Carpe noctem: seize the night
Wigra menghabiskan sisa teh manisnya sebelum mengelap bibir dengan tangan. "Ngelapnya pake tisu boleh lho, Gra," Irgi langsung menyodorkan sekotak tisu untuk drummer The Eyeless Pandora itu.
"Eh iya, hehehehe..." kalo udah Irgi si neat freak yang ngomong, mending nggak usah dibantah deh. Di seberang ruangan, Garin beserdawa pelan.
"Gorengannya enak juga ya ternyata. Ngenyangin," katanya. Meski nggak berpuasa, Garin tetap memilih ikut nggak makan selama mereka latihan tadi.
Katanya sih nggak enak kalo abis latihan dia makan sendiri, sementara Irgi, Kandi, dan Wigra harus menunggu adzan Maghrib.
Ya, suka-suka Garin aja sih.
Sementara Cakra, yang juga tidak menjalankan ibadah puasa, tumben-tumbennya malas makan. Malah duduk di depan pintu kosan Irgi sambil memetik senar gitar Atom, gitar akustik Irgi.
"Cak, di sini aja kenapa sih?" Kandi memanggilnya. "Kata nenek gue, kalo duduk depan pintu tuh...." mendadak dia berhenti sejenak karena Cakra meliriknya.
"Kenapa?" tanya Garin. "Nanti dinyamukin," jawab Kandi sekenanya sebelum keluar ruangan menenteng ponselnya.
Sebenernya sih bukan itu maksud dia. Cuma kok nggak tega liat muka Cakra yang ditekuk terus-terusan. Tanpa diberitahu pun, Garin, Irgi, Kandi, dan Wigra bisa menebak sendiri kenapa Cakra banyak diam, kecuali di sesi latihan.
Waktu buka puasa di kos-kosan Irgi, ya begitu itu. Diem aja.
"Udah, Cak, dengerin kata Kandi. Susah hari ini dilanjut besok aja, eh maksudnya jangan dibawa... what's the word... jangan dibawa berkepanjangan," Garin ikut membujuknya.
Cakra tertawa kalem sebelum akhirnya mengalah dan bergabung dengan para personel The Eyeless Pandora. "Masih ada gorengan nggak?" tanyanya.
"Tuh masih ada satu bakwan," jawab Irgi seraya menerima Atom dari Cakra dan langsung meletakkannya di dekat tempat tidur. Baru dua suapan bakwan, Cakra langsung mencetus lagi.
"Baru kerasa lapernya sekarang,"
"Nah, kan!" seru Irgi. "Beli makan lah, yuk!" ajaknya. Perhatian mereka teralih ke Kandi yang kembali masuk kamar Irgi dengan memegang ponsel di depan muka selayaknya orang lagi selfie.
Ngapain lagi kalo bukan lagi video call sama Langit.
"Sori, sori, ternyata sinyalnya kencengan di kamar Irgi, hahaha..." kata Kandi, lalu berdiri membelakangi keempat temannya. "Gengs, dicari Langit nih. Katanya kapan The Eyeless Pandora ke Jogja?"
Spontan, Garin, Irgi, Cakra, dan Wigra melambai dari kejauhan. "Hai, Langit. Kapan ke sini lagi bawa bakpia?" tanya Wigra.
"Eh, Nggit, kampus lo suruh undang kita lah kalo libur! Kapan lagi main ke Jogja, hahaha..." Garin menimpali, disambut tawa pelan Langit. "Ya, nanti ya, Mas, aku bilangin. Khawatir kalian keburu jadi artis," kata Langit.
"Hahahaha, jadi artis masa, gue aminin aja deh," Irgi tertawa geli. "Ngomong-ngomong, Nggit, bilangin dong sama Kandi. Gue jangan dikatain mirip beruang mulu. Beruang mana ada yang seganteng gue," lanjutnya disambut koor "huuuu" dari Garin dan Cakra.
Kandi hanya bisa rolling eyes sebelum kembali memusatkan perhatian ke Langit yang masih sibuk menertawakan komplain Irgi. "Ya udah, Nggit, ini kamu abis ini nggak ke mana-mana kan?"
"Nggak kok. Kamu nanti kabarin aja kalo udah di rumah,"
"Beres. Sukses besok presentasinya ya. See you,"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
Short StoryLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
