60. | Hancur |

281 96 31
                                        

Ruangan praktik Dokter Zein dipenuhi ketegangan yang terasa kaku. Dindingnya berwarna putih gading dengan pencahayaan lampu yang terang namun dingin, memantul lembut pada permukaan meja kerja yang tersusun presisi. Di sudut ruangan, monitor medis menyala dengan grafik-grafik yang bergerak perlahan, seolah menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan di tengah ketegangan yang membeku. Aroma antiseptik samar memenuhi udara, bercampur dengan wangi kertas dan tinta dari berkas-berkas medis yang tersusun rapi di atas meja.

Di hadapan meja itu, dua kursi diletakkan berdampingan. Mahaka duduk di salah satunya, tepat di sisi Nuri. Tubuhnya tegak, namun ada ketegangan yang jelas tersimpan di bahunya. Sementara itu, Nuri duduk dengan punggung lurus, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan, menahan gelombang cemas yang tak kunjung reda. Tanpa banyak kata, Mahaka merangkul sang ibunda, mengusasp pundak tegang wanita itu tanpa bicara. Ia sama paniknya.

Nuri tidak menoleh, tetapi genggamannya sedikit mengendur. Pintu terbuka.

“Selamat malam, Dokter Nuri,” sapa Dokter Zein dengan nada tenang dan hormat.

“Selamat malam, Dokter Zein,” jawab Nuri, menjaga suaranya tetap stabil.

Mahaka mengangguk singkat. “Dokter.”

Dokter Zein duduk di hadapan mereka dengan gerakan yang tenang dan terukur, seolah setiap langkahnya telah dilatih untuk tidak menambah beban pada suasana yang sudah berat. Ia menarik kursinya sedikit mendekat ke meja, lalu membuka berkas medis Andaru dengan hati-hati. Suara lembut kertas yang bergesekan terdengar begitu jelas di ruangan yang nyaris tanpa suara itu.

Sejenak ia tidak langsung berbicara. Matanya menyapu deretan angka, grafik dan catatan prosedur yang tertulis rapi di dalam berkas tersebut, bukan karena ia belum memahami isinya, melainkan karena ia sedang memilih cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu yang tidak pernah mudah untuk diucapkan. Ia kemudian menarik napas perlahan. Dalam. Terkendali.

“Kondisi Andaru saat ini masih dalam fase kritis,” ujarnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas, dengan artikulasi yang jelas dan profesional.

Kalimat itu menggantung di udara. Nuri tidak bergerak, namun jemarinya kembali saling mengunci di pangkuannya. Sementara itu, Mahaka yang duduk di sampingnya tanpa sadar menahan napas, seolah tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat mencerna.

“Ia mengalami cedera hati berat akibat trauma tumpul,” lanjut Dokter Zein. “Saat pertama kali masuk ke unit gawat darurat, Andaru berada dalam kondisi syok hipovolemik akibat perdarahan masif di rongga abdomen.”

Setiap istilah medis itu terdengar tajam, bukan karena asing, tetapi karena terlalu dipahami. Mahaka merasakan dadanya mengencang. Dalam bayangannya, kata “perdarahan masif” bukan lagi sekadar istilah klinis, melainkan gambaran nyata tentang darah yang tak berhenti mengalir, tentang waktu yang terus melawan mereka.

“Kami telah melakukan laparotomi darurat untuk mengontrol sumber perdarahan,” lanjut Dokter Zein, tetap dengan nada yang stabil. “Tim bedah segera melakukan eksplorasi abdomen dan mengidentifikasi beberapa titik perdarahan aktif.”

Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mengikuti. “Beberapa sumber perdarahan berhasil dihentikan. Secara hemodinamik, kondisi Andaru sempat menunjukkan respons yang cukup baik pascaoperasi. Tekanan darah mulai stabil, dan perfusi jaringan sempat membaik.”

Harapan itu sempat ada. Namun hanya sesaat.

“Namun tidak bertahan lama,” sambung Nuri pelan.
Suaranya begitu lirih, hampir seperti bisikan yang dipaksakan keluar dari dada yang sesak. Ia tidak menatap siapa pun, tetapi kata-katanya tepat, terlalu tepat, seolah ia sudah membaca seluruh skenario itu bahkan sebelum Dokter Zein menyelesaikan penjelasannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang