Ada musik latarnya
(Coba mainkan dengan membacanya perlahan)
Keputusan itu tidak lahir dari kepanikan, melainkan dari keheningan yang terlalu lama dipikirkan. Annalise tidak menunggu keadaan menjadi lebih buruk untuk bergerak. Ia tahu, setelah nama-nama itu tersebar, setelah pengakuan itu beredar di jalanan dan masuk ke kepala orang-orang, Den Haag tidak lagi menjadi tempat yang aman-bukan untuknya, dan terlebih lagi bukan untuk Raisa.
Malam itu, ia tidak banyak berbicara.
Ia hanya mengemas seperlunya.
Beberapa pakaian.
Lembar-lembar tulisan.
Dan satu buku kecil yang selama ini selalu ia simpan di bagian terdalam tasnya.
Raisa berada di dalam gendongannya, tubuh kecil itu terlelap dengan napas yang tenang, sesekali menggerakkan jemarinya yang mungil seolah sedang meraih sesuatu dalam mimpi. Mata birunya yang biasanya jernih kini tertutup rapat, menyisakan ketenangan yang kontras dengan dunia yang sedang mereka tinggalkan.
"Mama akan membawamu ke tempat yang lebih aman," bisik Annalise pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada bayi yang belum mampu memahami kata.
Ia berhenti sejenak.
Menatap wajah Raisa.
Lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Dan malam itu, tanpa banyak suara, mereka meninggalkan Den Haag.
Perjalanan mereka tidak melalui jalur biasa.
Tidak ada kereta yang mencatat nama mereka.
Tidak ada kapal dengan tiket resmi.
Vrije Woord telah menyiapkan segalanya.
Seorang pria tua menjemput mereka di pinggiran kota, membawa mereka dengan kereta kuda sederhana menuju pelabuhan kecil yang tidak tercatat dalam peta umum.
"Vanavond vertrekken we," katanya singkat.
(Malam ini kita berangkat.)
Annalise hanya mengangguk.
Ia tidak bertanya.
Karena ia tahu-semakin sedikit yang ia tahu, semakin kecil kemungkinan semuanya runtuh.
Kapal yang mereka tumpangi bukan kapal penumpang.
Lebih tepat disebut kapal barang yang disamarkan.
Bau kayu basah dan garam laut memenuhi udara, sementara suara ombak menjadi satu-satunya irama yang menemani malam mereka.
Raisa tertidur di pangkuan Annalise.
Tubuh kecil itu sesekali bergerak, mencari kenyamanan di antara dingin dan goyangan kapal.
Sementara Annalise menatap laut.
Gelap.
Tak berujung.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa... lelah.
Namun kejutan itu tidak datang dari luar.
Melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Ketika ia membuka tasnya untuk memastikan semua masih ada, ia menemukan satu halaman yang terlipat-bukan surat dari siapa pun, melainkan catatan lama yang pernah ia tulis dan hampir ia lupakan.
Tulisan tangannya sendiri.
Sedikit pudar.
Namun masih terbaca.
"Jika suatu hari aku harus pergi, maka aku harus memastikan bahwa tidak ada yang mengikutiku-termasuk mereka yang kucintai."
Annalise terdiam.
Tangannya berhenti di atas kertas itu.
Matanya menelusuri ulang setiap kata.
Dan di situlah ia sadar-ini bukan sekadar pelarian dari musuh.
Ini adalah pengorbanan yang telah ia pilih sejak awal.
Seno tidak tahu apa-apa.
Tidak tentang Raisa.
Tidak tentang perburuan.
Tidak tentang keluarga Van Linde.
Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana namun kejam: Annalise pergi tanpa pamit.
Dan mungkin... itu adalah satu-satunya cara untuk menjaganya tetap hidup.
Annalise menutup kertas itu perlahan.
Menyelipkannya kembali ke dalam tas.
Tidak ada air mata yang jatuh.
Karena ia tidak mengizinkan dirinya untuk kembali.
Hari-hari di laut berlalu tanpa banyak perubahan.
Namun di dalam dirinya, sesuatu menjadi semakin jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
General FictionAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
