there is nothing new about us,
though sometimes I wish
there were another scenario
in which I don't need to send you away.
your hands will be wrapped in mine
and I'd have every chance in the world
to look at you with my own two eyes
rather than through the laptop screen
we shall fight over what pizza topping to have
and not you nagging about how little I eat
you will hear my symphonies and melodies
and not me discussing about it
can there be any possibilities
to appreciate the greatness of you
without you having to be
miles away from me?
(A Different Play - March 24, 2018)
***
Langit menjawil gue. "Ndi, kamu masih mau nggak?" tanyanya ragu-ragu. "Hmm?" gue mengalihkan pandangan dari film yang sedang kami tonton.
"Abisin aja, Nggit," jawab gue, lalu kembali fokus ke layar.
Dia mengambil potongan terakhir pizza di kotak di hadapan kami sebelum lanjut nonton.
Kebiasaan gue dan Langit kalo lagi ketemu dan ternyata sama-sama males keluar ya kayak gini.
Gue ke rumahnya, trus kami pesen pizza atau cemilan atau apapun, duduk di lantai ruang televisi beralaskan karpet dan bantal, trus nonton film di Netflix atau stok di hard disk-nya.
Dibanding gue yang wawasan filmnya so-so, Langit tipe penonton yang merhatiin sinopsis dan pemainnya.
Bahkan dia selalu usahain nonton film-film yang masuk nominasi Oscar. Makanya dia ikutan komunitas film di kampusnya.
Kayak sekarang nih, ketika kami nonton film yang kata Langit sih filmnya dapet pujian di mana-mana, jadi dia penasaran. Bisa buat didiskusiin sama temen-temen komunitasnya juga.
"Suka nggak filmnya?" tanya Langit ketika filmnya kelar. "Suka-suka aja sih. Tapi aku paling seneng sama musiknya," jawab gue.
Langit tersenyum. "Udah aku duga kamu bakal bilang gitu,"
"Kenapa?"
"Soalnya emang scoring film ini juga banyak yang muji. Apalagi yang bikin juga udah terkenal gitu reputasinya,"
"Siapa emang?"
"Alexandre Desplat," jawab Langit.
"Siapa?"
"Alexandre Desplat. Kayaknya ada deh di Spotify," tanpa berkata apa-apa, gue langsung buka aplikasi pemutar musik itu di ponsel dan mengetik nama yang disebut Langit.
Ternyata emang albumnya beneran ada. Bisa lah gue dengerin deket-deket tidur.
"Eh tapi," cetus gue saat menatap Langit. "Aku masih kepikiran sama judul filmnya, Nggit,"
"Kenapa?"
"Judulnya kan The Shape of Water. Padahal bentuk air kan ngikutin wadahnya. Aku jadi kepikiran korelasi judul sama ceritanya," ujar gue. Langit membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot, lalu tampak berpikir-pikir.
"Kalo menurut kamu itu gimana?"
"Aku sih keinget yang dikasih tau Elisa ke tetangganya soal gimana makhluk itu nggak memandang faktor bisunya dia sebagai kekurangan dan itu bikin dia bahagia. Aku jadi mikir, ya bentuk kebahagiaan orang beda-beda, sama kayak bentuk air yang ngikutin wadahnya. Kebahagiaan Elisa ya nemu sosok yang bisa terima dia dengan kekurangan dia itu," tutur gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
NouvellesLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
