Dipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Masjid dipenuhi dengan orang-orang yang berdatangan, masing-masing dengan tujuan yang sama, yaitu untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mereka berjalan dengan langkah yang tenang, membawa sajadah dan tasbih ada juga yang membawa Al Qur'an, sambil berbincang-bincang dengan jemaah lainnya.
Suasana masjid mulai dipenuhi dengan suara-suara langkah kaki, bisikan, dan obrolan ringan antara jemaah. Beberapa orang sibuk mencari tempat yang strategis untuk sholat, sementara yang lain lebih memilih tempat yang lebih dekat dengan imam.
Wanita dan pria biasanya terpisah, dengan wanita berada di bagian belakang atau di lantai atas, sementara pria berada di bagian depan. Anak-anak kecil berlarian di sekitar, menambah suasana yang riang dan gembira.
Saat menjelang waktu sholat, suasana menjadi semakin hening dan khidmat. Orang-orang mulai mengambil posisi untuk sholat, dan imam mulai memimpin jemaah dalam doa dan bacaan Al-Quran.
Setelah sholat selesai dan dzikir pun selesai ada yang langsung pulang ada juga yang masih duduk untuk meneruskan dzikir tambahan atau ada juga yang membaca Al Qur'an.
Fira dan Catherine duduk di teras Masjid menunggu Maulana, namun hingga Adzan Isya berkumandang pria itu juga belum keluar.
Meski heran namun kedua wanita itu kembali melaksanakan sholat jamaah Isya, setelah sholat selesai mereka kembali menunggu Maulana di luar.
Tak lama kemudian Maulana datang, ia menghampiri kedua wanita itu, terlihat ekspresi kesal di wajah ke dua wanita kesayangannya itu.
"Kamu lama sekali, Van. Tadi Ibu dan Istri mu menunggu di sini, sampai suara Adzan Isya berkumandang pun kamu belum keluar." Catherine bicara dengan nada kesal.
Maulana tersenyum lalu membacakan hadist Nabi." Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: Rosulullah Shollallohu Alaihi wasalam bersabda," Selalu seorang itu teranggap dalam sembahyang, selama tertahan oleh menantikan sembahyang, tiada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya hanya semata-mata karena menantikan sembahyang. Jadi tadi Ivan sengaja menunggu sholat Isya juga, Bu."
Catherine tidak seperti Maulana, ia seperti manusia pada umumnya, tidak suka menunggu sampai waktu sholat lain, selesai sholat magrib ya dirinya ingin kembali ke rumah.
Fira mengalihkan perhatian pada Catherine, menyentuh tangan wanita itu dengan lembut."Sudalah, Bu. Ibu yang sabar, Mas Ivan juga tidak bermaksud membuat Ibu kesal, Mas Ivan hanya ingin mendapatkan pahala saja."
Catherine menoleh pada Fira dengan kesal."Kamu selalu membela Ivan, sudalah, ayo segera kembali." Wanita itu berjalan mendahului Maulana dan Fira.
Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami."Mas sudah membuat Ibu marah."
Maulana mengangkat kedua bahu."Mas tidak berniat seperti itu, lagipula kan di rumah tidak melakukan apapun, jadi apa salahnya duduk di Masjid menunggu sholat Isya."
Fira berjalan di samping sang Suami."Ya tidak ada yang salah, Mas. Tapi kan Ibu tidak sabar, mungkin Ibu ingin segera nonton TV atau apa gitu."
Maulana tersenyum kecil."Lebih baik menunggu sholat dari pada nonton TV."
Mereka berdua berjalan santai menuju rumahnya, tidak jauh di depan Catherine berjalan tanpa menoleh pada mereka berdua.
10 menit kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang, Catherine masih marah dan kesal karena dirinya ada acara nonton TV.
"Gara-gara kamu, Ibu telat nonton acara kesukaan Ibu." Catherine masih ngomel sepanjang jalan. Maulana hanya menanggapi dengan senyuman begitu pun dengan Fira, gadis itu berusaha menghibur mertuanya.
Fira dan Catherine berjalan lebih dulu di depan Maulana, pria itu berhenti sejenak dan mendudukkan diri di tepi taman, nyeri kembali terasa menyerang perutnya.
Dari lantai dua, Fransis kebetulan berdiri balkon memperhatikan daerah sekitar, matanya menyipit kala melihat Maulana nampak kesakitan, ia menghela nafas kemudian memutar tubuh dan berjalan menuju sahabatnya tersebut.
Fransis berjalan mendekati Maulana, di tangannya terdapat botol obat untuk penyakit pria itu.
"Ambillah." Fransis menyerahkan botol obat tersebut saat sudah berada dekat dengan Maulana.
Maulana mengangkat pandangan, terlihat Fransis menyerahkan sebuah botol obat di tangannya, perlahan ia mengambil botol obat tersebut lalu mengeluarkan isinya dan menelan beberapa butir.
Fransis duduk di samping Maulana."Jangan telat minum, ingat bahwa kamu hari ini memaksa pulang dari rumah sakit bukan dokter mengizinkan mu pulang."
"Hm." Maulana memasukkan botol obat tersebut ke dalam sakunya.
"Aku sudah mencari informasi ke beberapa tempat untuk mendapatkan hati yang cocok denganmu, bahkan di pasar gelap juga." Fransis menoleh pada Maulana, tidak menyangka kalau sekarang pria itu terlihat begitu lemah.
Maulana diam tidak menanggapi, ia hanya memikirkan apakah besok bisa mengawal gerak jalan murid-muridnya atau tidak.
"Aku pun telah meneliti virus yang dimasukkan dalam tubuhmu saat kamu masih kecil." Fransis kembali berbicara.
Maulana menoleh pada Fransis." Lalu?"
Fransis menghela nafas."Aku berharap bisa segera menemukannya penawarnya, aku yakin jika virus itu dihentikan, penyakitmu pun bisa sembuh."
Maulana mengangguk."Aku akan selalu berdoa pada Allah, aku yakin Allah akan menolongku."
Fransis mengangguk."Ya, kamu hamba Tuhan mu yang baik. Aku yakin Tuhanmu pasti akan menolong mu."
Maulana mengangguk, setelah rasa sakit mulai mereda, ia pun bangkit dari tempat duduknya."Besok aku harus mengawal anak-anak lomba gerak jalan."
Fransis mengangkat kepala menatap sahabatnya tersebut." Kamu yakin sanggup?"
Maulana menghela nafas."Entahlah, besok di coba saja."
"Semalam aku pingsan setelah menyelamatkan Sean dan menemani Istri ku makan malam, akhir -akhir ini penyakit ini lebih sering kambuh dan aku merasa sangat lelah." Maulana berkata dengan nada tak berdaya.
Fransis bangkit dari tempat duduknya, ia menepuk pelan bahu Maulana."Aku akan berusaha lebih kuat lagi, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."
Maulana tersenyum tipis."Aku tahu, sudalah. Kita masuk sekarang, tadi Ibu sudah ngomel karena aku lama di Masjid."
Maulana melangkahkan kaki melewati Fransis, Fransis mengangguk, ia memandang punggung Maulana yang semakin menjauh."Hutang nyawa ini akan ku lunasi, seharusnya aku yang dulu terkena virus itu, namun malah kamu. Tidak ada yang tahu bahwa saat kecil kita pernah diculik bersama dan kamu menyelamatkan ku."
Fransis melangkahkan kaki mengikuti Maulana, baru sampai di depan pintu rumah, terlihat 3 motor sport memasuki halaman.
Fransis memutar tubuh lalu berjalan mendekati mereka, terlihat Antonio, Andrian dan Angga memarkir motor di depan teras rumah.
Antonio membonceng Naira sedangkan Angga sendiri dan Andrian bersama Zayda, mereka berlima turun dari motor lalu berjalan mendek pada Fransis.
"Malam, Pak." Antonio dengan ceria menyapa Fransis.
"Mencari Ivan?" Fransis menebak.
"Tidak, Pak. Kami datang mau kerja kelompok dengan Sayangku Fira, Pak. Sekalian nanti minta diajari Pak Ivan, hehehe." Antonio nyengir menjawab pertanyaan Fransis.