PSA: mengingat berita duka yang minggu lalu sama-sama kita dengar, saya sebagai author The Eyeless Pandora merasa perlu memasang trigger warning di chapter kali ini.
Kalau kalian merasa nggak nyaman dengan setting rumah sakit atau topik soal orang sakit, ada baiknya menyikapi chapter ini dengan bijaksana. Terima kasih.
***
Present day
Bau rumah sakit tetap menusuk hidung gue, meski gue sudah bolak-balik tempat ini sejak empat hari belakangan.
Dan lagi-lagi gue masih menahan napas supaya tidak perlu menciumnya lebih lama.
Beberapa aroma mungkin diciptakan untuk tidak disukai, seberapa pun seringnya kita menciumnya.
Kaki gue melangkah menuju kamar Papa. Seperti empat hari sebelumnya, cuma ada Mama dan Mbak Tin.
"Ma," gue menghampiri Mama yang berjaga di sebelah Papa. "Baru sampe? Kok cepet pulangnya?" tanya Mama.
"Iya, Ma. Tadi kan UAS, jadi pulangnya cepet,"
"Oh iya ya..." Mama manggut-manggut sekilas, tetapi matanya langsung kembali terfokus ke Papa. Mau tidak mau gue menatap Papa yang masih terbaring.
"Gimana Papa, Ma?" tanya gue. "Ya tadi sempet bangun sebentar, tapi ya... habis itu begini lagi..." jawab Mama.
Gue menyesal menanyakan itu ke Mama. Sekarang, mata Mama jadi berkaca-kaca lagi. Gue merengkuh tangan Mama.
"Ma, Mama udah makan belum? Mama istirahat aja ya, gantian sama Kandi jagain Papa," kata gue.
"Jangan, nggak usah. Nanti Papa kamu butuh apa-apa..." kata Mama, lalu mengerjap menatap gue.
"Kamu... kamu pergilah. Beli makan atau... kamu bukannya ada latihan?"
Gue menghela napas. "Latihannya udah minggu lalu, Ma," jawab gue. Tenggorokan gue seperti tercekat melihat Mama.
"Oh iya ya. Maaf, Mama lupa," jawab Mama. Gue justru takjub kalo ternyata Mama ingat.
Mendadak kamar ini terasa sesak. Gue pun pamit ke luar dengan dalih mau beli minum.
Gue sedang berpikir untuk menghubungi Langit ketika gue menyadari notifikasi yang muncul di ponsel gue. Tapi itu bukan dari Langit.
The Eyeless Pandora
Irgi
Gengs
Udah sampe di rumah/kosan masing-masing belom?
Cakra
Udah
Garin
Baru aja
Wigra
Gue juga baru nyampe
Kenapa Gi?
Irgi
Bentar, gue japri aja ya.
Kandi gimana?
Pesannya masuk 10 menit lalu. Gue kayaknya masih di ojek pas Irgi ngirim pesan ini.
Kandi
Gi
Sori gue baru sampe RS
Kenapa?
Irgi
Selow
Nggak apa-apa nih gue telpon?
Kandi
Santai.
Yeah. Padahal perasaan gue nggak enak. Tumben banget Irgi sampe harus ngehubungin satu-satu personel The Eyeless Pandora.
Gue belum sempat menebak-nebak ketika nama Irgi muncul di layar ponsel.
"Halo, Gi," gue langsung menjawab panggilannya. "Hai, Ndi. Lo lagi di rumah sakit ya?" tanya Irgi tanpa tedeng aling-aling.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
Cerita PendekLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
