya serak dan pelan, hampir seperti bisikan.

Tanpa berkata apa-apa, Lian berjongkok di samping sofa. Tangannya yang hangat menggenggam jemari istrinya yang dingin, lalu mengusap punggung tangannya perlahan. Sentuhan kecil yang menunjukkan, "aku di sini."

"Iya, aku tau badan nya nggak enak, ya?" ucap Lian dengan suara rendah dan penuh kelembutan. "Tapi kamu belum makan dari pagi, Sayang. Kalau perutnya kosong terus, nanti malah tambah lemas. Makan sedikit aja, ya? Habis itu langsung minum obat, terus tidur lagi."

Salsa menggeleng pelan, matanya masih terpejam. "Nggak nafsu makan... Nelen air aja rasanya perih." bisiknya, lalu memiringkan badan, memunggungi Lian, mencoba tidur lagi.

Lian tak menyerah. Ia tersenyum tipis, menatap istrinya penuh kesabaran. Ia sudah hafal betul bagaimana Salsa kalau sedang sakit: manja, sensitif, dan butuh banyak dibujuk. Tapi justru itu membuat Lian merasa lebih dibutuhkan, dan itu yang selalu ingin ia lakukan: ada, menjaga.

Lian tersenyum kecil, lalu membungkuk sedikit, menempelkan dahinya ke punggung istrinya yang terbungkus selimut. "Kalau dua sendok aja, mau? Aku suapin pelan-pelan. Nggak apa-apa sedikit, yang penting ada yang masuk, ya?" ujarnya lembut, membujuknya penuh kesabaran.

Salsa membuka sedikit matanya, menoleh pelan ke arah suaminya. Tatapannya sayu, tapi ada percik kehangatan di sana.

"Yaudah ... tapi kamu yang suapin, ya," gumamnya akhirnya, menyerah pada bujukan lembut itu.

Lian langsung mengangguk sambil tersenyum lega, lalu mengecup kening istrinya yang basah oleh keringat dingin. "Iya, Sayang. Aku yang suapin. Sekarang duduk dulu, ya? Biar lebih nyaman."

Dengan hati-hati, Lian membantu Salsa menyandarkan tubuhnya di bantal sofa, menyelipkan selimut hingga ke bahu istrinya, lalu mengambil semangkuk bubur hangat yang sudah ia siapkan sejak tadi di meja.

Namun, baru saja sendok pertama hendak disuapkan, Salsa kembali meringis kecil. Ia memejamkan mata sambil mengerang pelan.

"Pusing ... Badanku nggak enak banget ... "  ucapnya dengan suara lirih, matanya mulai berkaca-kaca. Nafasnya berat, dan air mata tipis mengalir begitu saja di sudut mata.

Lian meletakkan mangkuk di meja. Ia langsung memeluk istrinya, membiarkan tubuh wanita yang dicintainya bersandar erat di dadanya. Tangan Lian mengelus punggung Salsa dengan ritme pelan dan menenangkan.

"Ssstt ... jangan nangis, Sayang ... nanti malah makin pusing ... hidungnya makin mampet ... nggak enak banget, ya? Sini, pelan-pelan napasnya," ucap Lian pelan, seperti bisikan yang lembut dan penuh ketulusan. Tangannya menyeka lembut air mata yang membasahi pipi Salsa.

"Sini, kamu mau dipangku? Biar lebih nyaman," tawar Lian dengan suara tenang.

Salsa hanya mengangguk pelan. Dengan penuh hati-hati, Lian membantu istrinya berpindah posisi, lalu memangku tubuhnya dengan hangat. Kepala Salsa kini bersandar di dada Lian, sementara selimut tetap menyelimuti tubuhnya.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang