Mulmed: Peach Pachara berperan sebagai Immanuel Christian Hito
Jangan kau hanya melihat dari cassingnya saja. Terkadang, apa yang kau lihat dari luar, tak sama dengan apa yang ada di dalamnya.
Author POV
Suasana kelas X IPA 1 kini sudah terkondisi berhubung Bu Anisa sekarang sedang memberi kabar untuk nilai ulangan harian Fisika. Raut wajah murid-murid ada yang masa bodoh, ada yang tegang, ada yang senyum-senyum, dan macam lainnya.
"Nilai tertinggi untuk mata pelajaran fisika di kelas ini adalah delapan puluh tujuh koma lima." Bu Anisa menatap seisi kelas dengan senyum bangganya.
"Tetapi, nilai terkecil di kelas ini yaitu tujuh puluh." Bu Anisa mengendurkan senyumnya dan mengambil satu paket kertas lembar jawaban siswa-siswanya di mejanya yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Suasana kelas kini jadi tak terkontrol perihal pengumuman Bu anisa tadi yang membuat sebagian murid penasaran siapa yang mendapat nilai tertinggi dan terendah tersebut.
Termasuk Dena, Feli dan Cilla. Feli memasang raut muka yang ceria, berharap bahwa nilainya memuaskan karena dia sudah susah payah belajar hingga begadang. Cilla, biasa-biasa saja karena dia hanya belajar sekadarnya-membaca bagian awal-awalnya saja. Sedangkan Dena, ia terlihat santai-masa bodoh dengan apa yang akan dikatakan Bu Anisa. Dia tidak sempat belajar sewaktu itu, Dena malah malas dan asik menonton serial drama korea di laptopnya.
"Selamat untuk Feli, kamu meraih nilai tertinggi di kelas ini." Bu Anisa tersenyum ke arah Feli dan diikuti pandangan teman-temannya yang menepuk tangan untuk keberhasilan Feli.
Perempuan itu berdiri dan melangkah mengambil hasil ulangannya ke meja Bu Anisa, dan kembali duduk lagi. Cilla memberikan acungan jempol kepada Feli dengan ikut bangga, sedangkan Dena hanya agak menoleh Feli yang duduk di belakangnya disertai senyumam sinis.
"Dan.. sangat disayangkan, untuk yang mendapatkan nilai terendah ulangan kali ini adalah.."
Deg.
Suasana jadi menegang, murid-murid menghentikan aktivitasnya dan menatap serius Bu Anisa di depan kelas. Keheningan menyelimuti kelas X IPA 1.
"Dena." Bu Anisa mengarahkan pandangannya ke arah Dena yang kini mengangkat kepalanya dengan biasa-biasa saja. Ia segera berdiri dan mengambil hasil ulangannya dengan sangat percaya diri.
Bu Anisa tersenyum, "Ngga apa-apa Dena. Lain kali kamu harus belajar lebih baik lagi, ya."
Dena menatap Bu Anisa dan mengangguk kecil lalu melangkah kembali ke tempat duduknya.
Sebelum ia sampai di tempat duduknya, Bu Anisa memanggilnya lagi.
"Dena, rok kamu masih di atas lutut? Jangan sampai guru BK melihat kamu mengenakan rok sependek itu dan gara-gara itu kamu jadi di skors lagi."
Satu kelas pun tertawa mendengarnya, Dena hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya untuk duduk seperti semula.
---
"Kan udah gue bilang, Den. Rok lo jangan dipendekin gitulah, kayak pelayan cafe aja." Feli menyarankan saat mereka beriringan berjalan menuju kantin barat.
"Iya, bener tuh kata si Feli. Gue sih panjang rok masih normal-lah ya. Yang penting muka gue masih imut kayak kue cubit." Cilla menambahkan dengan ke-pedeannya.
"Apaan sih kalian? Cuma digertak guru aja takut? Heh, mereka tuh nggak tau nyamannya gue pake rok tu kayak gimana. Terserah gue dong mau pake rok segimana, kan belinya juga pake duit gue bukan mereka." Dena meremehkan dengan tawa khasnya dan kedua temannya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar kekeras-kepala-an Dena.
KAMU SEDANG MEMBACA
BRANDENA [COMPLETED]
Teen Fiction{Destiny} Manusia itu gampang berubah. Tapi berubah untuk ke lebih baik itu sulit. Hidup Dena berubah ketika bertemu dengan Brandon yang sebelumnya ia benci karena cowok itu suka ikut campur dengan masalah Dena. Tapi siapa sangka jika kebencian Dena...
![BRANDENA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/82136697-64-k767331.jpg)