Ad Meliora (post-credit scene)

1.2K 287 21
                                        

1 Januari 2018, siang, di kamar Garin

Gue tersenyum memandang wajah di layar laptop gue.

There she was, with all her glory. "Happy new year, Rin," katanya.

"Happy new year, Dinda," gue menjawab. "New Year's Eve di sana ngapain?"

Dia mengangkat bahu. "Cuma jalan-jalan sama temen, ikutan countdown, trus balik. Nggak seru banget, hahaha..."

"Well, that's better than mine. Gue ketiduran sebelum countdown,"

"Ouch,"

"I know," gue nyengir. "Gimana? Masih kangen soto ayam?"

"Banget. Masih 10 hari lagi nih sampe bisa makan soto," jawabnya. "Sabar lah. Nggak berasa itu," kata gue.

"Sok tau," dia pura-pura merengut. "Ya nanti kalo lo balik gue temenin deh makan soto. Gimana?" tanya gue.

"Di mana?"

"Ya terserah lo sukanya di mana. Preferably di Selatan, biar deket,"

"Ya udah. Bener ya?"

"You can have my word," kata gue. Dia mengangguk.

Seperti janji gue, kami hanya bisa Skype-an ketika waktunya memungkinkan. Ini aja baru sesi Skype ketiga kami sejak dia berangkat.

Untungnya gue masih sempet ketemu beberapa kali sama dia di kampus sebelum Dinda pergi.

Walau ya, risikonya, gue harus kena ledekan anak-anak The Eyeless Pandora. Apalagi pas Irgi baru ngeh kalo Dinda-lah cewek yang dia liat sama gue di mall waktu itu.

"Lama-lama gue minta panitia nyediain LO cowok aja buat kita," katanya setelah puas ngetawain gue.

Yeah, yeah, suit yourself, Gi.

"Eh Din," kata gue. "Dosen gue bales email gue lho," gue mencetus.

"Oh ya? Trus gimana?"

"He basically approved me to be his mentee. Tinggal doain aja nilai gue bagus, biar bisa ikut seminar,"

"Eh beneran? Berarti lo bisa skripsian kan?" gue mengangguk sambil tertawa. Kenapa malah dia yang lebih girang sih? "Iya. Please wish me luck,"

"Pasti, Rin," dia tersenyum. "Nanti kalo gue pulang, kita makan-makannya sekalian buat merayakan kabar ini ya,"

"I got better idea," jawab gue. "Let's make it a date. Gimana?"

Gue bisa melihat Dinda terdiam. Nekat, emang. But like I said, I got nothing to lose.

Or so I believed.

Dinda menahan napas. Gue juga diem-diem nahan napas. Mendadak deg-degan.

"Oke. A date, then,"

"Deal."

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang