Red Herring (part 2)

1.6K 272 60
                                        

More often than not, gue seneng banget bisa gabung The Eyeless Pandora. Betul, gue memang jadi harus lebih pinter bagi waktu untuk kuliah, belajar, bikin tugas, main, dan sekarang ditambah jadwal latihan, bikin konten untuk YouTube dan Soundcloud, serta manggung.

Tapi ternyata kangen juga ya latian dan ketemu sama temen-temen band gue. Apalagi kami terakhir ketemu hampir dua minggu lalu kayaknya, abis garap konten YouTube.

Dan sekarang kami ngumpul di studio langganan. Gue sih lagi mojok bareng Atom, gitar akustik Irgi.

"Dengar laraku/Suara hati ini memanggil namamu/Karena separuh aku..." gue bersenandung pelan sambil memetik senar gitar coklat tersebut.

"Whoa, whoa, whoa, kenapa lo tumben amat nyanyi lagu itu?" Kandi mendongak dari buku catatannya dan menatap gue.

Gue mengedikkan bahu. "Nggak kenapa-kenapa,"

"Nggak apa-apa apanya?" sambar Garin. "Someone's in love, it looks like," ujarnya.

"Apaan sih," gue berkilah sambil cepat-cepat mengalihkan perhatian dengan menepuk paha Wigra. "Tumben lo diem aja? Sakit gigi?"

"Nggak," jawab Wigra tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Gue tadinya udah mau ngintip, tapi bocah satu itu rupanya langsung alert dan mengantongi ponselnya.

"Kita ganti nama jadi Pengabdi Lambe Turah aja mau nggak? Kayaknya udah cocok," cibir Wigra disambut tawa meriah Kandi. Padahal kayaknya dari tadi pas Wigra dateng mukanya surem bener.

Irgi geleng-geleng kepala. "Udahlah, kita latian aja yuk, daripada obrolannya makin nggak mutu," ajaknya.

"Eh, bentar, katanya lo mau ngomong soal audisi-audisi gitu?" tanya Garin. "Oh iya, sori, lupa. Kemarin ada yang ngontak gue. Dari radio," kata Irgi.

"Radio kampus?" tanya gue refleks. Irgi nyengir. "Sayangnya bukan, Cak," jawabnya, lalu menyebutkan stasiun radio yang cukup terkenal di regional ini.

"Jadi, mereka tuh ngadain acara ulang tahun gitu, trus ya ada panggung musiknya. Dan kita diundang buat audisi," tutur Irgi.

"Acaranya kapan?"

"Januari akhir. Audisinya awal Desember," jawab Irgi, lalu menatap gue, Garin, Kandi, dan Wigra bergantian.

"Ya udah, gue sih selalu ayok aja kalo gini," kata Wigra. Garin manggut-manggut semangat di sebelahnya.

"Bener?"

"Bentar," gue menyela. "Emang ada apa?" gue merasa harus menanyakan ini karena entah kenapa Irgi terlihat ragu-ragu. Padahal ini bukan pertama kali The Eyeless Pandora dapet undangan audisi atau ngisi gig.

Irgi berdehem.

"Gini. Kita kan belakangan lagi sibuk sama kuliah masing-masing. Banyak tugas, kuis, presentasi, ada yang masih mentoring, ada yang jadi mentor... ya gitulah," kata Irgi.

Ada benernya sih. Sejak manggung di Bloody Mary, kami baru tiga kali latihan buat event di fakultas sebelah November nanti.

"Gue bisa aja nanyain ini di grup dari semalem. Cuma kayaknya lebih enak kalo ngomongin langsung, kira-kira gimana? Kalian udah pada selow belom? Karena artinya kita bakal latian buat event November sama audisi ini," kata Irgi.

Kami semua terdiam. Lalu liat-liatan.

"Ehem, gue sih minggu depan lowong," kata Garin. "Paling cuma disuruh main badminton doang buat Olimpus, tapi bisalah gue atur. Masih lama ini," jawabnya.

By the way, Olimpus itu singkatan Olimpiade Kampus, alias turnamen olahraga di fakultas gue. Entah siapa yang namain, tapi bolehlah idenya.

"Gue jadi PJ Olimpus buat jurusan gue. Tapi itu kan baru pertengahan Desember, jadi mestinya nggak masalah. Gue bisa fokus di The Eyeless Pandora dulu," kata Kandi.

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang