Ad Meliora (part 4)

1.5K 283 57
                                        

Beberapa hari setelah latihan

Gue menatap teman-teman sekelas gue dan Bu Kintan bergantian. Beberapa dari mereka masih sibuk baca slide gue, sementara ada beberapa yang nyatet, ada juga yang kayaknya udah nyerah dan cuma duduk diem setengah bengong.

"Teman-teman ada pertanyaan atau pendapat lain mungkin? Atau Bu Kintan?" gue menatap dosen gue tersebut.

Tika mengangkat tangan. "Mungkin cuma usul aja, Rin, sebenernya permasalahan sama teorinya udah menarik. Cuma kayaknya pendahuluannya terlalu ribet. Mungkin bisa disederhanakan aja penjabaran teorinya," kata Tika.

"Noted. Makasih," gue mencatat usulannya.

Gue mengajukan diri untuk maju presentasiin draft Bab I gue di mata kuliah ini.

Sistem di kelas kami memang kayak gini; ada yang maju presentasi, trus diskusi. Nantinya sih, tugas akhirnya berupa rancangan proposal penelitian dan draft Bab I.

Masalah draft itu mau diajukan buat skripsi beneran atau nggak, itu urusan belakangan.

Gue tau gue nekat sih, tapi tetep ngajuin diri buat maju. "Ada lagi?" tanya Bu Kintan. Sebagian besar warga kelas menggeleng.

"Oke, kalo nggak ada, boleh gantian saya ya, Rin, yang ngomong?"

"Silakan, Bu," jawab gue. Bu Kintan tersenyum sejenak. "Selain saran dari Tika, kalo kamu memang mau ngajuin ini jadi proposal skripsi kamu, kayaknya nggak ada masalah kok, Rin."

Heck yeah.

"Tapi siap kan kerja keras?"

"Siap, Bu."

Gue masih setengah nggak percaya dengan ucapan Bu Kintan ketika membereskan buku-buku gue.

"Rin," Ananta mencolek gue. "Kertas lo jatoh-jatohan tuh,"

"Hah? Oh iya, thanks Ta," gue memungut kertas catatan tutorial gue bersama Mas Teguh kemarin.

"Lo ikut ke kantin nggak Rin? Abis ini kayaknya pada mau ngomongin buat Olimpus," tanya Ananta. "Yah, gue latian buat minggu depan, Ta. Kabarin aja hasilnya ya. I'm ready to be a back-up player buat basket," jawab gue sambil mencangklong tas.

"Oh, ya udah. Anjir, udah tinggal minggu depan ya lo manggung di sebelah?"

"Iya. Dateng kan?"

"Dateng lah, pasti, sesama calon anak bimbingan Pak Simon, hahaha..."

"That's the spirit!" seru gue saat kami berjalan bersisian.

"Pastinya. Eh gue ke kantin ya. Nanti gue WA lo deh hasil ketemuannya gimana ya. See you!"

"Alrighty," gue melanjutkan perjalanan sambil ngecek isi grup WA. Baru ada Kandi yang ngabarin kalo dia sama Wigra lagi on the way ke studio.

"Bareng bisa kali," gue langsung mendengus begitu ngeliat pemilik suara itu. "Baru kelar kelas lo?" tanya gue sementara Cakra berjalan di sebelah gue.

"Nggak, tadi gue ke perpus bentar, trus ketemu Sekar di Gedung D sebelum dia cabut,"

"Nggak dianterin?"

"Dia mau ke tempat temennya dulu," jawabnya santai. "Lo nggak ada tutorial hari ini?"

"Udah kemarin, Cak. Nih makanya kertas gue banyak gini,"

"Yang betah ya. Biar The Eyeless Pandora punya satu sarjana dulu, yang lain nyusul, hahaha..."

I snorted again. "Gila, pressure gue gede amat ya,"

"Nah, kidding. Take your time, Rin,"

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang