Ad Meliora (part 3.2)

1.5K 285 23
                                        

Why did I ask her if she trust me, you wonder?

Well, karena kalo nggak, kami berdua bakalan either: 1. masih terjebak di kantin kampus, 2. mesti bayar mahal banget untuk naik taksi online ke rumah masing-masing.

Jadilah kami berdua di kursi belakang mobil yang akan mengantar kami ke rumah masing-masing.

Akhirnya gue kepikiran jalan tengah: kami pulang naik mobil yang sama. Patungan, lengkap sama duit tolnya.

Apalagi, rumah dia di Fatmawati dengan rumah gue hitungannya masih searah.

So yeah, let's call it force majeure, shall we?

Dan Dinda juga nggak langsung setuju. "Hah? Gimana maksudnya?" tanya Dinda ketika gue propose ide itu.

"Ya ternyata rumah lo sama gue searah, gue rasa tarifnya bakal sama aja. Daripada kita sama-sama bangkrut mendadak, mending patungan," kata gue.

"Eh, tapi kalo lo nggak sreg bareng orang yang nggak terlalu lo kenal juga nggak apa-apa kok. It was just a suggestion," gue buru-buru menambahkan.

It wasn't like I could blame her if she said no, was it?

"Duh gimana ya, Rin..." dia menatap arloji di tangan. "Besok tuh gue ada kuis juga jam 9. Belom belajar pula," dia menggigit bibir, lalu melirik gue. I could feel her thinking hard if it was okay to approve my suggestion.

"Ya udah," kata Dinda akhirnya. "Tapi gue yang turun duluan ya?"

"Oke, nggak masalah. Pake apps lo aja kalo lo ngerasa lebih nyaman," gue menyilakan. Setelah empat kali ditolak dan harus pake pancingan tip, baru deh kami bisa duduk dan menikmati kemacetan menuju perjalanan pulang.

Samar-samar, dari radio mobil ini mengalun suara Paul McCartney.

"The long and winding road/That leads to your door/Will never disappear/I've seen that road before..."

It has always been a beautiful song, but I couldn't help but chuckle listening to it right now. "Kenapa, Rin?" Dinda menengok dari kesibukannya ngeliatin jalanan dari jendela.

"Nah, gue cuma ngerasa kok judul lagunya pas banget sama situasi sekarang. You know, the long and winding road, dan kita juga lagi on our way home that will take long time..." jawab gue.

Dinda ikut tertawa. "That was a terrific pun, Rin, I'd give you that," katanya sambil geleng-geleng kepala.

"Welp, I was trying to brighten up the mood," gue mengangkat bahu.

"Ngomong-ngomong, kemarin lo sama Mas Irgi liat studio bandnya gimana?"

"Pas kita cek sih nggak ada masalah. It was pretty neat and sufficient. Thanks ya, kemarin udah ngeladenin gue sama Irgi nanya banyak banget,"

"Ya, namanya juga LO. Kalian besok latian jam berapa, ngomong-ngomong?"

"Jam 3-an. Paling sih latian sekitar 1,5 jam gitu. Lo bakal nemenin?"

"Iya, paling buat koordinasi sama bapak yang jaga studionya," obrolan kami terputus ketika ponsel Dinda berbunyi.

Gue ganti menatap ke luar jendela sementara Dinda bercakap-cakap dengan siapapun yang menghubunginya. Tepatnya, ke arah kemacetan yang entah sudah berapa lama berlangsung.

Ini bukan pertama kali gue terjebak kemacetan. Sometimes I wondered how I survived this city after all. Maybe I've gotten used to it, who knows?

"Sori, Rin, kakak gue nelpon," Dinda membuyarkan lamunan gue, lalu ikut mengamati jalanan. "Buset, macetnya belum ada tanda-tanda selesai ya,"

Suara tawa dari kursi kemudi membuat kami menengok. "Kalo hujan begini sih nggak ada harapan, Mbak," kata pengemudi mobil kami.

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang