Setelah persiapan gerak jalan selesai dan murid-murid diizinkan kembali ke rumah masing-masing, Maulana memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya yang sunyi dan tenang. Dia berjalan dengan langkah yang perlahan dan hati-hati, berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang menghantui perutnya. Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti ada tekanan tambahan pada bagian tubuh yang sakit, membuat dia merasa seperti sedang berjalan di atas kaca yang pecah.
Maulana membuka pintu ruang kerjanya dan masuk ke dalam, berharap bisa menemukan sedikit kelegaan di sana. Dia menutup pintu di belakangnya dan mengunci napas, berusaha untuk menahan rasa sakit yang semakin meningkat. Dengan wajah yang tertegang, dia duduk di atas sofa yang empuk dan berusaha untuk bernapas dalam-dalam.
Rasa sakit yang tajam di perutnya membuat Maulana menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak mengerang keras-keras. Dia merasa seperti ada tekanan yang berat di dalam tubuhnya, dan setiap gerakan kecil pun bisa membuatnya merasa seperti sedang disiksa. Maulana menutup matanya dan berusaha untuk rileks, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang menghantuinya.
Dengan santai Sui membuka pintu ruang kerja Maulana, ia tersenyum tipis melihat Maulana duduk bersandar dengan mata terpejam di atas sofa empuk ruangan tersebut, dirinya tidak sadar bahwa sahabatnya itu sedang menahan sakit.
Sui berjalan mendekati Maulana yang duduk bersandar di sofa empuk, suasana terasa tegang. Dengan gerakan spontan, Sui memukul perut Maulana dengan cukup keras, niatnya hanya untuk menyapa, tapi malah memicu reaksi yang tidak terduga.
Maulana merasakan sakit yang tajam dan menusuk di perutnya, seperti gelombang api yang membakar. Rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat napasnya terhenti sejenak. Wajahnya memucat, mata terbelalak, dan otot-ototnya menegang.
Sui terkejut melihat reaksi Maulana, dan untuk sejenak, keduanya hanya terdiam, terkurung dalam ketegangan yang tidak terucapkan.
"Ada apa denganmu, Jhon? Aku hanya memukul pelan saja, tapi reaksi mu sangat besar." Sui mendudukkan diri di samping Maulana, menatap sahabatnya itu heran.
Maulana memegangi perutnya dengan tubuh membungkuk, wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit yang menusuk. Matanya terpejam, napasnya terengah-engah, dan otot-ototnya menegang. Rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat dia merasa seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Sakitnya seperti gelombang yang terus-menerus menghantam, membuat Maulana sulit untuk bernapas. Dia berusaha untuk menahan rasa sakit, tapi tubuhnya tidak bisa tidak membungkuk ke depan, seperti ingin melindungi dirinya dari rasa sakit yang tak tertahankan. Setiap gerakan kecil pun terasa seperti memperburuk rasa sakitnya.
Dalam posisi itu, Maulana merasa sangat tidak nyaman, seperti dunia di sekitarnya telah berubah menjadi kabut yang tidak jelas. Satu-satunya yang nyata adalah rasa sakit yang terus-menerus menghantamnya, membuat dia merasa lemah dan tidak berdaya.
Sui menyeringai tipis, ia masih belum menyadari kondisi Maulana yang sesungguhnya dan penyakit sirosis hati yang diderita sahabatnya tersebut.
"Ada apa, Hijau?" Maulana bertanya dengan suara terguncang, ia mencoba memahami reaksi apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
Maulana tidak menyalahkan Sui, dulu saat mereka masih berada di dunia hitam, begitulah cara mereka menyapa, dengan cara memukul bagian tubuh.
Jika dulu Maulana mampu mentolerir rasa sakitnya, atau bahkan tidak terasa sakit, beda dengan sekarang. Jangankan pukulan, sedikit tekanan saja akan membuat dirinya terasa sakit, terutama jika pukulan itu mengenai perut kanan atasnya.
Sui memiringkan kepala menatap Maulana yang masih membungkuk menahan sakit."Jhon, serius, pukulan ku tadi membuat mu kesakitan sampai seperti itu?"
Maulana mengangguk lemah, masih merasakan sakit yang tajam di perutnya. Saat Sui bertanya, dia perlahan membuka matanya, tapi tubuhnya tetap membungkuk, tangannya masih erat memegangi perutnya seolah-olah melindungi dirinya dari rasa sakit yang masih menghantui. Pandangan matanya terlihat sedikit kabur atau tidak fokus, menunjukkan bahwa dia masih berusaha untuk mengatasi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dialaminya.
"Masa si? Hei, Jhon. Dulu kalau aku menyapamu seperti itu, kamu pasti akan marah dan mengatakan pukulan ku terlalu lemah. Kamu tahu, aku terus berlatih, jadi melatih pukulan ku. Aku senang saat melihat mu santai, jadi aku mencoba menyapamu seperti itu, Jhon." Sui berkata dengan suara bangga, seakan apa yang dilakukan adalah prestasi luar biasa.
"Astaghfirullah." Maulana mengeluh dalam hati merasakan sakit di perutnya, namun Sui malah menganggap ini suatu prestasi membanggakan.
"Jhon, bagaimana kalau aku mencoba lagi?" Sui mengepalkan tangannya di depan wajahnya dengan bangga.
Maulana menatap Sui dengan mata yang redup, suaranya terdengar sangat lemah dan terputus-putus karena rasa sakit yang semakin tajam. "Hm, coba saja jika kamu ingin membunuhku." Dia berkata dengan nada yang resignatif, tanpa energi untuk melawan atau membela diri. "Lagi pula sekarang aku juga tidak bisa melawan mu," tambahnya, mengakui kelemahannya saat ini.
Kata-katanya terdengar seperti penerimaan akan nasib, tanpa ada kemarahan atau kebencian, hanya kelelahan dan penerimaan akan kenyataan bahwa dia tidak bisa melawan Sui saat ini.
Sui semakin tidak mengerti maksud ucapan Maulana, baginya tidak mungkin seorang Jhon William atau Mizuruky Ivan bisa mati hanya dengan beberapa pukulan, tetapi melihat ekspresi Maulana kali ini, ia merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
"Jhon, kamu tidak sedang menipu ku kan?"
"Siapa yang menipu mu?" Maulana frustrasi dengan sahabatnya yang satu ini, dirinya kesakitan malah dikatai menipu.
Seandainya tubuhnya tidak lemah, perutnya tidak sêsakit ini, sudah pasti dirinya akan menendang Sui karena seenaknya memukul dirinya tanpa bertanya bagaimana kondisi tubuhnya sekarang.
"Tapi ..." Sui semakin mendekatkan wajahnya pada Maulana, ia masih tidak percaya kalau sahabatnya itu memiliki ekspresi wajah kesakitan.
Maulana menatap Sui dengan mata yang terlihat frustrasi, tapi juga pasrah. "Pukulah, aku tidak keberatan menerima pukulan itu." Dia berkata dengan nada yang terdengar lelah dan putus asa. "Memang aku yang dulu menetapkan aturan itu untuk mengukur kekuatan pukulan kalian," tambahnya, mengakui bahwa dia sendiri yang membuat aturan tersebut.
Namun, di balik kata-katanya yang terlihat berani, Maulana menyembunyikan rasa sakit dan kelemahan yang luar biasa. Dia tahu bahwa dirinya tidak lagi kuat seperti dulu, dan satu pukulan saja sudah membuatnya sangat menderita.
"Apa yang sebenarnya kamu rasakan Jhon? Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Sui bertanya dengan penasaran.
Maulana mengambil napas dalam-dalam, berusaha menjelaskan rasa sakit yang dirasakannya.
"Sakit... sangat sakit." Dia berkata dengan suara yang terguncang.
"Seperti ada yang menusuk-nusuk perutku, dan rasa sakitnya menyebar ke seluruh tubuhku."
Dia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan rasa sakit yang dirasakannya. "Sakitnya seperti gelombang yang terus-menerus menghantam, membuatku sulit bernapas dan berpikir jernih."
Maulana akan menutup matanya lagi, berusaha menahan rasa sakit yang semakin kuat. "Aku merasa seperti tidak bisa bergerak, seperti tubuhku tidak lagi milikku," tambahnya, menggambarkan betapa rasa sakit itu telah menguasai dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
