Menanti Langit

3.6K 492 63
                                        

Dosen kelas penulisan populer gue pernah bilang, kalo mau cari prompt atau ide untuk nulis, datanglah ke tempat-tempat seperti bandara, stasiun kereta api, atau pelabuhan.

"Setiap perjumpaan dan perpisahan yang kalian lihat di sana bisa jadi ide untuk bikin cerita," kata dosen gue.

Dia memberikan beberapa contoh: anak yang harus meninggalkan orangtuanya untuk studi ke luar negeri, istri yang datang menjemput suaminya dari dinas, sampai pria yang menjemput pasangan selingkuhannya sembari berbohong ke istri sahnya.

Masuk akal sih kata-kata dosen gue itu. Namun, tujuan gue duduk menunggu di kedai kopi di terminal 1C ini bukan buat nyari ide untuk nulis di kelas yang udah gue ikuti semester lalu itu.

Gue membaca lagi isi pesan Langit satu jam lalu. Aku udah boarding ya. Sampe ketemu di Jakarta, tulisnya.

Kalau semua memungkinkan, penantian gue akan selesai dalam hitungan menit.

***

Beberapa pekan sebelumnya...

Biasanya gue selalu senang menghabiskan waktu bersama personel The Eyeless Pandora sehabis latihan. Entah itu nongkrong di kosan Irgi atau Cakra sambil ngulik lagu, atau cari makan di sekitar kampus.

Namun, kali ini beda. Meski diwarnai protes dan pertanyaan kepo Garin, Irgi, Cakra, dan Wigra, gue langsung meluncur ke stasiun kereta dan pulang.

"Ah, Kandi berubah. Kecewa gue," Irgi mendecakkan lidah sembari geleng-geleng saat melihat gue membereskan tas. Gue tertawa. "Nggak usah posesif gitu. Kalo kangen tinggal WhatsApp," jawab gue sekenanya.

"Amit-amit," Irgi balas mencibir. "Lagian elo. Udah ah, gue balik ya," gue melambaikan tangan saat meninggalkan studio tempat kami latihan.

Bukan tanpa alasan gue cepat-cepat pulang. Ada agenda penting yang harus gue lakukan. Tentunya sembari berharap kereta nggak terlambat dan koneksi internet memadai.

Rupanya harapan gue didengar. Bukan cuma KRL dateng on-time (walau tetep harus berdiri sepanjang perjalanan), koneksi internet di rumah tumben banget nggak moody dan memungkinkan untuk gue bisa buka Google Hangout tanpa hambatan.

Tinggal nunggu aja nih orang yang mau diajak ngobrol... nah, tuh orangnya muncul, lagi ngeliatin gue dari lensa kamera laptopnya.

"Hai, Arkandi," dia melambaikan tangan dan gue tidak bisa menahan senyum.

"Halo, Langit. Kamu lagi di mana?" gue balas melambaikan tangan.

Rambut Langit diikat kucir kuda, sementara kacamata minusnya--yang bukannya dipake--malah bertengger di puncak kepalanya. Ah, cantiknya.

"Aku lagi di tempat ngopi deket kampus. Tadi abis nongkrong sekalian beresin tugas. Kamu udah di rumah ya?" jawabnya. Gue mengangguk.

Sejak 1,5 tahun belakangan, kami memang harus puas lebih banyak ngobrol lewat Hangout dan telepon. Semua karena tuntutan jarak.

Pasalnya, gue diterima kuliah di universitas negeri di salah satu daerah penyangga Jakarta, sementara Langit diterima di universitas unggulan di Jogjakarta.

Seperti layaknya sesi Hangout kami di bulan-bulan lalu, kami bertukar cerita; tentang hidup sehari-hari dan kegiatan di kampus, itu pasti.

Gue juga cerita soal The Eyeless Pandora, mulai dari nge-gig di fakultas tetangga sampe soal keyboard gue yang melorot pas lagi manggung di acara kampus lain bulan lalu.

Kalau Langit, biasanya dia akan cerita soal kegiatan di himpunan mahasiswa kampus.

Mulai dari ikut karena dibujuk sama seniornya, kemudian urunan bikin program kerja selama setahun ke depan buat HMJ, sampe bela-belain keliling kampus buat jualan puding bareng temen-temennya demi nyari dana.

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang