Bagian yang Terpisah (part 5)

2 0 0
                                        

Melodi itu tidak berhenti ketika tepuk tangan pertama datang. Ia justru tumbuh - seperti akar yang menembus tanah beku di musim dingin, perlahan namun dengan keyakinan yang tidak bisa dibendung oleh dingin sekalipun. Violin kembali mengalun, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan lebih dalam, seolah ia sedang berbicara kepada bagian dari setiap orang yang hadir malam itu - bagian yang sudah lama tidak diajak bicara.

Piano menyusul kemudian, dengan jari-jari yang berjalan di atas tuts seperti seseorang yang sedang menyusuri lorong panjang di dalam ingatannya sendiri, hati-hati namun tidak ragu. Nada-nada itu tidak terburu-buru. Mereka datang satu per satu, membiarkan udara dingin Edinburgh menyerapnya sebelum nada berikutnya hadir, sehingga musik itu terasa seperti percakapan yang berlangsung di antara dua orang yang sudah saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Anak perempuan itu membuka mulutnya untuk kedua kalinya, dan suaranya yang sedikit serak namun jujur kembali memenuhi malam dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata biasa. Suara itu bukan suara yang sempurna - tidak ada vibrato yang dilatih bertahun-tahun, tidak ada teknik yang diasah di bawah bimbingan guru musik mahal - namun justru karena itulah ia terasa seperti sesuatu yang nyata, seperti luka yang tidak ditutupi oleh perban, dibiarkan terbuka supaya udara bisa menyentuhnya langsung.

"Voilà qui je suis, voilà ce que j'aime..."
Annalise tidak bergerak dari tempatnya. Ia berdiri di tepi lingkaran cahaya lampu festival, tubuhnya diam namun di dalamnya sesuatu sedang bergerak - sesuatu yang selama ini ia paksa untuk tidak bergerak, yang ia ikat dengan tali-tali ketegasan dan keputusan-keputusan dingin yang lahir dari kebutuhan untuk bertahan, bukan dari keinginan untuk hidup. Raisa berada dalam gendongannya, tubuh kecil yang hangat itu menempel di dadanya seperti jangkar kecil yang memastikan Annalise tetap berpijak di bumi meski pikirannya sedang melayang jauh.

Jemari-jemari mungil Raisa bergerak pelan ke udara, seolah ia sedang mencoba meraih nada-nada yang melayang di antara mereka berdua. Annalise memperhatikan gerakan itu dengan tatapan yang lembut - lembut dengan cara yang bahkan ia sendiri tidak menyadarinya, karena kelembutan seperti itu datang bukan dari keputusan melainkan dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kehendak.

Bunga putih kecil yang diberikan anak perempuan itu masih tergenggam di tangan Raisa. Kelopaknya sudah sedikit kusut oleh genggaman bayi yang tidak tahu ukuran kekuatannya sendiri, namun ia tidak lepas - tetap utuh, tetap putih, seperti sesuatu yang memilih untuk bertahan meski dunia di sekitarnya tidak memberikan alasan yang cukup untuk melakukannya.

Orang-orang di sekitar Annalise bergerak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Mereka yang tadi berjalan tergesa kini melambat tanpa benar-benar menyadari mengapa mereka melambat. Mereka yang tadi berbicara kini diam, mulut mereka menutup perlahan seperti buku yang ditutup di tengah kalimat yang belum selesai. Semua seperti sedang memasuki ruang yang sama - ruang tak kasat mata yang diciptakan oleh suara anak kecil itu di tengah jalanan Edinburgh yang dingin dan berkabut.

Annalise menarik napas perlahan, dan udara malam itu masuk ke dalam paru-parunya membawa serta aroma kayu bakar yang hangat, roti yang baru saja diangkat dari oven, dan sesuatu yang tidak memiliki nama - mungkin ketenangan, mungkin kesedihan, mungkin keduanya yang telah bercampur terlalu lama hingga tidak lagi bisa dibedakan satu sama lain dan hanya terasa sebagai satu rasa tunggal yang aneh namun tidak menyakitkan di dada.

Dan kemudian, tanpa permisi, tanpa peringatan, tanpa memberi Annalise waktu untuk memasang pertahanannya - Seno hadir di dalam kepalanya.

Bukan sebagai bayangan yang datang dengan membawa luka. Bukan sebagai kenangan yang menyerang seperti ombak besar yang menghantam karang. Ia hadir dengan cara yang jauh lebih sederhana dan justru karena kesederhanaannya itulah menjadi jauh lebih sulit untuk ditahan - seperti aroma teh yang diseduh di pagi hari, familiar dan hangat dan terasa seperti sesuatu yang seharusnya selalu ada namun sudah lama absen tanpa penjelasan.
Annalise teringat bagaimana Seno selalu duduk di sampingnya tanpa banyak berbicara di malam-malam ketika dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Ia tidak pernah menawarkan solusi yang tidak diminta. Ia tidak pernah mengucapkan kata-kata penghiburan yang terasa seperti kewajiban sosial - kata-kata yang lahir bukan dari pemahaman melainkan dari ketidaknyamanan menghadapi kesedihan orang lain. Seno hanya hadir, dengan seluruh kehadiran yang ia miliki, dan kehadiran itu saja sudah terasa seperti lebih dari cukup.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang