Untuk pertama kalinya, gue tidak senang ketika sudah berada di kamar. Gue cuma ingin kembali ke rumah sakit bersama Mama dan Kak Widi.
Tapi nggak ada yang bisa gue lakukan, kecuali mandi dan ganti baju, lalu meraih ponsel gue yang sedang di-charge. Jam 9 malam.
Kandi
Gi, masih melek nggak?
Irgi
Oi, Ndi. Masih kok
Ini gue baru mau cabut dari kosan temen abis nugas
Kenapa?
Kandi
Kalo gue telpon ganggu nggak nih kira-kira?
Irgi
Santai, Ndi. Silakan.
Gue langsung men-dial nomor gitaris The Eyeless Pandora itu. "Ya, Ndi," kata Irgi setelah menjawab panggilan gue.
"Oi, Gi. Masih nugas aja lo jam segini," kata gue. Irgi tertawa. "Iya, tadi abis latian langsung cabut ke tempat temen gue," jawabnya.
"Latian sampe jam berapa tadi?"
"Ya kayak kesepakatan awal, setengah jam lebih lama dari biasanya,"
Gue menggaruk ubun-ubun yang sebenernya nggak gatel. "Sori banget ya soal yang tadi. Padahal ini latihan terak..."
"Ndi," Irgi memotong sebelum gue sempat menyelesaikan kalimat. "Kalo kita maksain lo latian, itu namanya kita semua kurang ajar," jawabnya.
Sesaat tidak ada yang bicara di antara kami.
"Irgi," kata gue kemudian. "Audisi kita tetep jadi?"
"Jadi kok,"
"Jadwalnya masih sama?"
"Hmm... sampe saat ini sih nggak ada perubahan," jawabnya lagi. "Tapi, Ndi, kalo misalnya lo butuh jadwalnya diganti atau..." Irgi tidak jadi meneruskan kalimatnya.
"Atau...?"
Dia berdehem. "Gini, tadi gue sama anak-anak sempet diskusi. Kalau misalnya lo ternyata..." lagi-lagi Irgi terdiam. "Ternyata nggak bisa, kita bisa omongin kok," lanjutnya.
"Gi, tapi gue nelpon lo bukan buat ngomong itu," gue cepat-cepat mengatakannya.
"Eh gimana?"
Gue menghela napas lagi, tapi gue cukup yakin dengan apa yang gue katakan. "Gue akan tetap ikut audisi kita."
***
Kurang lebih dua jam sebelumnya...
Kak Widi menatap gue. "Lo yakin mau ngebatalin audisi lo? Temen-temen lo gimana?" tanyanya. Gue mengangkat bahu.
"Gue yakin mereka pasti ngerti, Kak," jawab gue.
Gue belum ngomongin sama Garin, Irgi, Cakra, dan Wigra soal ini. Tapi gue tau mereka akan terima keputusan gue.
Gue juga yakin mereka bisa jalanin audisi itu tanpa gue.
"Ndi," Kak Widi mencengkeram bahu gue. "Lo tau kan Papa sakit bukan karena lo?" tanyanya nyaris berbisik. Gue tidak sanggup menjawab.
Kalo ternyata iya, gimana, Kak?
"Lo nggak perlu ngehukum diri lo sendiri. Papa pasti ngerti," katanya.
"Kakak tau dari mana?" kali ini, gue tidak bisa menahan lidah gue.
"Gue nggak pernah mendapat kesan kalo Papa ngertiin gue, sejak gue gagal masuk jurusan yang dia pengen," kata gue akhirnya.
Kak Widi menghela napas, lalu mengusap pelan kepala gue. "Ndi, udah ya. Itu bukan salah elo. Papa juga pasti ngerti kok," katanya, gagal menahan setitik air mata turun ke pipi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
Cerita PendekLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
