Sebelum Edinburgh Melupakan Kita
Fajar belum datang ketika Annalise membuka matanya, namun Edinburgh sudah terjaga dengan caranya sendiri - sunyi, berkabut, dan penuh dengan suara-suara kecil yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sudah terbiasa tidur dengan satu telinga tetap terbuka. Angin malam berdesir pelan di luar jendela kamar, menggerakkan tirai tipis yang tidak pernah benar-benar menutup sempurna, membiarkan secercah cahaya lampu jalan masuk dan jatuh di atas lantai kayu yang sudah tua dan berderit di bagian-bagian tertentu seperti seseorang yang tidak bisa menyembunyikan rahasia.
Ia berbaring diam beberapa detik - hanya beberapa detik, tidak lebih - membiarkan kesadarannya menemukan kembali semua yang ia tinggalkan sebelum tidur semalam. Edinburgh. Festival. Lagu itu. Anak perempuan dengan mantel abu-abu kebesaran. Dan sesosok tubuh di ujung jalan yang berdiri dengan sabar yang lebih berbahaya dari ancaman manapun yang pernah datang dengan suara keras.
Lalu ia bangkit, dan gerakannya tidak terburu-buru namun tidak ada satu pun yang terbuang sia-sia, karena Annalise sudah cukup lama menjalani kehidupan seperti ini untuk mengetahui bahwa kepanikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli - bahwa setiap detik yang dihabiskan untuk merasa takut adalah detik yang seharusnya digunakan untuk berpikir, dan setiap pikiran yang terbuang untuk menyesali keputusan adalah energi yang seharusnya dialirkan ke langkah berikutnya.
Raisa tidur di ranjang kecil yang telah Elisabeth siapkan sejak hari pertama mereka tiba - ranjang kayu dengan sisi-sisi yang dipagari kain tebal supaya bayi itu tidak jatuh jika bergerak terlalu aktif dalam tidurnya. Annalise mendekati ranjang itu terlebih dahulu, sebelum apapun, sebelum mengemas atau memikirkan rute atau memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, karena ada sesuatu dalam diri Annalise yang selalu membutuhkan memastikan bahwa bayi itu baik-baik saja sebelum dunia boleh meminta sisa perhatiannya.
Raisa tidur dengan satu tangan terangkat ke atas, jemari mungilnya menggenggam udara kosong di sekitarnya seperti orang yang sedang bermimpi tentang sesuatu yang ingin ia raih, dan napasnya teratur dan tenang, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak mengenal kekhawatiran apapun - ritme yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang belum mengenal dunia cukup lama untuk tahu bahwa dunia kadang meminta harga yang terlalu mahal untuk hal-hal yang seharusnya gratis.
Annalise menyentuh pipi Raisa dengan punggung jarinya - sentuhan yang sangat ringan, hanya untuk memastikan, hanya untuk merasakan kehangatan kecil itu dan membawanya masuk ke dalam dirinya sendiri sebagai bekal untuk jam-jam yang akan datang. Kulit Raisa terasa hangat dan lembut seperti roti yang baru saja diangkat dari oven, dan untuk satu detik yang sangat singkat, Annalise menutup matanya dan hanya merasakan itu - hanya itu, tidak lebih, tidak kurang.
Kemudian ia berpaling dan mulai mengemas dengan cara yang sudah sangat ia hafal - beberapa pakaian, lembar-lembar tulisan yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah, dokumen-dokumen yang tidak memiliki nama namun menyimpan kekuatan yang lebih besar dari apapun yang bisa dibeli oleh uang Van Linde. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam cara Annalise mengemas, sesuatu yang ia sendiri tidak langsung menyadarinya sampai tangannya berhenti sejenak di atas baju wol abu-abu yang pertama kali ia beli di toko pakaian bekas di kawasan Grassmarket minggu lalu.
Ia mengemas dengan cara orang yang sudah tahu bahwa ia akan terus mengemas, terus berpindah, terus meninggalkan tempat-tempat yang perlahan mulai terasa seperti rumah sebelum dunia mengingatkannya bahwa ia belum berhak untuk memiliki rumah - belum, tidak sekarang, tidak selama ada nama Van Linde yang terukir dalam daftar orang-orang yang menginginkannya tidak ada di peta manapun yang bisa mereka baca.
Elisabeth sudah terjaga ketika Annalise turun ke lantai bawah dengan tas yang terkemas rapat dan Raisa yang kini terbangun dan memandangi segalanya dengan mata biru yang jernih dan penuh rasa ingin tahu yang belum tahu bahwa rasa ingin tahu itu suatu hari nanti bisa menjadi sesuatu yang berbahaya. Perempuan itu berdiri di dekat perapian yang sudah ia padamkan, berpakaian lengkap dengan mantel panjangnya, dan di tangannya ia memegang sebuah amplop cokelat yang sudah terlipat rapi di tepinya seperti sesuatu yang telah dipikirkan jauh sebelum malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
General FictionAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
